Sidang Umum Majelis Antar Parlemen ASEAN ke 46

Parlemen ASEAN di Garis Depan Pertumbuhan Inklusif dan Berkelanjutan

| dilihat 788

KUALA LUMPUR | Perdana Menteri X Malaysia Anwar Ibrahim membuka Sidang Umum Majelis Antar Parlemen ASEAN (AIPA) ke 46 di World Trade Centre, Kuala Lumpur, Malaysia (Kamis, 18/9/25) yang berlangsung sampai 25 September 2025.

Parlemen Malaysia sebagai tuan rumah pertemuan tersebut berupaya keras mewujudkan , "Parlemen di Garis Depan untuk Pertumbuhan Inklusif dan ASEAN yang Berkelanjutan."

Sidang Umum AIPA ke 46, ini mempertemukan para Ketua dan Anggota Parlemen dari sembilan parlemen negara-negara anggota ASEAN, 15 parlemen pengamat, 6 mitra pembangunan, dan 5 parlemen negara tamu.

Pada kesempatan tersebut, secara tersirat dan tersurat, Anwar Ibrahim memandang, satu hal yang harus dipujinya, di ASEAN "Kita terus maju dalam musyawarah kita." Selanjutnya Anwar Ibrahim berterima kasih kepada para pemimpin ASEAN (Sultan, Presiden, Perdana Menteri) karena telah mengizinkan forum ini untuk benar-benar terbuka dan bertukar pendapat dengan cara yang sangat jujur ??dan bersahabat.

"Kita membahas isu-isu tanpa mempertimbangkan apa yang sangat sensitif satu sama lain, dan kita berbicara tentang inklusivitas," ujarnya.

Ya, menurut Anwar, inklusivitas berarti para pimpinan dan anggota parlemen tidak hanya mewakili elit. "Kita mewakili bangsa, yaitu mereka yang paling terpinggirkan, baik itu kaum miskin perkotaan maupun mereka yang berada di jantung pedesaan, baik kepentingan mayoritas maupun minoritas,.. khususnya perempuan dan pemuda."

Anwar mengingatkan, "Jalan masih panjang, tetapi setidaknya ada beberapa keberhasilan luar biasa,..  karena konsensus di ASEAN."

Sebagai Ketua presidensi ASEAN 2025, Anwar mengungkap, "Prioritas kami tentu saja pembangunan ekonomi, investasi baru, kita memiliki investasi besar dari Amerika Serikat dan Eropa, kita telah meningkatkan investasi dari Tiongkok, India, dan negara-negara lain, dan itu tidak mudah untuk dinavigasi, tetapi kita dapat mengelolanya karena kita bertindak bersama."

Ungkapan Anwar Ibrahim selaras dengan hakikat sesi Sidang Umum AIPA ke 46 sebagai platform utama untuk membahas isu-isu regional, termasuk inklusi sosial, keberlanjutan lingkungan, ketahanan pangan, transformasi digital, dan penguatan demokrasi.

Akuntabilitas Demokrasi

Di bagian lain pidatonya, Anwar Ibrahim memberi aksentuasi pada penguatan demokrasi. Dikatakannya, bagi Malaysia, menjadi tuan rumah Sidang Umum AIPA ke 46, ini merupakan kehormatan yang sangat besar.

 "Untuk memberi makna pada apa yang kami anggap sebagai akuntabilitas demokratis adalah dengan memungkinkan adanya wacana yang masuk akal di parlemen kita, dan itu berarti memiliki ketua dan anggota parlemen yang sangat berfungsi, kritis, dan kompeten di majelis nasional atau lokal."

Dengan akuntabilitas demokratis, ungkap Anwar, memungkinkan pertukaran dan wacana yang sehat, forum, komite, dan tentu saja majelis, tetapi di parlemen akan berfokus pada pembangunan nasional dan kesejahteraan rakyat.

Presiden IAPA / Ketua parlemen Malaysia, Tan Sri Johari Abdul mengemukakan, kepemimpinan ganda Malaysia sebagai Ketua ASEAN dan Presiden AIPA menunjukkan sinergi antara cabang eksekutif (ASEAN) dan legislatif (AIPA) dalam mencapai tujuan bersama yang sejalan dengan Visi ASEAN 2045: Masa Depan Kita Bersama, sekaligus mewujudkan tema besar ASEAN 2025 'Inklusivitas dan Keberlanjutan.'

Di bagian lain sambutannya, Tan Sri Johari Abdul menyinggung ihwal diplomasi parlemen. Ia mengemukakan, diplomasi parlemen bukanlah upaya yang terisolasi, melainkan komponen penting dalam menciptakan solusi baru bagi kemakmuran dan perdamaian regional.

Saat ini, menurutnya, Kuala Lumpur tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah majelis, karena event tersebut, juga menjadi panggung yang dibangun oleh keinginan rakyat akan perdamaian, stabilitas, serta kehidupan ekonomi dan sosial budaya di kawasan ini.

