Takdir Baru Kaum Betawi

| dilihat 600

Catatan Bang Sém Haesy

Allah sedang merancang kebaikan luar biasa bagi bangsa Betawi. Rancangan yang tak pernah mampu dijangkau oleh empirisma manusia. Rancangan yang hanya mungkin dibaca oleh manusia-manusia berkualitas bintang, kaum visioner yang menempatkan hari kemarin dan hari ini sebagai catatan kaki dan referensi untuk melesat jauh ke masa depan.

Kaum yang kelak berdiri di depan, menggerakkan kesadaran kolektif barisan kaum lainnya di sepanjang bentang kepulauan Indonesia Raya, seraya menebar antusiasme, memahami sungguh hakikat maknawi atas imaji Mpu Tantular yang ditorehkannya dalam kakawin Sutasoma pupuh 139, bait 5 : "Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa Bhinneki rakwa ring apa kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwawatwa tunggal, Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa."

Keberbagaian nyata adalah takdir di antara kebenaran dan keraguan, tak terpisahkan. Tak ada keraguan dalam kebenaran. Keragaman untuk satu tujuan dalam mengamalkan komitmen pengabdian tanpa henti  mencapai dan mewujudkan cita kebenaran bersama.

Tak kan pernah mewujud angan mengepakkan sayap-sayap bhinneka, untuk dan atas nama keberagaman, yang hanya akan mencerai-beraikan dan membuat bangsa terpuruk dan tersaruk. Karena hanya ada satu jiwa dalam menegaskan hakikat bangsa dan kebangsaan.

Satu tumpah darah, tanah Indonesia. Satu bangsa, bangsa Indonesia. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Inilah sumpah kebangsaan orang muda di masanya. Sumpah Pemuda. Inilah sumpah yang di setiap aksara dan katanya, mengalir daya juang, yang dihangatkan bara semangat yang utuh, menjadi bangsa merdeka, yang dihidupkan manusia dengan kemerdekaan sejati.

Manusia-manusia yang hanya tunduk patuh menyerah kepada Allah Nan Ahad, Absolut, Distink dan Unique. Allah Maha Pencipta yang menciptakan dan memelihara semesta dengan segala isinya. Allah Maha Kuasa yang wilayah kekuasaan-Nya melampaui langit dan bumi.

Allah menciptakan manusia-manusia yang mampu merawat semesta dengan budaya - peradaban, ditopang oleh tingginya akal budi - keseimbangan nalar, naluri, nurani, rasa dan dria, yang tak pernah lelah mencapai dan menaklukan sains dan teknologi dalam irama kosmologi, sehingga mempunyai cara hidup, way of life, yang membuatnya cendekia, terampil, dan bijaksana dalam bersiyasah.

Manusia-manusia yang mampu menjawab segala tantangan, menemukan peluang-peluang, mengenali kelemahan dan kekurangan diri, sehingga paham cara merumuskan kekuatan dahsyat menjadi sesungguh manusia. Para pemimpin andal bagi bangsanya. Salah satu dari pumpunan manusia sedemikian adalah kaum Betawi.

Adalah kaum Betawi dari tanah Kalapa -- titik peradaban dunia, yang dipahamkan Al Balkhi, failasuf dan pemikir Persia, berjenama Zangdes. Sentra peradaban di Timur Matahari.

Kaum yang tertakdir menjadi wujud nyata bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, yang di dalamnya mengalir darah bangsa-bangsa Mesopotamia, Arab, Persia, Aria, Tiongkok, dan beragam suku bangsa di gugusan Nusantara yang terhubung nasab dengan keragaman bangsa-bangsa polinesia dan melanesia.

Kaum yang tertakdir menjadi contoh khalayak ahsanit taqwiim dengan perangai utama: egaliter, kosmopolit, dan religius.

Kaum dengan potensinya yang besar, dan selalu disasar untuk dikecilkan, diikerdilkan dan direndahkan oleh bangsa-bangsa lain. Kaum yang andal, yang tak canggung berdiri tegak. Tak juga mundur menghadapi tantangan, dengan prinsip asasi, "lu jual, gue beli." Kaum yang berpegang teguh pada prinsip, "al ilmu nuurun, al ijtihadu mahbuubun." (Ilmu adalah cahaya -- kehidupan -- dan perubahan mesti dilandasi cinta - kasih sayang).

