Asastra Buana untuk Yojanakarsa Ibu Ani Yudhoyono

| dilihat 2424

Bang Sem

MALAM merambat, Senin (13/10). Di Gedung Bidakara – Jakarta Selatan, Kementerian Lingkungan Hidup menggelar acara bertajuk “Refleksi dan Apresiasi Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup periode 2009-2014.”

Sejumlah kalangan hadir dalam acara yang juga berkabar tentang komitmen terhadap lingkungan hidup. Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya melangkah ke podium dan bicara. Ia mengatakan, kementerian yang dipimpinnya, telah berupaya memastikan pembangunan Indonesia berjalan sesuai empat pilar program pemerintahan Presiden SBY, yakni Pro Job, Pro Poor, Pro Growth, dan Pro Environment.



Tak hanya itu, Kambuaya juga menyatakan, Kementerian KLH yang dipimpinnya, memastikan terkendalinya laju pencemaran yang berhasil menurunkan beban pencemaran dari kegiatan industri domestik. Lantas, pertambangan ramah lingkungan secara signifikan melalui peraturan pemerintan tentang izin lingkungan. Kemudian, peraturan pemerintah tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga. Lalu, RPP pengelolaan limbah B3.

Puncak acara malam itu, ketika hujan belum juga turun di bulan Oktober, Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudhoyono, memberi sambutan. Itulah sambutan terakhir Ibu Negara di hadapan khalayak, karena 20 Oktober mendatang sudah ada Presiden dan Ibu negara yang baru.

Bu Ani mewanti-wanti agar seluruh masyarakat Indonesia terus meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan lingkungan, agar dunia, khasnya Indonesia terhindar dari dampak pemanasan global.

“Bulan Oktober ini hujan belum juga turun,”tukas Bu Ani. Lantas menambahkan, di beberapa daerah kekeringan sudah melanda. Dunia, katanya, kini tengah menghadapi kerusakan ozon, pemanasan global, pencemaran, pemusnahan spesies, dan limbah berhaya.

Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya kekeringan dan banjir yang diperburuk oleh perubahan iklim. Banyak faktor penyebab terjadinya kondisi buram seperti itu.  “Berbagai aktivitas manusia dan industri, menyebabkan emisi gas rumah kaca ke atmosfer meningkat tinggi, sehingga memicu perubahan iklim itu.”

Hadirin terpaku barang sejenak. Bu Ani melanjutkan pidatonya. “Pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi upaya penyelamatan lingkungan akan merusak alam.”Itulah sebabnya, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca, bahkan menjadikannya kebijakan nasional.

Bu Ani mengingatkan, dalam KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark (2009), RI secara sukarela mengurangi emisi gas rumah kaca. Lingkungan dan kesejahteraan hidup harus seimbang. Tak bisa pertumbuhan ekonomi menafikan kerusakan lingkungan. 
"Presiden SBY selalu mengatakan bahwa kita harus bisa meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat tanpa merusak lingkungan. Itu kebijakan yang harus dilakukan oleh pemangku kepentingan negeri ini," kata Bu Ani.



Ibu Negara yang sejak kecil karib dengan lingkungan alam yang asri, termasuk sungai Ciliwung yang belum tercemar, selama ini mengambil bagian menggerakkan dan memotivasi masyarakat melakukan perlindungan lingkungan.

Tahun 2007, Bu Ani memprakarsai gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara (GPTP) yang lalu berdampak positif bagi gerakan tanam 1 miliar pohon. Bersama SIKIP (Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu) dan tujuh organisasi perempuan, 1 Desember 2007 Bu Ani memulai gerakan nyata penghijauan dan menjaga lingkungan.

Tidak hanya menanam, tetapi juga memelihara kelestariannya," jelas Bu Ani, yang menyadari pada diri perempuan melekat dimensi pemeliharaan dan pengasuhan. Aksi yang dilakukan Bu Ani, menjelma menjadi Yojanakarsa, gagasan visioner.

"Presiden SBY selalu mengatakan bahwa kita harus bisa meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat tanpa merusak lingkungan. Itu kebijakan yang harus dilakukan oleh pemangku kepentingan negeri ini," kata Ibu Ani.



Selain kepada Ibu Ani, Penghargaan Asasta Buana diberikan kepada Mantan Direktur Utama Karen Agustiawan, Mantan Menteri Lingkungan Hidup Erna Witoelar, Anggota BPK RI Ali Masykur Musa, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini.

Untuk mendorong gerakan tanam dan pelihara itu, Bu Ani menggerakkan Mobil Hijau yang mendistribusikan bibit dan pupuk, juga mengedukasi dan memotivasi masyarakat menanam dan memelihara pohon.  Bagi Bu Ani, berkecimpung dengan tanaman merupakan healing therapy yang sangat bagus.

Dari karya-karya fotografinya, juga nampak, Bu Ani sangat peduli terhadap alam lingkungan sekitar. Grakan satu anak satu pohon yang dicanangkannya, akan menjadi inspirasi yang baik untuk terus dilanjutkan.

Bu Ani juga memberikan perhatian khas terhadap tanaman Kelapa yang multi makna karena seluruh bagian dari pohon itu berguna bagi kehidupan manusia. Demikian juga dengan Sukun, Ki Hujan, dan lainnya.

Selain pohon-pohon bunga dan tanaman hias, di kediaman keluarga Pak SBY dan Bu Ani di Puri Cikeas, pohon-pohon sukun nampak berdiri kokoh. Pohon sukun, menurut Bu Ani juga multi manfaat. Buahnya untuk keragaman pangan, daunnya untuk obat, dan pohon itu sendiri bermanfaat untuk menjernihkan air. | 

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
23 Agt 26, 12:57 WIB | Dilihat : 138
Keterbatasan Bukan Penghalang
11 Jul 26, 22:56 WIB | Dilihat : 479
Daya Cinta Rakyat kepada Ayatollah Ali Khamenei
Selanjutnya
Budaya
19 Agt 26, 19:43 WIB | Dilihat : 352
Gema Bumantara Siti Nurhaliza dan Refleksi Pemikiran STA
23 Jun 26, 22:10 WIB | Dilihat : 750
Jakarta Ruang Lebih Luas Bagi Budaya dan Seni
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 704
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
20 Mar 26, 08:16 WIB | Dilihat : 656
Budaya Betawi Mesti Jadi Cover Budaya Jakarta
Selanjutnya