#GOBELPAGE

Rachmat Gobel Ingatkan Kekuatan Asing Bukan Utama Bagi Indonesia

| dilihat 267

JAKARTA | Wakil Ketua DPR RI Kordinator Bidang Industri dan Pembangunan, Rachmat Gobel mengingatkan, kekuatan asing dalam pembangunan Indonesia, memang penting, namun hanya pelengkap. Bukan yang utama.

Rachmat mengemukakan hal tersebut di hadapan peserta Musyawarah Nasional ke XI Wanita Syarikat Islam di Grand Cempaka Hotel, Jakarta, Jum'at (9/10/22), yang juga dihadiri oleh Presiden Syarikat Islam Hamdan Zoelva, Ketua Umum Wanita Syarikat Islam Valina Singka Soebekti, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid, Gubernur Jakarta Raya Anies Rasyid Baswedan, dan pimpinan ormas perempuan Islam di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Rachmat juga mengingatkan dinamika perubahan zaman terkini. Termasuk dampak yang ditimbulkan oleh perang Rusia dengan Ukraina, yang akan mempengaruhi kehidupan dan cara berfikir kita.

"Kita sedang menghadapi geo politik dunia, di mana banyak terjadi perubahan-perubahan. Geo politik dunia, itu tentu mempengaruhi politik di Indonesia," ungkapnya.

Selanjutnya, Rachmat mengemukakan, "Ini adalah tantangan besar yang harus kita jawab. Karena itu, diharapkan dalam Munas ini, ibu ibu para pejuang Syarikat Islam, bisa 'menelurkan' konsep-konsep (di bidang sosial, ekonomi dan budaya), bagaimana kita mengantisipasi persoalan-persoalan dunia yang mempengaruhi kehidupan kita."

Rachmat berharap, Wanita Syarikat Islam, dengan konsep-konsep itu, bisa berperan besar dalam blantika kebangsaan Indonesia. Antara lain, fokus pada pengembangan sumberdaya manusia. Apalagi, katanya, Wanita Syarikat Islam, sudah memasuki satu abad eksistensinya.

Pembangunan kualitas sumberdaya manusia menjadi penting. Terutama, karena kita memberikan kemudahan kepada asing untuk berinvestasi di Indonesia, karena kita memerlukannya. Tetapi asing bukanlah yang utama buat bangsa ini.

Dalam bagian lain pidatonya, Rachmat Gobel, mengingatkan, bahwa peran wanita dalam sejarah kebangsaan kita sangat utama. Bahkan dalam konteks perang memerdekakan bangsa ini, seperti dicontohkan Tjoet Nja' Dhien, Laksmana Malahayati, dan Ratu Kalinyamat yang menjadi promotor pengiriman armada kapal perang terbesar untuk menyerbu penjajah Portugis di Selat Malaka.

Kontribusi kaum wanita itu terus berlangsung hingga kini di berbagai bidang. Namun ia menilai, wanita yang menduduki jabatan publik masih jauh dari proporsinya. Padahal kualitas wanita Indonesia sama baiknya dengan kaum pria.

Namun kini, Rachmat menilai jumlah kaum wanita di jabatan-jabatan publik masih jauh lebih kecil dari proporsi populasinya, yang sekitar 49,5 persen dari total penduduk Indonesia. “Masih ada bias gender. Karena itu kaum wanita harus merebut jabatan-jabatan publik,” katanya.

Untuk itu, Rachmat yang juga pimpinan Syarikat Islam, itu mengajak para aktivis Wanita Syarikat Islam untuk tak berhenti berkontribusi bagi kemajuan Indonesia sebagai bangsa yang unggul adalah bangsa dengan karakter yang kuat. “Bukan yang lembek. Jadilah wanita pejuang,” katanya.

Pada bagian lain, Rachmat Gobel mengingatkan, banyak orang yang berpendapat bahwa Indonesia kekurangan dana. “Itu harus dikoreksi. Jumlah penduduk yang 275 juta serta kekayaan alam Indonesia yang berlimpah merupakan modal yang sangat besar. Yang penting harus bersatu. Seperti lidi, jika bersatu menjadi kuat,” katanya.

Rachmat juga berharap, Wanita Syarikat Islam bisa melahirkan lebih banyak lagi kader-kader bangsa. “Indonesia sangat membutuhkan partisipasi semua pihak untuk membangun negeri ini,” katanya. | masybitoch

Editor : delanova
 
Ekonomi & Bisnis
03 Des 22, 15:17 WIB | Dilihat : 35
Ginanjar Nilai Semua Investasi Jepang Lancar
15 Jun 22, 09:26 WIB | Dilihat : 359
Gobel : PMK Hewan Memukul Kedaulatan Pangan
Selanjutnya
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 452
Mata Maut
Selanjutnya