Kaum yang selalu menjadi sasaran para penjelajah yang berubah menjadi penjajah, dari Barat, Timur, dan Utara. Bahkan kemudian dari kalangan bangsanya sendiri.

Kaum yang tangguh, liat dan ligat menghadapi gempuran dari segala penjuru angin. Tak lapuk diterpa hujan. Tak kerontang dihajar kemarau. Tak terhuyung dihempas badai. Tak goyah diguncang gempa. Kaum yang tahu diri, tak hendak menantang angin pancaroba. Kaum yang tak pergi meninggalkan gelanggang, sebelum pertarungan usai.

Jejak panjang sejarah peradaban Betawi, jauh sebelum Tarumanegara dan Padjadjaran ada. Jauh sebelum Fatahillah -- mengemban tugas Sunan Gunung Jati --, menghadang dan menggempur bala tentara Portugis, lantaran Prabu Surawisesa memberi celah konsesi. Jauh sebelum Jan Pieterzoon Coen membangun Batavia dengan tembok kota, memisahkan kaum migran dan kaum urban dengan kaum Betawi sebagai khalayak pituin di kawasan yang kemudian bernama Jayakarta, Batavia, dan Jakarta.

Tuhan memilih tanah Betawi sebagai titik istimewa, tempat kesadaran kebangsaan berubah menjadi pergerakan perjuangan kaum yang sadar tentang hakikat manusia merdeka, menolak dan melawan penjajahan.

Tuhan memilih kaum Betawi menjadi manusia genuin, yang berperan di garda depan, menjaga dan merawat kemerdekaan, sebagai wujud nyata komitmen kebangsaan, memelihara relasi rakyat dengan negara.

Tuhan memilih tanah dan kaum Betawi sebagai jantung yang terus berdetak, mengalirkan daya hidup Indonesia dan ke-Indonesia-an.

Karenanya, tanah Kalapa dengan kaum Betawi yang menghuninya sejak berabad silam, sebelum tiba peradaban industri, yang diamsalkan sebagai bangsa Melayu Tua di tanah Jawa, senantiasa menjadi sasaran para penjajah dan siapa saja yang bermental penjajah, untuk menaklukkan, melemahkan dan meminggirkan.

Mitos dan stereotype palsu tentang kaum Betawi pun diproduksi tak pernah usai, sebagai cara untuk menyingkirkan. Reka cerita dan rekacitra kaum Betawi dihadirkan lewat tokoh-tokoh amah, semisal Bang Puasè, sais delman dalam kisah Nyai Dasima, kemudian sebagai sopir pribadi dan sopir taksi.

Tokoh-tokoh hero, semacam Pitung, diposisikan sebagai perompak dan perampok, selebihnya, yang mau bekerjasama dengan penjajah, diposisikan sebagai centèng dan mandor. Tokoh intelektual yang lantang membela rakyat miskin  semacam Moh Husni Thamrin, diposisikan sebagai pembangkang yang harus ditekan dengan berbagai tindakan represif. Begitulah seterusnya. Anak-anak yang terlahir di lingkung kaum Betawi yang konsisten menegakkan amar ma'ruf nahyi munkar, selalu menjadi sasaran represi.

Pasca kemerdekaan (era Soekarno dan Soeharto), meski sejumlah putera puteri Betawi dipercaya sebagai Menteri, petinggi negeri, dan Rektor Universitas Indonesia, namun baru sejumlah tokoh Betawi beroleh porsi memimpin kampung halamannya sendiri, sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Di era Reformasi, melalui proses pemilihan Kepala Daerah langsung, akhirnya tokoh Betawi Fauzi Bowo terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta (2007 - 2012). Dengan sistem ini, dalam pemilihan langsung -- di tengah kepungan pragmatisme politik dan poltiik transaksional -- ini juga, tokoh Betawi 'tersingkir' dalam kepemimpinan DKI Jakarta, meski kemudian, beroleh kepercayaan sebagai Sekretaris Daerah.

Pemindahan ibukota negara ke Paser - Kalimantan Timur, membuka celah dan 'ruang takdir' baru bagi kaum Betawi. Jakarta tak lagi menjadi ibukota negara. Posisi kaum Betawi, mestinya berubah dengan sendirinya.

Aspirasi yang berkembang dari berbagai fokus grup diskusi menegaskan, Jakarta akan berkembang sebagai kota global dan diharapkan terus memainkan perannya sebagai sentra kebudayaan, bisnis dan keuangan, sekaligus menjadi sumbu penting Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bersama Singapura, Kuala Lumpur, Manila, Bangkok, dan Ho Chi Minh City dalam interaksi global.

