Pemimpin versus Penguasa

| dilihat 77

Renungan Bang Sèm

Di tengah zaman yang sungsang, kejujuran, keberanian menegakkan kebenaran dan keadilan, serta kesungguhan nyata melayani kaum ammah (khalayak, umat, rakyat) sangatlah mewah dan mahal.

Pada zaman sedemikian itu, Allah menguji iman para hamba-Nya, akankah berpihak kepada kebahagiaan dunia akhirat, atau hanya memburu gemerlap dunia fana yang menipu? Memburu kemegahan palsu yang akan berujung pada realitas, lantas tersesat dalam gelap?

Kemegahan-kemegahan palsu berupa tahta yang dipergunakan hanya untuk kekuasaan yang zalim dan jauh dari keadilan; harta yang diperoleh dengan cara tak benar dan dibelanjakan untuk hal-hal yang menjauhkan diri dari Allah; serta, sekongkol dalam maksiat dan kejahatan.

Sebagai penunjuk dan petunjuk bagi manusia melayari hidup, Allah menurunkan para nabi, rasul, dan masterplan kehidupan berupa firman-firman-Nya, dan ayat-ayat Ilahiah-Nya melalui fenomena semesta.

Lantas, sebagai iktibar, Allah memperlihatkan kepada manusia berbagai peristiwa kehidupan, termasuk beragam bencana (alam dan sosial), supaya manusia mampu memilih dan memilah: siapa sungguh insan pilihan untuk memimpin suatu negeri dan melayani umat-Nya (rakyat).

Allah memilih sedikit manusia yang berkualitas, sebagai pemimpin yang melayani, yang sungguh menjadi representasi-Nya sebagai rahmat atas semesta. Pemimpin yang di dalam dirinya hidup dan tersemai kesadaran insaniah, bahwa keberadaannya dalam suatu lembaga, masyarakat, negara dan bangsa adalah untuk memimpin, memandu, dan melayani. Tidak untuk berkuasa.

Berani Memilih Pemimpin

Di tangan pemimpin, kekuasaan hanya instrumen pengabdian. Di dalam kekuasaan tersebut mengalir pikiran  cendekia yang bernas, sikap berbudi yang dihidupkan dan menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta kepada semua umat - rakyatnya. Kolaborasi, sinergi, 'ta'awnu alal birri wa taqwa' - gotong royong di jalan taqwa tersemai, subur, dan berkembang. Amanah diwujudkan untuk menepati janji-janji.

Syarat amanah (terpercaya), shiddiq (benar), fathanah (cendekia), tabligh (komunikatif) terpenuhi.

Di tangan penguasa dan petinggi, kekuasaan untuk sepenuhnya menguasai dan berkuasa. Kekuasaan dikeruhkan oleh pikiran culas, sikap semena-mena, aksi zalim dan bakhil. 'Ta'awanu alal ismi wal 'udwan' - persekongkolan para begundal tersemai, tumbuh, dan menjalar. Mengubah rahmat jadi laknat, mengubah cinta jadi benci, dan menjauhkan diri dari sumber segala sumber kuasa. Amanah dikhianati dan membiarkan janji hanya menjadi janji.

Allah Subhanahu wa Ta'ala, sejak berabad lalu, melalui Rasulullah Muhammad SAW sudah menegaskan hal sedemikian: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)." | QS. Al Ahzab 23

Pemimpin mengelola kewenangannya mengatur dinamika kehidupan sesuai dengan aturan Allah, yang melandasi dan menjadi daya seluruh aturan yang dirancang dan dibuat manusia.. Orientasinya pada cara mengatasi masalah.

Petinggi - penguasa mengelola kewenangan yang melekat pada dirinya untuk mereduksi, menihilkan, dan mengabaikan aturan Allah atas kehidupan dan semesta. Orientasinya pada segala alasan eksistensinya menjadi bagian dari masalah.

Polarisasi pemimpin dengan penguasa - petinggi selalu terjadi, keduanya dipisahkan pada tempatnya masing-masing, dan dapat merupakan indikator reward dan punishment Ilahi kepada sesuatu kaum, mengikuti apa yang diperbuat kaum itu sendiri.

Umat - rakyat pada suatu kaum, negara dan bangsa akan beroleh reward Ilahiyah, ketika mereka dipandu oleh pemimpin yang membawa mereka ke arah kebenaran, keadilan, keselesaan, keamanan, dan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, serta terbebas dari petaka. Muaranya adalah kemuliaan.

Sebaliknya, umat - rakyat pada suatu kaum, negara dan bangsa akan beroleh punishment Ilahiyah, ketika mereka dikuasai oleh para penguasa - petinggi dan para begundalnya, yang membawa mereka menuju ke arah kebatilan dan maksiat, ketidak-adilan, keresahan, ketidak-amanan, derita tak berkesudahan, dan petaka. Ujungnya adalah kehancuran.

Allah tidak pernah menghancurkan sesuatu kaum bila kaum itu tidak menghancurkan dirinya sendiri. Karenanya, upaya untuk beroleh kasih sayang Ilahi sepenuhnya harus diwujudkan dengan cara berfikir (minda) dan aksi (ikhtiar). Wujudnya, jernih dan berani memilih pemimpin dan menolak pemimpin - petinggi. Untuk itu perlu mengulang kaji sejarah dan belajar dari kekeliruan masa silam.. |

Editor : delanova
 
Lingkungan
Sporta