Gaya Hidup Positif

Dengan Cinta dan Imajinasi, Tempe Rustono Kuasai Jepang

| dilihat 2816

Catatan Sem Haesy

OSAKA didekap dingin malam itu. Lelaki dengan over coat membalut jas, bertopi bareta bergegas masuk ke lobi Ritz Carlton Hotel, Osaka.

Rustono, 45, lelaki itu. Lelaki asal desa Grobogan – Jateng, yang populer di Jepang, sebagai juragan tempe. Ia tinggal di Shiga Perfecter, luar Osaka, tapi masih dalam satu wilayah, Kansei.

Rusto beken karena sukses memproduksi tempe di Jepang, lalu menebar kesuksesannya ke Kanada, Mexico, Perancis, Luxemburg, dan Korea. Dengan brand ‘Tempeh Rusto,’ produknya tersebar di 490 gerai supermarket seluruh Jepang.

Rustono berhasil menjadikan tempe sebagai bahan pangan alternatif di sini. Tapi, tak mudah baginya untuk mencapai sukses. Ia mengaku, kekuatan suksesnya hanya imajinasi dan kesungguhan mewujudkan imajinasi itu. Inilah yang membuatnya tahan, selama bertahun-tahun, menghadapi cobaan.

Rustono, pertama kali menjejak kaki di Jepang, 1 Oktober 1997, karena kepincut Tsuruko Kuzumoto, gadis Jepang yang dinikahinya 5 Oktober 1997. Ia jumpa Tsuruko, saat bekerja sebagai bell boy di hotel Sahid, Yogyakarta. Tsuruko bermalam di hotel, itu sebagai turis. Kini, perempuan itu, memberinya dua orang buah cinta: Noemi Kusumoto dan Remina Kuzumoto.

Kala awal menjalani hidup di Jepang, setiap hari sambil berkeliling naik sepeda, ia merenung: haruskah menjadi kuli lagi di negeri orang? Jawabnya, “Tidak! Saya harus berbisnis dan sukses!” Ia mencermati, di Jepang banyak kuliner dan bahan pangan asing. “Tapi, koq nggak ada ya kuliner dan bahan pangan dari Indonesia,” pikirnya.

Ia pun bermimpi, dan tempe, menjadi mimpi utamanya. “Di sini kan sudah sudah ada tahu, harus ada tempe dong,” ujarnya. Rusto mengembangkan mimpinya. Mengelola imajinasinya. “Itulah yang selalu memotivasi saya mewujudkannya menjadi kenyataan,” cerita Rusto.

Sambil mencari jalan mewujudkan mimpinya, Rusto bekerja di pabrik roti dan pengepakan sayuran, selama tiga tahun. “Sambil kerja, saya belajar disiplin, etos kerja, komitmen terhadap kualitas, profesionalitas, dan efisiensi bisnis,” sambungnya.

Rusto mengubah orientasi hidup, dan melakukan investasi waktu sesuai imajinasinya. “Imajinasi saya lebih besar dari masalah yang saya hadapi. Ini yang membuat saya tak pernah lelah menghadapi tantangan,” ungkapnya dengan mimik serius.

Selama itu juga dia belajar bagaimana menjaga bahan pangan yang higienis, sesuai standar sanitasi lokal Jepang, yang berlaku internasional.

“Dengan uang tabungan, setiap pulang kerja, mulailah saya buat tempe. Hasilnya: gagal, dan gagal lagi,” kisahnya. Tapi, imajinasi ‘sukses dengan tempe’ terus membesar.

Saya kontak orang tua di kampung bagaimana cara membuat tempe yang benar. Hasilnya, gagal lagi,” tukasnya. Akhirnya dia memutuskan: pulang dulu ke Jawa.

100 pabrik tempe dia kunjungi. 40 pabrik cuek dan menolaknya. “Dari 60 pabrik tempe di Solo dan Yogya, saya peroleh pengalaman dan teknik,” ungkapnya.

