
Catatan Bang Sèm
Tiada haji tanpa wukuf di Arafah. Penggalan hadits Rasulullah Muhammad SAW ini sangat populer. Al Hajju al Arafah! Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi, Imam al-Nasa'i, dan Imam Ibn Majjah tersebut merupakan jawaban Rasulullah atas pertanyaan serombongan jama'ahnya dari Najd, ihwal melaksanakan seluruh rangkaian proses ibadah haji.
Maknanya adalah, wukuf di Arafah adalah inti ibadah haji, dari seluruh rangkaian proses ibadah haji, yang tak boleh ditanggalkan. Wukuf di Arafah mensyaratkan kesempurnaan ibadah haji.
Seluruh proses ritual haji harus sesuai dengan ritual (urutan yang benar) yang dilakukan Rasulullah -- "Ambillah dari ritualku untuk ritualmu." Suatu proses menegakkan disiplin yang ketat dan kuat. Mengabaikan, menanggalkan, meninggalkan, dan mengganti salah satu dari rangkaian ritrual, terkena sanksi membayar denda (dam). Tetapi, mengabaikan, meninggalkan dan menanggalkan wukuf, membatalkan haji.
Ibadah haji adalah kewajiban yang mensyaratkan, selain sebagai rukun Islam yang dilaksanakan berdasarkan rukun Iman, mensyaratkan kemampuan (istitha'a) : dewasa (aqil balig), sehat (jasmani ruhani), merdeka, finansial (yang dimungkinkan oleh Allah), dan aman.
Wukuf adalah ritual berdiam diri (muhasabah, introspeksi, kontemplasi diri), pada waktu yang sudah ditentukan (9 Dzulhijjah) antara awwal zawaal (selepas fajar) hingga akhir senja (menjelang malam tiba) di Arafah.
Arafah merupakan hamparan padang antara Oranah, Thowayah, Namirah, Dzul Majaz, dan Maazamein. Termasuk Jabal Rahmah, kendati jama'ah diisyaratkan untuk melakukan wukuf di dataran rendah Arafah.

Telaga Luas Kesadaran
Wukuf merupakan momentum setiap jama'ah haji melakukan niyyah qurbah, pencapaian kedekatan dengan Allah. Momentum kesadaran dan penyadaran diri, termasuk melakukan review dan evaluasi atas segala laku berkehidupan. Tanpa kecuali, pengakuan atas segala ulah yang berkemul dengan dosa.
Antara Dzuhur dan Ashar, untuk menguatkan pencapaian puncak kesadaran mendekatkan diri kepada Allah, salah seorang jama'ah yang utama dan memenuhi syarat dibanding jama'ah lainnya (karena tauhid dan keilmuannya) menyampaikan khutbah Arafah.
Selebihnya, sejak matahari bergulir hingga terbenam, seluruh waktu dipergunakan sepenuh-penuhnya untuk bermunajat kepada Allah. Termasuk memohon ampunan kepada Allah untuk meluruhkan segala noda dosa.
Setarikan nafas, secara ragawi, wukuf bagi kalangan tertentu (bagi kalangan lanjut usia) juga dapat dilakukan untuk jeda mengumpulkan daya, sebelum melanjutkan prosesi ritual berikutnya yang cukup menguras tenaga : mabit di Masy'aril Haram (Mudzdalifah). Lalu bergerak ke Mina guna menunaikan fase akhir melontar jumrah.
Dalam keseluruhan prosesi ibadah haji, wukuf menjadi telaga luas dan dalam bagi setiap jama'ah yang menunaikannya untuk menghidupkan kesadaran tanpa henti tentang hakikat sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan dan siyasah (dalam konteks cara hidup).

