
AKARPADINEWS.COM | PROF. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia (2004-2014) kian bersinar. Sejak tak menjabat Presiden Republik Indonesia, Ketua Umum Partai Demokrat yang juga dikenal sebagai jenderal begawan, itu kerap memperoleh penghargaan internasional.
Jum’at (10/4), Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dikukuhkan sebagai Distinguished Honorary Fellow oleh ISEAS (Institute of Southeast Asian Studies) yang bermarkas di Singapura. ISEAS merupakan lembaga pusat kajian yang meneliti perkembangan isu-isu sosial politik, kemanan dan ekonomi di wilayah Asia Tenggara.
Dengan pengukuhan ini, ISEAS berharap SBY dapat memberikan pandangan, pengalaman, dan kearifan untuk perdamaian, kemajuan, dan kesejahteraan di kawasan. Penghargaan itu adalah sesuatu yang layak dan patut bagi negarawan yang diakui dunia, dan berhasil menciptakan kondisi proses suksesi yang mulus bagi pelanjutnya, itu.
Dalam sambutannya, SBY mengungkapkan ASEAN yang kini tengah berada dalam masa transisi sebelum memasuki era ASEAN Community pada 1 Januari 2016 mendatang, harus lebih mengikat secara geopolitik dan geoekonomi. Setiap negara anggota harus menempatkan ASEAN pada posisi pertama dalam kebijakan luar negeri masing-masing.
Kemampuan untuk menjaga keterikatan ini akan membuat ASEAN menjadi lebih kokoh dalam menahan pergeseran kekuatan (power shifts) di kawasan yang diharapkan akan terjadi dengan damai meskipun terdapat gesekan-gesekan.

Untuk menghadapi hal-hal tersebut, SBY menilai ISEAS bisa sangat berperan karena para pemimpin ASEAN pastinya membutuhkan masukan dan analisa dari berbagai sudut pandang dalam membuat kebijakan-kebijakan untuk ASEAN. Sumberdaya yang berkualitas dan analisa yang cerdas dari ISEAS akan sangat bermanfaat dalam mendukung kerja sama regional.
“ISEAS sangat cocok untuk tugas ini. ISEAS menjadi standar penilitian dan analisis terbaik di antara pusat kajian yang ada di Asia Tenggara, dan sekaligus menjadi tempat pertemuan yang efektif untuk berdialog mengenai isu-isu kritis yang terjadi di kawasan,” ujar SBY.
Lebih lanjut, SBY juga berharap dapat memberikan nilai tambah bagi ISEAS sehingga Indonesia dan Singapura semakin sejahtera, perdamaian di Asia Tenggara juga semakin meningkat, dan akhirnya mampu mewujudkan dunia yang lebih baik lagi.
Usai menerima pengukuhan sebagai Distinguished Honorary Fellow, SBY didampingi Ibu Ani Yudhoyono sempat bertemu dengan panitia International Symposium OISSA Singapore 2015 yang sudah menunggu di luar kantor ISEAS. Simposium ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Indonesia atau yang lebiih dikenal sebagai Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang ada di luar negeri.

Selain di luar negeri, Prof. Dr. SBY diharapkan memberikan lebih besar lagi perhatian pada pengembangan potensi sumberdaya manusia berkualitas di Indonesia. Khususnya dalam konteks pengembangan transformasi budaya. Pengalaman dan pengetahuannya yang luas tentang politik, multikulturalisme, dan jiwa kenegarawanannya yang mumpuni, memungkinkan SBY menjadi salah dua guru bangsa yang mampu meneruskan guru bangsa lainnya. Tak sekadar hanya menjadi pemimpin partai politik sebagai infrastruktur politik praktis.
Apalagi, sepanjang perjalanan karir politiknya, SBY sangat paham bagaimana mengelola keseimbangan jiwa dan raga karena pernah mengalami penderaan dan sekaligus penghianatan politik. Termasuk dipandang secara sangat subyektif dan negatif oleh mereka yang masih berpolitik dengan cara pandangan presumtif. | Bang Sem