Rustono balik ke Jepang, membuat lagi tempe, dan gagal lagi. “Saya memohon kepada isteri untuk selama enam bulan bersikap manis kepada saya. Saya bilang padanya, kalau selama itu gagal lagi, saya berhenti bisnis,” tukasnya. Isterinya sepakat.

Suatu pagi, ia pergi ke Momoyama Temple. Ia berfikir, mungkin kegagalannya, karena membuat tempe dengan ambisius.

Rusto turun ke telaga, dan mengubah sikapnya: “Kali ini saya harus membuat tempe dengan cinta, seperti isteri saya menuruti ambisi saya,” kata Rusto dalam hati.

Energinya berderak. “Saya ambil air telaga itu, saya bawa ember, saya ambil airnya, saya pikul ke rumah, lalu saya pakai untuk membuat tempe. Eh, jadi.. Saya dan isteri senang. Tapi, belum memenuhi standar sanitasi Jepang,” ungkapnya.

Setelah berulang kali melakukan uji sanitasi selama setahun, dia berhasil. “Saya mendapat izin produksi dan boleh memasarkan secara luas.”

Persoalan lain pun menghadang: mau jual ke mana?. Rusto galau. Kala itu dia bergumam, “Tuhan, bila cobaan-Mu akan menguatkan saya memperjuangkan imajinasi saya, tambahkan lagi cobaan itu.”

Rusto bertemu ‘jalan.’ Ia pasarkan tempe di kalangan orang Indonesia di Jepang. Hasilnya, lumayan. Dari mulut ke mulut, tempenya mulai dikenal orang. Dia pun memberanikan diri. “Saya memasarkan tempe ke perusahaan catering, retoran, dan hotel. Hasilnya? Semua menolak,” ceritanya.

Uang penjualan tempe yang terbatas dan gaji yang dia kumpulkan, dipergunakan membuat pabrik kecil di rumahnya, desa Katsu – Ragawa, Shiga Ken.

“Saya bangun sendiri, ketika musim dingin, melawan salju yang turun selama berhari-hari,” kisahnya.

Suatu hari seorang lelaki menegur dan memotretnya. Berbahaya mendirikan bangunan di musim dingin. Rusto menjawab, ”Biarin.

Saya sedang membangun impian saya. Salju tak mampu melawan  imajinasi saya.” Orang itu pergi. Tiga hari kemudian datang lagi, dan mewawancarainya. Rustono kaget, keesokan harinya, wajah dan tempenya menghiasi Yumiori Shinbun, koran besar di Jepang, itu.

Rusto dan tempenya pun terkenal. Beberapa hari kemudian, perusahaan catering, restoran, dan hotel yang pernah menolaknya mengontak. Rusto mengirim sampel. “Saya kewalahan menerima pesanan. Mereka menunggu tempe saya.”

Rusto pun berbagi pengalaman kepada para kolega mancanegara yang berminat membuat tempe, melalui Skype. Lalu, mengajak mereka belajar langsung membuat tempe ke Solo dan Yogya.

Cinta, membuatnya ingin berbagi sukses. Itu pula yang mendasarinya, selalu mengimpor mesin pembuat tempe dari Jawa. “Supaya pembuat mesin tempe juga bangga, produknya tersebar di mancanegara,” tegasnya.

Dengan cinta, dia memberi nilai manfaat tempe bagi konsumennya. Kini, bersama Tsuruko, ia menawarkan konsep tempe sebagai life data-style. Menikmati tempe dengan enjoy, sambil minum shake, mendengarkan musik dan memadu kasih,” ujarnya.

 “Dengan cinta kita akan melihat segala hal positif dan menjadikan hidup kita selalu optimistis,” ujarnya sambil menghirup kopi malam itu.. |  

Editor : N Syamsuddin Ch. Haesy
 
Sporta
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1063
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3183
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya