
AKARPADINEWS.COM | JELANG perayaan hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus 2015, ornamen merah putih menghiasi di setiap sudut penjuru negeri ini. Beragam kegiatan perayaan pun siap digelar.
Di instansi pemerintah dan sekolah, selalu digelar upacara pengibaran bendera dan mengenang kembali detik-detik proklamasi yang digaungkan bapak bangsa, Soekarno. Beragam perlombaan juga akan diramaikan masyarakat. Semangat masyarakat mengikuti lomba menggambarkan semangat juang para pahlawan dalam membebaskan bangsa ini dari cengkraman penjajah.
Kemerdekaan sejatinya tidak hanya dimaknai dengan peringatan secara seremonial maupun aktualisasi kebebasan dengan suka cita dan eforia. Namun, generasi saat ini perlu memaknai betapa luar biasa perjuangan para pahlawan yang mempertaruhkan jiwa dan raga demi mencapai kemerdekaan.
Memaknai perjuangan para pahlawan itu diaktualisasi dengan beragam cara yang positif untuk memajukan bangsa dan negara. Semangat juang para pahlawan harus selalu terpatri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Namun demikian, penghuni bangsa ini perlu kiranya juga belajar dari bangsa penjajah yang sudah sekian lama menjajah. Mungkin, tanpa penjajahan, tidak terbentuk sebuah negara bernama Indonesia. Mungkin, negara kepulauan ini akan berbentuk negara-negara kecil.
Jika tidak dijajah, mungkin saja rakyat tidak bersatu, memperjuangkan nasibnya sebagai bangsa yang berdiri tegap di atas kaki sendiri. Dan, bila tidak dijajah, dengan memperhatikan keterpurukan kaum pribumi pada masa itu, mungkin tidak akan lahir tokoh-tokoh nasionalis dan intelektual seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan sebagainya.
Merunut pada kilas balik sejarah kolonialisme di Indonesia, berbagai sumber mencatat, bila penjajahan dimulai ketika Pemerintah Hindia Belanda mendirikan VOC (Vereenigde Oost- Indische Compagnie) pada tahun 1602 untuk memonopoli perdagangan di Nusantara sebagai negeri yang kaya rempah.

Selain Belanda, negara lain yang menjajah Indonesia adalah Portugis, Inggris, dan Jepang. Beberapa di antaranya membawa melaksanakan tugas misionaris, menebar pesan agama, selain berdagang, yang akhirnya menerapkan imperialisme dengan semangat Golden (mencari emas dan sumber daya alam) dan Gospel (menyebarkan agama) dan Glory (meraih kejayaan bangsa).
Orientasi kolonialisme (colonial) yang dalam bahasa latin yang berarti "tanah pemukiman" dan imperialisme sebagai "pemerintah jajahan". Tujuannya memperluas wilayah kekuasaan negaranya dengan menguasai negara lain.
Selain menguras kekayaan alam, bangsa-bangsa penjajah juga meninggalkan jejak yang layak diapresiasi seperti dalam dunia aristektur, pendidikan, sistem kenegaraan, dan sebagainya. Di beberapa tempat, banyak sekali ditemukan karya arsitektur Belanda yang kini dijadikan objek wisata. Misalnya, Kota Tua Jakarta. Di sana, terdapat pula rel kereta api.
Bangunan peninggalan kolonial juga ada yang dijadikan sebagai instansi pemerintah. Bahkan, pusat kekuasaan seperti Istana Merdeka, Istana Negara, maupun Istana Bogor, merupakan karya arsitektur kolonial Belanda. Demikian juga Gedung Sate dan Museum Nasional. Kemegahan dan kekokohan karya arsitektur jaman penjajahan juga dapat dilihat dari sejumlah benteng yang didirikan untuk pertahanan dan keamanan.
Dalam sistem hukum, Belanda juga mewarisi produk perundang-undangan. Salah satunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang hingga kini masih diterapkan di Indonesia, meski sudah dilakukan revisi.
Kebaikan bangsa penjajah juga dibuktikan dengan penerapan kebijakan politik etis (balas budi). Kebijakan politik etis yang pertama kali dipelopori Pieter Brooshoof itu diterapkan Pemerintah Hindia Belanda melalui tiga kebijakan (trias van deventer) yaitu irigasi, migrasi, dan edukasi.
Penerapan politik etis itu di bidang pendidikan dapat dilihat dengan didirikan beberapa sekolah untuk kaum pribumi seperti Hoogere Burger School (HBS), Opleiding School Voor Indische Ambtenaren (OSVIA), School to Opleiding Van Inlandse Artsen (STOVIA), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan sebagainya.
Sekolah-sekolah itu mengajarkan anak-anak pribumi dengan pendidikan Eropa. Dari penerapan politik etis itulah muncul tokoh-tokoh intelektual yang terlibat dalam pergerakan politik.
Kesadaran kritis terhadap nasib bangsa yang kemudian mendorong mereka melakukan pergerakan politis dengan menggelar kongres pemuda seperti Jong Soematra Bond, Jong Java Bond, Jong Celebes dan lain-lain yang menjadi cikal bakal pergerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan.

Penjajahan turut pula membuka mata bangsa ini terhadap interaksi dengan dunia luar melalui perdagangan. Meskipun nenek moyang bangsa ini dikenal sebagai pelaut yang unggul dan bermigrasi ke berbagai tempat, namun beberapa produk bangsa Eropa menggunakan teknologi modern yang maju, turut membantu kemajuan bangsa ini. Misalnya, kendaraan bermotor, kereta api hingga pesawat terbang yang memudahkan perjalanan yang jaraknya sangat jauh.
Selanjutnya, ketika selama tiga tahun Jepang menjajah dengan cara represif lewat sistem kerja paksa dan memanfaatkan Indonesia sebagai alat untuk mencapai ambisinya memenangkan Perang Dunia II, Jepang mengajarkan keberanian kepada orang-orang Indonesia untuk menyongsong kemerdekaan. Tentara Jepang yang melatih pemuda Indonesia agar berani angkat senjata melawan Belanda yang ingin menjajah lagi.
Bercermin pada sejarah dengan dua mata sisi, sebagai bangsa yang pernah dijajah, bangsa Indonesia perlu menghargai jasa para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk mencapai kemerdekaan.
Terlepas dari sejarah kelabu sebagai negara yang pernah dijajah, Bangsa Indonesia perlu juga menghargai kebaikan negara-negara penjajah. Setidaknya, pengalaman pahit selama dijajah, menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kuat dalam memperjuangkan masa depan yang lebih baik, menjadi bangsa yang berdaulat. Merdeka!
Ratu Selvi Agnesia