Dengan menyelaraskan legislasi nasional dengan kerangka kerja regional ASEAN, kita mewujudkan aspirasi kita, sekaligus mengantisipasi pertumbuhan yang kuat yang diproyeksikan sebesar 4,7 persen pada tahun 2025 dan 2026.

Kebutuhan akan kepemimpinan legislatif semakin jelas, baik dalam perdagangan digital, keuangan berkelanjutan, teknologi hijau, ketahanan pangan, aksi iklim, maupun perlindungan sosial.

"Hal-hal ini tidak akan terwujud hanya dengan janji, dan membutuhkan kerangka hukum yang mendorong inovasi sekaligus melindungi rakyat kita. Oleh karena itu, pertemuan ini melampaui pertemuan para anggota parlemen dan pemerintah," ungkap Johari.

Bukan Hanya Pembuat Undang Undang

Dikemukakannya, Sidang Umum IAPA ke 46, ini juga merupakan pengakuan atas kekuatan dan kebijaksanaan warga negara kita yang suaranya membentuk masa depan kita bersama.

"Aspirasi mereka akan martabat, keamanan, inklusivitas, dan kesempatan harus menjadi landasan setiap undang-undang yang kita sahkan dan setiap kebijakan yang kita perjuangkan," jelas Johari.

Ditegaskannya, "Kita bukan hanya pembuat undang-undang. Kita adalah pembangun jembatan yang dipercaya untuk membentuk perdamaian, stabilitas, dan kemajuan inklusif di seluruh Asia Tenggara."

Dikemukakan pula, kepemimpinan parlemen adalah memastikan bahwa resolusi tumbuh dari dialog dan partisipasi sejati. Perdamaian harus berlandaskan keadilan, inklusi, dan tata kelola yang menerima suara semua pihak.

Menatap visi komunitas ASEAN 2045, parlemen juga harus memperkuat hubungan antara AIPA dan lembaga-lembaga ASEAN serta dengan mitra eksternalnya. Melalui keterlibatan yang lebih mendalam, kita dapat mengubah visi bersama kita menjadi kenyataan bersama.

Aset terbesar kawasan Asia Tenggara bukanlah sumber daya alam atau lokasi strategisnya, melainkan 700 juta suara yang masing-masing menyuarakan masa depan ASEAN. Dividen demografi ini merupakan anugerah.

"Namun, bukan hanya jika kita berinvestasi dalam membangun kompetensi yang tepat untuk kepemimpinan masa depan. Kita harus memastikan investasi dalam sumber daya manusia ini diterjemahkan menjadi peluang nyata, kerangka kerja yang memungkinkan bakat untuk bergerak bebas lintas batas," ungkapnya.

Kualifikasi yang diakui di seluruh negara anggota dan jalur yang memberdayakan digunakan untuk berkontribusi secara bermakna bagi pertumbuhan ASEAN. Dalam konteks itu, "Kita semua untuk memperluas lingkaran partisipasi. Pemuda dan perempuan tidak boleh tetap berada di pinggiran kehidupan parlemen. Mereka berada di jantungnya."

Lima Isu Strategis

Sekretaris Jendral AIPA, Ar. Siti Rozaimeriyanty Dato Haji Abdul Rahmandalam dalam sambutannya di awal acara pembukaan Sidang Umum AIPA ke 46, ini menyampaikan rasa hormat kepada Perdana Menteri Anwar Ibrahim dengan kehadirannya membuka acara ini.

Siti mengemukakan, "Perdana Menteri, pernyataan Anda pada pertemuan antara delegasi AIPA dan para pemimpin ASEAN awal tahun ini tetap kami ingat. Anda mengingatkan kami bahwa AIPA merupakan mitra penting dalam mewujudkan aspirasi rakyat, mendorong kemajuan di tiga pilar ASEAN, dan meningkatkan kesiapan serta ketahanan kawasan kita."

Siti menegaskan,  "Hal itu bukan sekadar pernyataan, tetapi pengingat akan tanggung jawab bersama antara eksekutif dan legislatif untuk memastikan bahwa ASEAN benar-benar bekerja untuk rakyatnya."

Ia juga mengapresiasi komitmen PMX Anwar Ibrahim terhadap transparansi dan dialog terbuka, sebagaimana tercermin dalam pidato kebijakan saat Anwar Ibrahim mengunjungi Sekretariat ASEAN di Jakarta.

"Ini merupakan contoh kepemimpinan melalui keterlibatan yang langka dan kuat, menunjukkan bagaimana mendengarkan dan berbagi secara terbuka dapat menumbuhkan kepercayaan dan tujuan bersama," tegas Siti.

Dalam keseluruhan konteks penyelenggaraan Sidang Umum AIPA 2025, Presiden AIPA 2025, Tan Sri Dato' (DR) Johari Abdul, mengemukakan, "prioritas Malaysia untuk AIPA 2025 adalah memberikan penekanan khusus pada lima bidang prioritas."

