
Bang Sem
SELASA (4/11) Aula Flamboyan – Markas Komando Kopassus di Cijantung, bertabur senyum dan jebat erat antara Komandan Jendral Kopassus – Mayor Jendral TNI AD Doni Munardo, wakil, dan para asistennya dengan Ketua Forum Pemred Nurjaman Mochtar, beserta sejumlah Pemimpin Redaksi media massa multi channel dan multi format.
Ada suasana yang berbeda dan langsung terasakan, baik dari tayangan Ekspedisi NKRI yang digelar Kopassus di koridor Bukit Barisan, Khatulistiwa, dan Sulawesi, yang digarap apik oleh wartawan TV senior – aktivis Wanadri Effendi Soen. Sajian buah dan kuliner lokal yang sederhana namun lezat. Juga sesanti yang terpampang di dinding aula.
Paling tidak tiga sesanti terpasang di situ menarik perhatian. Yakni: keikhlasan mengabdi dan berbakti kepada bangsa dan negara, komitmen dan spirit untuk unggul dan menang, serta people relation paradigm: senyum, sapa, salaman yang kelak berujung pasa silaturahim.
Kopassus sebagai pasukan elite ketiga terbaik di dunia yang memang sudah terkenal sangat andal, terutama dalam konteks operasi militer dari masa ke masa, sejak dipimpin oleh Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, kini harus menghadapi perubahan global yang sangat universal. Terutama karena terjadinya proses pergerakan cepat era agraris, industri dan informasi ke era konseptual. Antara lain dengan perubahan format perang yang tak lagi fisikal dan teknologis, melainkan perang yang langsung menyasar ke titik minda masyarakat.
Era kini, format perang sudah berubah menjadi proxy war, perang minda dan perilaku budaya. Kemampuan dan keandalan fisik, teknik dan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan dan pemampuan mengelola minda (mindset) yang bergerak sangat cepat karena media yang sangat terbuka dan bebas, sertaq teknologi informasi yang berlari cepat.
Dari dialog yang berlangsung malam, itu saya memperoleh begitu banyak pelajaran amat berharga untuk mengenali paradigma pasuka elite, seperti Kopassus. Setelah mendapat penguatan terhadap dimensi kedalaman (mind and soul depth) di era Danjen Agus Sutomo, kini berlanjur dengan upaya penguatan diri dengan human paradigm (paradigma insani) di era Danjen Doni Munardo. Muaranya: loyalitas dedikasi untuk bangsa, negara, rakyat, dan kemanusiaan, bertumpu di atas kesetiaan dan kesungguhan mengamalkan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.
Menyimak penjelasan Danjen Doni Munardo dan staf pimpinan Kopassus malam itu, saya mendapat kesan, kini Kopassus melangkah melakukan aplikasi nyata tentang esensi kata elite dalam konteks yang sesungguhnya. Yaitu tentara cerdas, profesional, dicintai rakyat, dan menjadi salah satu simpul nation enlighter. Yaitu pasukan yang bisa diandalkan tidak hanya dalam keadaan perang, melainkan bermanfaat nyata dan luas di masa damai.
Bila pada hari kemarin, Kopassus sudah berhasil mengalahkan lawan tidak melalui kontak senjata, kini Kopassus mulai memancangkan pilar kuat memenangkan perang minda secara universal. Senyum, Sapa, dan Salaman berujung silaturahmi merupakan strategi budaya yang menarik untuk menguatkan jejaring kemanunggalan tentara dengan rakyat.
Sesanti ini akan memungkinkan setiap anggota Kopassus menjadi energizer bagi setiap anggota masyarakat, yang kelak akan memperkuat dimensi ketahanan sosial dalam konteks pertahanan semesta. Kepiawaian perang fisik, teknik dan teknologi terimbangi dengan kepiawaian menggerakkan energi positif bagi terwujudnya integralitas kebangsaan (Negara Kesatuan Republik Indonesia), yang bermuara pada Indonesia damai, aman, nyaman, dan sejahtera.
Komando dalam konteks Kopassus akan menjadi inisiasi penting untuk penguatan akal budi dalam menghadapi infiltrasi proxy war, yang bisa masuk kapan saja ke otak setiap rakyat melalui perkembangan gadget yang dahsyat. Dengan cara demikian, seperti dikatakan Nurjaman Mochtar, melalui aksi people interaction yang smooth, Kopassus akan terus eksis sebagai praercursor in omnibus. Khasnya, sebagai role model dalam menegakkan nation dignity. Tabik ! |