Berjuang Bersama Menaklukan Pandemi Covid 19

| dilihat 178

haedar mohammad

Tak ada yang bisa menyangkal,  kematian yang ditimbulkan oleh serangan virus Covid 19 di Indonesia  mencapai angka yang sangat tinggi.

Data resmi dari informasi khalayak yang disiarkan Satuan Tugas Penanganan Covid 19 per Jum'at (9 Juli 2021) menunjukkan angka kematian sebanyak 64.631 orang dengan bilangan penambahan sebanyak 871 orang.

Bilangan itu mengikuti perkembangan bilangan suspek terkonfirmasi sebanyak 2.455.912 orang dengan penambahan sebanyak 38.124 orang; dan kasus aktif sebanyak 367.733 dengan penambahan 8.278 orang.

Dari perkembangan itu angka kesembuhan korban mencapai 2.023.548 orang dengan bilangan penambahan kesembuhan 28.975 orang.

Total spesimen yang diperiksa mencapai 21.402.544 orang dengan penambahan 219.915 melalui pemeriksaan PCR dan TCM 17.487.494 orang dan test antigen 3.915.050 orang. Akan halnya orang terperiksa mencapai 14.373.845 orang.

Ledakan penyebaran yang terjadi beberapa hari terakhir dengan kumulasi kematian yang tinggi, boleh diduga, tersebab oleh kepanikan khalayak yang terpapar, lalu berfikir singkat memerlukan perawatan di rumah sakit. Sedangkan rumah sakit, alat dan tenaga kesehatan sangat terbatas. Tidak seimbang antara kapasitas dan jumlah orang yang harus memerlukan perawatan.

Di Jakarta, yang menjadi episentra utama penyebaran virus semua kalangan, dari unsur forum komunikasi pimpinan daerah (FORKOPIMDA) sampai tingkat kelurahan, terlihat bergerak melakukan berbagai upaya.

Termasuk menyadarkan siapa saja yang abai dengan kondisi dan melanggar aturan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat Jawa Bali yang ditetapkan Pemerintah Pusat sejak tanggal 3 sampai 20 Juli 2021.

Aturannya sudah jelas. Tinggal lagi, bagaimana mematuhi aturan tersebut. Ruang kolaborasi sudah sejak lama dibuka, sehingga memungkinkan berlangsungnya partisipasi aktif masyarakat untuk ikut ambil peran tanggung jawab, termasuk media.

Tapi, memang tidak mudah menggerakkan kesadaran kolektif. Belum semua kalangan, secara sadar dan jelas mengambil posisi fungsional dalam kolaborasi tersebut, dan masih melihat sekaligus menempatkan situasi dan kondisi sebagai obyek. Lantas mengeksplorasi dan mengeksploitasi keadaan yang dipandang tak sesuai dengan perspektif dan sudut pandang, sekaligus kepentingan di dalamnya.

Kesan demikian nampak dan terasa dari berbagai pemberitaan, termasuk hoax yang seliweran yang amat mengganggu, bahkan menekan mereka yang sehat ke dalam situasi understressed dan berpotensi menciptakan situasi depresi sosial.

Banyak media dan kalangan yang masih hanyut dengan kebiasaan bad news is a good news, serta untuk dan atas nama cover both side menghadap reason (alasan) dengan way (cara). Khasnya dalam konteks penegakan aturan tentang PPKM. Akibatnya perkembangan pencapaian baik, tren naik angka penyembuhan, nyaris terabaikan.

Akibatnya, khalayak terus menerus dijejali oleh informasi yang mencekam, tentang kematian dan keterpaparan. Belum banyak yang mendorong khalayak untuk menghadapi situasi secara kolaboratif, mewujudkan sinergi kuat menaklukan pandemi yang memang merupakan tantangan abad ke 21.

Di media sosial, juga terlihat dinamika politicking masih kuat, masih menghadirkan sikap pro kontra atas berbagai tindakan negara dan pemerintah. Lewat media mainstream (diikuti media sosial) juga masih mengemuka perseteruan antar politisi, menyikapi berbagai hal terkait dengan PPKM dan kondisi lapangan.

Dalam situasi darurat, mestinya ada upaya pengendalian diri untuk bersama-sama, fokus pada upaya pemulihan secara kolektif. Tak perlu lagi kembali ke pangkal, mengungkap bagaimana para petinggi menganggap enteng virus ini. Pun tak ada gunanya bertentangan dan mempertentangkan sesuatu yang sudah berlalu, termasuk realitas obyektif menurunnya daya dukung alam akibat eksploitasi berlebihan.

Perlu perubahan minda, cara berfikir yang menghidupkan optimisme, bahwa kita mau dan mampu mengatasi keadaan, keluar dari situasi sulit, dan melakukan perubahan budaya - terutama kebiasaan - kembali ke garis azimuth kebangsaan, untuk menaklukan pandemi dan dampaknya. Lantas mengambil hikmah besar dari situasi dan kondisi, untuk melayari transhumanisme, meningkatkan skill dan kearifan dalam mengatasi masalah.