Peluang Mewujudkan Peradaban
Upaya penyadaran yang dilakoni secara antusias untuk mengenali lebih asasi prinsip hubungan manusia dengan Allah, insan dengan Al Khaliq. Memaknai hakikat insan sebagai sebagaik-baik makhluk yang diberi jalan lurus untuk menjadi insan kamil.
Insan yang selalu meneguhkan iman dan menguatkan relasi syariah dan ibadah yang dimensional (duniawi - ukhrawi), sebagai pilar utama yang menuntun manusia mencapai visi, "bahagia di dunia dan akhirat, terbebas dari petaka duniawi - ukhrawi."
Insan yang selalu antusias menghidupkan nilai-nilai akhlak dalam relasi manusia dengan Allah, semesta, dan sesama manusia. Mewujudkan simpati, empati, apresiasi, respek dan cinta untuk konsisten dan konsekuen menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar berbasis keadilan. Memberi makna keindahan hidup yang diberikan Allah sebagai peluang luas mewujudkan peradaban mulia, yang terkorelasi dengan penyempurnaan cinta sebagai aksi kemanusiaan.
Wukuf di Arafah, memberi ruang bagi setiap insan yang melakukannya untuk menyadari dan (secara konsisten dan konsekuen) mengamalkan dalam hidup sehari-hari hakikat insaniah sebagai manusia dengan kemerdekaan sejati dalam mencapai kesetaraan dan keadilan dalam berkehidupan. Sekaligus membentuk pribadi dengan integritas kuat sebagai pemimpin di lingkungan sosialnya (mulai dari keluarga sampai negara - bangsa).
Bulir-bulir air mata saat wukuf, semestinya menjadi perlambang kesadaran untuk membuang dan dosa, khilaf dan alpa menjalankan tugas mulia manusia sebagai insan sempurna penggerak peradaban. Karena Allah menciptakan manusia dengan alat kelengkapan yang utama: nalar, nurani, naluri, rasa, dan dria. Instrumen kehidupan yang tak sepenuhnya dimiliki makhluk lain. Sekaligus menyadarkan diri untuk semakin kuat dan tangguh menjadi manusia, sehingga tidak terpeleset menjadi khayawan an nathiq, hewan yang berakal.
Kontemplasi insaniah saat melakukan wukuf di Arafah, mestinya, menjadi momen terindah bagi siapa saja yang melaksanakannya, untuk menghidupkan sikap antusias dalam menanamkan pilar teologis dalam menjalankan nilai dan ajaran Islam sebagai norma kehidupan yang sempurna. Nilai dan norma kehidupan yang diyakini sebagai marka dalam praktik kehidupan di tengah berbagai peristiwa kemanusiaan dengan segala fenomena dan ruang-ruang paradigmanya.

Keberanian Hidup
Wukuf yang bermakna harafiah sebagai jeda, adalah momen penting bagi setiap jama'ah haji -- khasnya kaum cendekia -- melalui munajat dan penyadaran yang mengalir dalam dzikir, mempertemukan daya nalar dan dria dengan nurani, naluri dan rasa dalam titik temu pengetahuan dan kearifan. Termasuk pertemuan sesuatu yang riil terasakan dan sesuatu yang ghaib.
Allah memberi peluang luas untuk mengembarakan nalar menghela kecerdasan menangkap beragam hakikat semesta yang dapat dihampiri dengan sains dan teknologi. Selaras dengan itu, Allah juga memberi peluang luas untuk mengembarakan nurani dan rasa menghela kearifan dalam menyerap hakikat relasi manusia bersama segala keterbatasannya, dengan Allah sebagai Al Khaliq dengan segala kuasa dan otoritasnya yang tak terbatas dan tak berbatas.
Kecerdasan dan kearifan yang mengalir saat wukuf itulah kelak yang memungkinkan kita sebagai insan, dengan sains dan technologi memahami hakekat absoluditas, distingsi, dan uniqueness Allah, sebagaimana tersimpan dalam berbagai firman-Nya di dalam Al Qur'an. Setarikan nafas, juga menyuburkan kesadaran dan sikap tahu diri sebagai makhluq yang harus melayari aqidah, syari'ah, muamalah dan akhlaq sebagaimana dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW dan tercermin dalam sunnah dan hadits terkait dengannya.
Inilah yang membekali kita untuk memahami dimensi cinta, sekaligus perbedaan nyata antara intuitive reason dan way of life kala mabit di Musdalifah berbekal kecerdasan dan kearifan, sebagaimana diungkap Ali Syari'ati. Kala malam menggantikan siang. Kala cahaya sang surya berganti kerlip gemintang di langit gelap.
Berbekal kesembangan pengetahuan dan kearifan itu juga, ketika pada 10 Dzulhijjah di Mina, setiap insan yang menjalankan ibadah haji, merambah pemahaman tentang hakikat taqwa, di atas segala dimensi kehidupan duniawi. Sekaligus memaknai hakikat 'hidup mulia dan syahid' sebagai esensi qurban dan perjuangan menaklukan nafsu dalam pengorbanan asasi. Sekaligus sebagai momen memantik idealisme dan spirit kehidupan baru dalam kebersihan tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah (way of life) menjemput kehidupan baru.
Dengan spirit itu memupuk keberanian hidup dengan sikap konsisten dan konsekuen memerangi segala tantangan dan ujian kehidupan, otoriterian, ketamakan dan kerakusan, dan ketidak-ikhlasan dalam menjalankan hidup yang selalu ditebar iblis dan syetan. Bekalnya adalah kesadaran ibadah kepada Allah SWT berbasis syariah.
Berbekal kesadaran dan penyadaran saat wukuf di Arafah, itulah keberanian melawan dan memerangi iblis saat melontar jamarat -- simbol berhala -- di Mina, menemukan maknanya. Laksana memerangi Fir'aun yang tamak dan menuhankan dirinya, memerangi syirk; memerangi Qarun simbol egoisme, individualisma, dan bakhil; dan memerangi Bal'am simbol keculasan, pamrih, dan tipudaya. |
Bait Hikmah - 16.06.24