
Bang Sem
Trang trang kolentrang, Si londok paeh mandutan
Tikusruk kana durukan, Mesat gobang kabuyutan
SALAH satu kuplet tembang Cianjuran ini saya suka. Memilih model lirik berpantunan dengan memilih kata-kata yang terkesan guyonan, tapi mengena. Secara bebas, lirik ini bisa diartikan: trang-trang kolentrang, bunglon mati terkantuk, terpuruk ke bara api, mencabut pedang pusaka leluhur.
Syair ini metafor dari mereka yang tak mempunyai sikap tegas dalam bersikap, sambil mencari dan mencuri peluang untuk terus berkuasa dari masa ke masa dengan beragam cara. Akhirnya, mati karena melakukan sesuatu yang tak mesti dilakukannya.
Dalam setiap pergantian kekuasaan, selalu ada manusia yang berfikir hanya untuk kepentingannya sendiri. Mereka tak berani mengambil sikap lugas dalam menentukan sikap. Utamanya terhadap kekuasaan. Kiri kanan oke. Akibatnya tidak mempunyai sikap dan pandangan kritis terhadap realitas yang harus dihadapinya.
Sikap demikian sering disebut sebagai sikap oportunis. Sikap mendua, selingkuh, atau telingkah.
Manusia yang bersikap demikian sungguh berbahaya. Terutama karena sikapnya yang tidak konsisten, tidak istiqamah. Mereka bersembunyi di balik sikap moderat yang keliru, karena bisa mengontaminasi independensi, yang sesungguhnya sikap mulia. Karena mereka yang independen, mengambil jarak yang sama dengan berbagai polar yang berada di dalam realitas hidup.
Para oportunis tidak mengambil jarak ketika dihadapkan oleh dua pilihan, karena bergantung pada keperluan dan kepentingannya, dalam waktu yang hampir bersamaan dia bisa menjadi bagian dari polar-polar yang ada.

Saya bersyukur memiliki banyak teman, bukan para oportunis. Sikap mereka tegas. Mereka menunjukkan secara terbuka ketika menentukan posisi sebagai independen, dan melakukan hal yang sama ketika menjadi bagian suatu polar. Jadi, jelas, mereka bukan bunglon yang digambarkan dalam pantun ini.
Sikap oportunis, biasanya dimiliki politisi berkualitas rendah yang kerap berkiprah dalam low politic, politik praktis yang hanya berorientasi pada perburuan kursi kekuasaan semata. Sikap semacam ini juga dimiliki pedagang yang memusatkan seluruh aksi bisnisnya hanya untuk kepentingan memperoleh rente.
Para oportunis dicirikan sangat lugas. Khianat kala diberi amanat, pandai berdusta, fujur (berlebihan) dalam bertikai, ingkar janji, bersumpah palsu, pura-pura dalam beribadah, riya’ (ujub dan takabbur) -- termasuk pongah dan sombong --. Dia juga senang mencela orang yang beribadah, enggan berbagi dan tak hirau dengan nasib insan sesama, senang namimah (mengadu-domba), ingkar pada realitas, banyak beralasan dan tak mau mencari cara menyelesaikan masalah.
Setarikan nafas, dia senang melakukan pembenaran dan menjauhi kebenaran, serta senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.
Metafor bunglon sering digunakan untuk menjuluki orang semacam ini, karena perilaku hidup kaum atau para oprtunis memang mirip-mirip dengan bunglon. Di daun dia berwarna seperti daun, di batang kayu dia berwarna seperti batang kayu, di laras senjata pun dia akan berubah warna seperti warna laras senjata itu.
Jadi, berhati-hatilah dengan para bunglon yang gaya hidupnya sering mengelabui kasad mata kita.. |