
Sem Haesy
WATAK pedagang di belantara politik adalah menempatkan seluruh penguasa sebagai tuannya. Begitu kekuasaan berganti, maka berganti pula tuannya. Berbeda dengan seorang entrepreneur sejati yang menempatkan dirinya sebagai tuan.
Karenanya, jangan pernah heran, bila mendapati para pedagang, termasuk pedagang politik (political traders) tak kuasa menahan dirinya untuk membuat pernyataan, yang justeru menelanjangi kepentingannya sendiri.
Mereka sekali tiga uang dengan para politisi tak berintegritas, yang pandai menyalahkan masa lalu, untuk menutupi kesalahan yang baru dibuatnya.
Begitulah yang kita saksikan, selepas Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi yang membuat #SalamGigitJari menjadi tranding topic di media sosial, khasnya twitter dan facebook.
Politisi PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) yang begitu ‘gigih’ menentang kenaikan harga BBM di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kini berkuasa, kehabisan akal untuk berkelit dan berkilah dengan keputusan yang diambil Jokowi. Keputusan yang mengikuti teriakan Sofyan Wanandi dan Jusuf Kalla yang belakangan hari memang gigih memperjuangkan kenaikan harga BBM.
Bila Jokowi sanggup menyatakan bakal menghadapi segala risiko dan berani tidak populer dengan keputusannya, tidak demikian dengan politisi PDIP yang sedang menelan ludahnya sendiri. Seperti halnya Ketua Umum KADIN yang sedang ‘cari muka’ dengan penguasa baru, yang spontan menyalahkan SBY dan menyebut Jokowi ibarat ‘pencuci piring’ ketika pesta usai. Kalimat klise itu selalu keluar dari celah bibir pedagang.
Dulu, ketika SBY naik kuasa bersama Jusuf Kalla menggantikan Megawati Soekarnoputri, yang dikemukakan oleh para pedagang itu juga sama: “SBY mencuci piring ketika pesta usai.”
Bagi saya, segala pernyataan yang dikemukakan para politisi PDIP dan kemudian dibenarkan oleh sejumlah ‘komentator politik’ cunihin hanyalah retorika kaum yang tak tahu bagaimana memaknai kemenangan dan kekuasaan.
Politisi dan pedagang yang mengalami ambivalensia karena hidup berkubang hanya pada kepentingan sesaat, dan tak pernah habis berusaha ‘menjual rakyat.’ Ketika apa yang dilakukan oleh idolanya, ternyata bertentangan dengan harapan rakyat dan lebih sesuai dengan ‘hope’ para pedagang asing, satu-satunya yang mereka salahkan adalah hari kemarin.
Padahal, seperti kata John F. Kennedy, yang kudu dilakukan oleh siapa saja yang sedang berkuasa, bukanlah berusaha memperbaiki kesalahan masa lalu, karena apapun yang dilakukan tak akan pernah mengubah masa lalu. Melainkan, belajar dari masa lalu untuk memperbaiki realitas hidup hari ini.
“Let us not seek to fix the blame for the past. Let us accept our own responsibility for the future,” ungkap Kennedy. Mari kita menerima tanggung jawab sendiri (saat ini) untuk masa depan.

Bila PDIP konsisten untuk memperjuangkan spiritnya menolah kenaikan harga BBM, lakukanlah itu secara konsekuen. Ambil risiko paling pahit, bahwa PDIP memang tak mampu mengendalikan ‘kader terbaik’-nya yang sedang tertekan oleh berbagai kepentingan, sehingga harus mengambil keputusan ‘baik’ yang berdampak ‘buruk’ bagi wong cilik. Tak perlu menyalahkan apa yang terjadi di hari kemarin.
Bukankah, seperti kata H.L Mencken, “The whole aim of practical politics is to keep the populace alarmed (and hence clamorous to be led to safety) by menacing it with an endless series of hobgoblins, all of them imaginary.”
Seluruh tujuan politik praktis adalah untuk menjaga rakyat kuatir – dan karena bisingnya (kudu dikelola) untuk memperoleh keselamatan (kekuasaan) – dengan rangkaian ‘ancaman’ tanpa akhir, semuanya adalah imajineri yang mesti dikelola untuk memperoleh kerangka idealistika baru masyarakat.
Apalagi bagi rakyat yang ‘mudah ditipu’ kala kampanye politik berlangsung, mudah terpikat pencitraan: ‘jujur, bersih dan sederhana,’ serta ‘mudah dikibuli’ ketika sedang diumbang euforia kemenangan.
Televisi perlu terus menerus memutar ulang momen ketika Jokowi mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi itu. Perhatikan intonansi suaranya, parasnya, juga wajah dan sikap Wakil Presiden beserta para menterinya. Simak baik-baik, siapa yang nampak ‘bersuka-cita.’ Lantas kaitkan dengan statemen sejumlah politisi PDIP belakangan hari.
Karena wajah adalah jendela hati, wajah mereka bercerita apa yang sungguh terjadi di balik keputusan pertama dalam sejarah : menaikkan harga BBM, kala harga crude oil dunia sedang turun, dan pos belanja sosial di APBN masih belum tergunakan sepenuhnya.. Bebaskan diri dan sikap pro dan kontra, tapi pergunakan nalar dan naluri untuk menilai realitas pertama di balik realitas kedua... Cag. !|