Lantas, bersama-sama merumuskan rencana panjang ke masa depn, kala kelak pandemi berakhir. Pelajaran amat berharga dari situasi darurat yang juga dialami berbagai negara dan bangsa di dunia adalah berhenti pongah. Termasuk kesungguhan dalam mengelola kekuasaan untuk kepentingan kemaslahatan umat manusia.

Pada masa darurat ini, mestinya, semua orang berfikir, bersikap, dan bertindak melindungi diri dari virus, mulai dari pembiasaan melakukan pola dan gaya hidup sehat yang amat praksis, seperti selalu memelihara kebersihan tangan yang baik, kebersihan pernapasan yang baik dan menjaga jarak sosial, menghindari kerumunan dalam kelompok berisiko tinggi. Termasuk menghindari keramaian. tempat dan kontak dekat dengan siapa pun yang memiliki gejala pernapasan tak sehat, mengenakan pelitup (masker), dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Bagi kalangan tertentu yang diposisikan Tuhan sebagai ulul albab - cendekiawan dan berilmu, manfaatkan momen darurat untuk melakukan perenungan, pengkajian sintiis dan spiritual serta kultural. Termasuk bertanya kepada diri masing-masing, isyarat Tuhan apa dan bagaimana yang sesungguhnya melekat pada pandemi nanomonster Covid-19. Termasuk mengambil benchmark berbagai negara yang berhasil keluar dari petaka ini.

Apa sungguh yang harus kita lakukan, supaya Tuhan menunda rencana-Nya, 'memanggil pulang' jutaan hamba-Nya, yang di antaranya adalah hamba-hamba yang saleh dan salehah. Sekaligus memperingatkan yang masih tersisa dalam kehidupan untuk mengubah perilaku, berhenti mengeksploitasi alam.

Selebihnya adalah mendisiplinkan manusia secara keras tegas. Bukankah dari sudut pandang sains, sesungguhnya nanomonster COVID-19 merupakan anggota dari keluarga virus coronaviridae, atau coronavirus. Disebut begitu, karena dari penampakan partikel virus di bawah mikroskop, memperlihatkan  tonjolan protein kecil pada permukaannya. Virus yang tampak dikelilingi oleh korona.

Tidakkah virus ini merupakan turunan dari virus yang selama ini sudah hidup bersama-sama kita di alam semesta. Adakah seragan nanomonster Covid 19 ini, merupakan reaksi periodik setelah berlangsungnya pandemi influenza tahun 1918, yang sering salah disebut sebagai "flu Spanyol," yang di masanya menewaskan 5 persen dari penduduk dunia -- sekitar 50 sampai 100 juta nyawa manusia.

Pandemi memang mengerikan dan mencekam. Pandemi 1918 yang merenggut nyawa orang dewasa muda yang sehat, dibandingkan dengan anak-anak dan orang tua, yang biasanya paling menderita. Pandemi 1918 selama ini dianggap sebagai pandemi terbesar dalam sejarah karena berbarenga dengan Perang Dunia I. Lantas pandemi Covid 19 ini sesungguhnya isyarat perang dunia yang nyata, ketika keangkuhan manusia ditaklukan oleh nanomonster, makhluk yang hanya bisa dilhat dan dikenali melalui mikroskop?

Wallahu a'lam bissawab. Yang pasti adalah, pandemi ini memberi ruang bagi manusia untuk hidup sehat, tidak meracuni dan melemahkan ketahanan dirinya sendiri dengan beragam bahan pangan instan, menghentikan kebinalannya merusak  dan mengeksplorasi alam melalui pertambangan dan penggundulan hutan secara berlebihan. Sekaligus menantang manusia kreatif dan inovatif untuk menang.

Apapun argumentasi yang mengemuka, strategi paling jitu saat ini adalah: memahami realitas, bahwa virus ini ada dan akan terus mengganas, sepanjang manusia tidak mengubah cara berfikir, bersikap dan berkehidupan secara beradab. Manusia harus melakukan perubahan menjadi manusia sejati yang mampu mengendalikan diri dan tidak pongah terhadap sesamanya dan alam. Pun, tidak derhana kepada Tuhan.. |

Editor : eCatri | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 341
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 511
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 497
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 433
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
Selanjutnya
Polhukam
10 Jul 21, 07:47 WIB | Dilihat : 143
Politik Tahu Diri Tun Mahathir dan Parti Pejuang
06 Jul 21, 05:38 WIB | Dilihat : 833
Melihat Ketegasan Gubernur Anies Baswedan
05 Jul 21, 21:17 WIB | Dilihat : 121
Siasat Lewati Masa Darurat
03 Jul 21, 15:35 WIB | Dilihat : 179
Siasat Cirit Birit Bendera Putih Politik Darurat
Selanjutnya