Kelima bidang tersebut meliputi : Ketahanan Pangan, Perubahan Iklim, Transformasi Digital, Pembangunan Ekonomi Inklusif, dan Inklusi Sosial.

Ketahanan pangan menjadi prioritas guna memastikan pasokan yang stabil dan harga yang terkendali bagi kesejahteraan warga ASEAN.

Prioritas perubahan iklim dikemukakan dengan memperkuat aksi kolektif untuk melindungi lingkungan bagi generasi mendatang.

Akan halnya Transformasi digital diprioritaskan  untuk mempercepat integrasi teknologi guna meningkatkan daya saing dan konektivitas regional.

Sedangkan pembangunan ekonomi inklusif diprioritaskan untuk memastikan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Setarikan nafas, inklusi sosial diprioritaskan untuk memberdayakan peran kepemimpinan perempuan dan pemuda.

Forum dan Pameran

Dalam penyelenggaraan Sidang Umum AIPA 2025, ini juga digelar pertemuan bisnis dan kebijakan dalam Forum dan Pameran Now &  Future 2025.

Forum ini bertujuan untuk menghubungkan sektor swasta dengan para pembuat kebijakan ASEAN. Forum ini juga merupakan inisiatif pertama yang mempertemukan pelaku bisnis dan legislator dalam kerangka kerja AIPA.

Forum dan pameran ini menampilkan para pemimpin parlemen, menteri, perwakilan perusahaan, dan lembaga pembangunan untuk membahas esensi prioritas yang terkait langsung dengan masa depan ekonomi, keberlanjutan, digitalisasi, dan inklusi sosial.

Acara ini menggarisbawahi pendekatan Malaysia sebagai Presiden AIPA dan Ketua ASEAN pada tahun 2025. Bagi malaysia sendiri, Sidang Umum AIPA 2025 dengan seluruh agendanya, dirancang sekaligus untuk kian memperkuat posisi Malaysia sebagai gerbang regional bagi pembangunan ekonomi dan sosial.

Pada Sidang Umum AIPA 2025 ini, diundang sejumlah parlemen dari Armenia, Australia, Azerbaijan, Kanada, Tiongkok, Parlemen Eropa, Georgia, India, Jepang, Maroko, Norwegia, Rusia, Turki, dan Ukraina. Selaras dengan itu, diundang pula tamu AIPA, parlemen Aljazair, Brasil, dan Spanyol. Sebagai Tuan Rumah, Parlemen Malaysia juga mengundang parlemen Turkmenistan dan  Konferensi Pembicara Antar-Parlemen (ISC)  sebagai tamu.

Selain itu, sebagai Presiden AIPA 2025, parlemen Malaysia mengundang mitra pembangunan AIPA: Lembaga Penelitian Ekonomi untuk ASEAN dan Asia Timur (ERIA); Konferensi Internasional Partai Politik Asia (ICAPP); Parlemen Internasional untuk Toleransi dan Perdamaian (IPTP); Pusat Parlemen Asia (PCAsia); Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Penanggulangan Terorisme (UNOCT); serta Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women).

Sidang Umum AIPA 2025 juga merupakan inisiatif penting yang memetakan masa depan Asia Tenggara melalui lensa kerja sama parlemen, kemajuan berkelanjutan, dan inklusivitas.

Penyelenggaraannya dipandang penting di tengah tantangan kompleks yang dihadapi kawasan ini, mulai dari disrupsi digital dan pergeseran ekonomi, hingga ketimpangan sosial dan perubahan iklim.

Sidang Umum AIPA 2025 ini, pun berfungsi sebagai platform dinamis tempat para pembuat kebijakan, pakar industri, pemimpin pemikiran, dan penggerak perubahan bertemu guna membentuk kebijakan yang semakin memberdayakan warga ASEAN, sekaligus memperkuat ketahanan regional, dan mempersiapkan komunitas kita untuk masa depan.

Parlemen Malaysia menyambut semua pihak yang berkomitmen untuk membentuk ASEAN yang lebih kuat dan lebih inklusif. Di forum ini, secara bersama-sama seluruh komponen dan eksponen AIPA dapat memicu percakapan yang memacu tindakan, menginspirasi inovasi, dan meletakkan fondasi bagi masa depan yang bermanfaat bagi semua. | sharia

 

Editor : delanova | Sumber : ParlimenMalaysia
 
Polhukam
13 Jun 26, 06:26 WIB | Dilihat : 432
Langkah Berani Dato Onn Hafiz
08 Jun 26, 09:46 WIB | Dilihat : 323
Gelombang Biru di Negeri Johor
03 Jun 26, 10:21 WIB | Dilihat : 330
Cabaran Kewartawanan Era Baru
30 Mei 26, 04:47 WIB | Dilihat : 378
Kampanye Humor Kemerdekaan Pers
Selanjutnya
Budaya
23 Jun 26, 22:10 WIB | Dilihat : 213
Jakarta Ruang Lebih Luas Bagi Budaya dan Seni
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 478
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 506
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
Selanjutnya