AKARPADINEWS.Com - Sate Afrika adalah sensasi lain masakan olahan dari domba. Potongan daging besar-besar dicampur bawang bombay mentah, dipadukan dengan irisan pisang goreng tanduk membuat lidah Anda akan terus bergoyang.
Paduan makanan ini bisa Anda coba di warung sate Afrika milik H Ismail Coulibaly.Ketika saya datang di siang hari yang terik sekitar pukul 13.30 WIB, warung Sate Afrika yang terletak di jalan K.S Tubun No.6, Tanah Abang, Jakarta Pusat (di antara Museum Tekstil dan Gedung Indonesia Power), sudah nampak sepi. Suasana sepi itu bukan karena sate yang sudah kesohor ini tak laku, tetapi memang sudah habis.
Warung sate yang dibuka mulai pukul 10.00 WIB itu memang sajiannya cepat habis, hingga jam makan siang. Saya bisa mencicipi sate ini karena lebih dulu melakukan reservasi di nomor telepon 0817855881. Saya dan teman saya pun jadi konsumen terakhir pada hari itu.
Tempat warung ini sangat sederhana di bawah pohon besar ditutupi atap dari asbes dalam suasana terbuka, laiknya warung sederhana. Di tembok ada peta gambar benua Afrika, tempat sate ini berasal. Tembok warung dicat hijau dipadukan dengan meja dan bangku panjang terbuat dari kayu, diletakkan berdekatan dengan bangku kasir, tempat istri pemilik warung dalam melayani pembayaran dan pemesanan dari pembeli. Sementara, tempat bakaran sate terletak di sebelah kiri warung (dari pintu masuk), yang digunakan berbarengan dengan dapur sajian sate.
Pemilik restoran ini bernama H. Ismail Coulibaly, imigran asal Mali, Afrika Barat yang sudah membuka usaha ini sejak tahun 1999. Di Afrika, sate Afrika ini bernama Diby Soko. Diby bisa diterjemahkan sebagai sate dan soko artinya daging, kalau digabung jadi sate daging. Di Mali, daging yang digunakan adalah daging sapi, kambing, domba sampai unta. Ismail sendiri menggunakan daging domba betina yang berusia satu sampai dua tahun dengan berat sekitar 15- 20 kg, domba-domba tersebut dipesan langsung dari Ciamis dan Bogor.
Istri Ismail bernama Nur mengatakan daging domba dipilih karena lebih empuk dan gurih dagingnya ketimbang kambing. Dalam sehari, diakui Nur,warungnya itu menyembelih dua ekor domba.
Pengolahan yang unik
Dalam pengolahannya, sate Afrika terbilang unik. Sate ini tidak menggunakan tusuk sate ataupun bumbu kacang. Tetapi daging-daging domba dalam potongan besar dibakar di atas bara api seperti barbeque, kemudian daging-daging tersebut diungkep di dalam panci untuk menghilangkan minyak daging yang berkolesterol.
Lebih lanjut Nur menjelaskan, dalam ungkepan itu dirinya tak memakai bumbu rahasia lain, hanya dibubuhi garam sebelum daging domba tersebut direbus agar daging tersebut empuk dan tak berbau prenggus, sebelum dibakar. Ketika di santap, memang daging tersebut empuk namun masih tercium sedikit bau domba tersisa, terutama usai disantap, yang menempel sekitar bibir dan tangan. Bau domba ditangan ada karena saat makan kita terpaksa memegang tulang yang ada dalam potongan daging untuk mencabut dagingnya. Tapi percayalah dagingnya dipastikan matang.
Karena tak mengunakan tusukan bambu dalam penyajiannya, sate Afrika itu disajikan dalam nampan berbentuk bulat, yang terlebih dahulu ditaburi garam halus, irisan bawang bombay mentah, ketika menyantap dicocolkan lebih dulu pada kecap serta sambal yang pedas sekali. Dagingnya sendiri terasa empuk, garing dan gurih, mantab.
Pisang Tanduk dan Nasi
Biasanya, orang Indonesia menyantap sate dengan paduan nasi, tapi di Afrika memakan sate lebih pas dipadupadankan dengan pisang. Di Warung Ismail ini, sate Afrika disajikan dengan pisang tanduk goreng tanpa tepung, bernama loco, yang dipotong-potong miring.
Meskipun warung ini terbilang laris, Nur enggan menyebut omset yang didapatinya. Tetapi sang suami Ismail, nyeletuk sambil bercanda, ya kira-kira Rp 50 juta. “Omset mah kita enggak tentu tergantung beratnya domba yang kita sembelih,”ungkap Nur pada akarpadinews.
Harga satu porsi sate Afrika Rp 50.000. Jika Anda makan berdua, dihitung dua porsi dalam lempengan nampan, ditambah dua piring nasi, masing-masing setengah porsi dan satu piring loco serta dua gelas es jeruk khas Afrika maka Anda hanya perlu membayar Rp 155.000.
Tips Halau Bau
Untuk menghalau bau prenggus daging domba dan pengikis kolesterol, ada baiknya Anda memesan minuman jeruk. Jadi Anda tak perlu terlalu khawatir dengan ancaman kolesterol. Meski, saya percaya kolestrol itu tetap ada pada daging domba dalam beragam cara penyajian. Hanya saja, dalam sajian ini hanya mengurangi jumlahnya tanpa menghilangkan kolesterol. Selain itu juga, usai memakan masakan ini, lebih baik Anda mengulum permen atau makan makanan lainnya, sehingga bau daging domba itu cepat berlalu.