Aksesoris Fesyen

Demam Batu Akik Melanda Lagi

| dilihat 3069
AKARPADINEWS.COM - Demam batu alam atau batu akik sepertinya menjadi demam bersama masyarakat Indonesia selain demam politik. Gandrung baru akik seolah tersebar rata dari kota-kota besar hingga pedesaan. Pedagang batu berkeliaran dari lapak kecil hingga pasar besar. Bahkan, demam batu alam ini dipasarkan hingga media sosial. Pamor batu akik pun kembali naik daun.
 
Jakarta salah satu satu contohnya, dari pengamatan lingkungan di kawasan  mal “Rawa Bening”  Jakarta Timur  yang berada depan Stasiun Jatinegara. Mal ini menjual khusus batu alam, menyaksikan para penjunjung sudah dapat dipastikan gandrung masyarakat terhadap batu alam sudah sulit terbantahkan.  
 
Pedagang batu dan pembeli selalu berkerumun dari pinggir jalan hingga pasar batu khusus, mereka dengan hikmat mengelilingi batu alam, selalu bergantian dari siang hingga malam. Terpukau dengan keindahannya warna, bentuk, corak, jenis selain filosofis, sugesti rasa terhadap pemakai bahkan investasi besar jika akan dijual kembali.  
 
Konon demam batu akik di mulai ketika beberapa pejabat memakai batu akik untuk prestige dan mensugesti kharismanya. Ternyata batu akik ini juga terjangkau bagi masyarakat dari harga 10 ribu hingga jutaan rupiah. Menarik sekali untuk mengamati pasar batu akik melalui kajian sosial dalam melihat pasarnya. 
 
Begitu memasuki pasar Rawa Bening, dari lapak kecil hingga yang menyerupai toko besar berjejer lengkap. Orang-orang pecinta hingga pedagang batu akik tumpah ruah. Suara mesin gir hingga yang paling khas adalah aktivitas menggosok dan memoles batu agar lebih indah, menjemur, hingga mengarahkan cahaya ke batu untuk melihat tembusnya cahaya di batu menjadi pemandangan luar biasa diselingi dengan dialog-dialog yang menarik seperti, “Rubinya tembus nih”, “Bacan mahal ini, langka”, “Kalau batu ini pasti kalau dipakai bawaanya tenang” dan berbagai respon dari pecinta batu akik.  Tapi di balik itu yang paling menarik jika kita membicarakan harga.
 
Berbeda dengan pasar tradisional atau di supermarket, pasar batu akik menyerupai pasar saham di Bursa Efek Jakarta. Fluktuaktif dan sulit untuk dipastikan. Pernah di depan penulis, seorang penggemar batu akik menjelaskan bila dia membeli batu Rubi seharga Rp 300 ribu dan menjualnya seharga Rp 4 juta .      
 
Selain itu, yang paling menggelitik adalah cara para penjual dan pembeli menyebutkan harga. Seperti untuk hargaRp  2 juta mereka sebut hanya dua ribu saja. Lucunya, transaksi ini akan terbalik dengan bila kita membeli bakso, harga Rp 5 ribu disebut dengan dua juta. Penyebutan harga dua juta menjadi dua  ribu ini untuk memberikan kesan murah dan terjangkau pada pembelinya sehingga pembeli dibuat gelisah, lalu jika sudah jatuh cinta, akhirnya batu itu harus dimiliki juga.
 
Demam batu akik begitu powerfull dari sekadar perhiasan, kepercayaan di luar nalar hingga mampu menjadi sebuah lapangan kerja baru, dari seorang kuli, orang kantoran hingga seniman, mahasiswa dan anak Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) bisa menjadi pemain dalam bidang ini. 
 
Lalu sampai kapan demam batu akik ini akan bertahan? Sebenarnya masyarakat Indonesia adalah tipe masyarakat yang fleksibel, adaptif tapi akan mudah bosan dan dengan mudah berpindah jika ada tren baru yang lebih menarik. Demam batu akik ini akan tergantikan jika terdapat tren yang lebih menarik dari berbagai sisi terutama dalam sisi pragmatis Kita tunggu demam yang akan melanda masyarakat selanjutnya.  |Ratu Selvi Agnesia
 
Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Humaniora
26 Mei 26, 06:53 WIB | Dilihat : 491
Dimensi Haji
21 Mei 26, 21:54 WIB | Dilihat : 463
Jamaah Haji Syarikat Islam Apresiasi Peningkatan Layanan
Selanjutnya