Interaksi budaya juga bergerak sedemikian rupa. Poros Jakarta - Tanjung Pinang dirintis oleh H. Oding Zainuddin. Lantas, Poros Jakarta - Banda Aceh dirintis oleh (Alm) H. Abraham Lunggana. Gubernur DKI Jakarta sendiri, Anies R. Baswedan telah membentang jejaring luas antar Jakarta denbgan berbagai kota global ke seluruh dunia, antara lain dengan Tokyo, London, New York, dan Medellin, diikuti berbagai kota lain.

Modal insan Betawi di berbagai bidang dan sektor juga mengepakkan sayapnya dan memainkan peran penting dalam berbagai 'interaksi global,' terutama di sektor kesehatan, industri keuangan dan ekonomi syariah, serta kalangan auditor profesional. Pun, demikian halnya di sektor seni dan sastra. Selain itu, diaspora Betawi juga berkembang di berbagai kota di Indonesia dan mancanegara dalam berbagai profesi.

Setelah berabad lamanya menunjukkan kemauan dan kemampuan sebagai host sekaligus katalisator bagi berlangsung dan berkembangnya proses asimilasi - akulturasi, kaum Betawi juga menunjukkan eksistensinya sebagai warga bangsa yang sungguh Indonesia.

Hal ini menandai, kaum Betawi sangat siap, layak dan patut memimpin kampung halamannya sendiri, sebagai kota global. Karena kaum Betawi, telah menjadi bagian dari warga global sejak berabad pula.

Kaum Betawi telah merumuskan tantangan global yang bakal dihadapi Jakarta, mulai dari pendidikan, ekonomi, budaya, dan ekologi sesuai dengan prinsip-prinsip asasi SDGs (Sustainable Development Goals).

Dalam konteks itu, imajinasi kaum Betawi tentang Jakarta adalah kota global yang mampu memainkan peran sebagai simpul jejaring megapolitan Indonesia.

Sejalan dengan itu, dalam nafas ke-Indonesia-an yang lebih maju, dan berperan strategis dalam orientasi baru (geo politik dan geo ekonomi) kawasan Asia Pasifik sebagai mercu peradaban baru, putra Betawi, siap memimpin kota ini.

Karenanya, format pemerintahan otonomi khas yang luas, nyata, berciri kearifan budaya lokal dengan visi global, menjadi pilihan bagi Provinsi Daerah Khusus Jakarta kelak. Tak harus seperti Aceh, Yogyakarta dan Papua, karena karakter dan focal concern-nya berbeda, karena merupakan model tersendiri pemerintahan otonomi provinsi berbasis kota raya.

Selama berabad-abad, kaum Betawi sudah menunjukan sikap toleransinya yang kental dengan sikapnya yang demokratis, inklusif, egaliter, kosmopolit, dan berintegritas.

Kini tinggal lagi para petinggi negeri dan politisi yang terkait langsung dan tak langsung dengan proses legislasi undang-undang pengganti UU No. 29/2007 tentang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dituntut untuk menunjukkan pikiran, sikap, dan tindakan yang setara: demokratis, inklusif, egaliter, kosmopolit, dan berintegritas.

Silakan tunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kita merupakan bangsa yang mampu mengelola kekuasaan secara bermartabat. Caranya? Berikan sepenuhnya hak politik, hak ekonomi, dan hak budaya kaum Betawi, sebagai bagian integral hak konstitusionalnya, sebagai bagian dari indahnya keadilan dalam bernegara dan berbangsa. 'Balikin semua hal yang kudu dibalikin kepada kaum Betawi.'

Kaum Betawi tahu dan paham, siapa saja yang memperjuangkan hak-hak politik, ekonomi, dan budayanya sebagaimana dijamin konstitusi. Tahu dan paham juga siapa yang sekadar memanfaatkan suaranya sekali lima tahun. Termasuk tahu dan paham, siapa yang gamang dengan perubahan atas Jakarta. Tak terkecuali yang mimpi menjadi Gubernur atawa Wakil Gubernur Jakarta ke depan. Mari bersikap tahu diri. | [ Baca juga : Kota Raya Jakarta ]

Editor : delanova
 
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 452
Mata Maut
Selanjutnya
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 515
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya