Brexit Mengancam Liga Inggris

| dilihat 2514

AKARPADINEWS.COM | KEPUTUSAN mayoritas warga Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (UE) atau dikenal British Exit (Brexit) tak hanya berpengaruh kepada keadaan sosial politik di Inggris.  Namun juga berdampak bagi sepakbola Inggris.

Dengan keluarnya Inggris dari zona Eropa, maka pamor keberlangsungan Liga Premier Inggris diperkirakan bakal melorot. Misalnya, terkait dengan kebijakan transfer pemain. Selama ini, klub-klub di Liga Premier Inggris mendatangkan beberapa bintang pemain Eropa yang tentu menyedot perhatian dunia, khususnya masyarakat Eropa pencinta sepakbola.

Selama ini, para pemain asing dari negara-negara Eropa tidak dibebankan aturan izin bermain atau kuota pemain non Inggris. Dengan begitu, klub-klub Inggris dapat langsung menggunakan jasa pemain, tanpa harus direpotkan dengan ketentuan yang mengatur mengenai izin menetap.

Dengan keluarnya Inggris dari UE, kemungkinan kebijakan transfer akan berubah. Pemain asing non Inggris, baik dari Eropa maupun negara non Eropa, akan dikenakan beberapa aturan baku dari asosiasi sepakbola Inggris (FA). Salah satunya, perihal aturan kuota pemain asing. Ketentuan itu tentu menghalau industri sepakbola Inggris yang menyuguhkan laga sepakbola yang diramaikan pemain-pemain terkenal dari negara-negara Eropa maupun negara-negara lain.

Selama ini, pembatasan jumlah maksimal pemain asing dalam tim utama tiap klub Liga Inggris ialah sebanyak 17 pemain di atas usia 21 tahun. Jumlah itu termasuk tiga non Eropa. Dari kuota 17 pemain asing itu, hanya pemain asing non Eropa yang dikenakan aturan izin bekerja oleh Pemerintah Inggris melalu FA. Tanpa adanya izin itu, pemain non Eropa tidak dapat dimainkan.

Dengan keluarnya Inggris dari UE, maka seluruh pemain Eropa akan dibebani kewajiban yang sama seperti pemain non Eropa. Mereka diwajibkan untuk mengurus izin bekerja melalui FA agar dapat berlaga.

Hal ini tentunya akan sangat merugikan klub sepakbola di Inggris. Sebab, banyak klub elit Inggris bergantung pada pemain asing Eropa untuk dapat mempertahankan performa laga yang disuguhkan.

Selain itu, ada beberapa kriteria pemain yang bisa mengajukan izin bekerja. Pertama, pemain dari negara yang berada di peringkat 1-10, FIFA harus bermain setidaknya 30 persen dari laga yang dimainkan selama dua tahun berturut-turut. Artinya, pemain tersebut harus mampu menembus tim utama dan dimainkan minimal setengah hingga satu babak di tiap laga internasionalnya bersama tim nasional (Timnas).

Lalu, untuk peringkat 11-20 FIFA, pemain harus membela Timnas masing-masing dan bermain setidaknya 45 persen pada laga internasional. Persentase itu meningkat menjadi 60 persen untuk 10 peringkat selanjutnya, yakni 21-30. Dan, untuk peringkat 31-50, persentasenya menjadi 75 persen.

Ketentuan itu tentu merugikan klub dan pemain asing Eropa yang mengadu nasib di Liga Premier Inggris. Di antara pemain tersebut ialah N’Golo Kante, Dimitri Payet, dan Anthony Martial. Sebab, ketiga pemain Perancis itu belum menjadi pilihan utama di Timnas Perancis sebelum EURO 2016.

Selain akan sulit mendatangkan pemain asing, kebijakan transfer juga dihadapkan persoalan harga. Dr Babatunde Buraimo, pakar ekonomi dunia olah raga dari Universitas Liverpool mengatakan, persoalan Brexit akan menyebabkan harga pemain Eropa akan meroket.

Sebab, kesulitan memperoleh pemain Eropa berkelas akan menyebabkan kelangkaan pemain Eropa yang merumput di Liga Inggris. Padahal, selama ini banyak klub yang bergantung pada pemain asing Eropa.

“Ketika Liga Premier Inggris membatasi keberadaan pemain Eropa (non Inggris), maka hal itu akan menyebabkan harga pemain berkualitas Eropa itu akan bertambah, termasuk di dalamnya nilai transfer dan gaji pemain. Selain itu, klub akan sulit menemukan talenta-talenta baru di luar Inggris yang dapat menjadi investasi klub, seperti Kante oleh Leciester City,” ujarnya.

Dengan segala kebakuan aturan yang diterapkan FA itu, ada kemungkinan besar Liga Premier Inggris tidak akan menjadi tujuan berkarir pemain-pemain Eropa. Bagi Pemerintah Inggris, tentu dampaknya akan memangkas pendapatan pajak dari pemain-pemain Eropa yang telah bermain di Liga Premier Inggris dalam beberapa tahun ke belakang.

Pendapatan pemerintah dari pajak pemain, kisarannya hingga 45 persen dari gaji yang didapatkan dalam sepekan. Bila gaji pemain Eropa sebesar 200 ribu Poundsterling per pekan, maka pendapatan pajak dari seorang pemain Eropa mencapai 90 ribu Poundsterling atau setara dengan Rp1,6 miliar.

Potensi pendapatan pajak itu di luar dari pajak sponsor yang mungkin dibawa pemain. Dari potensi pendapatan itu, sudah jelas terlihat seberapa besar potensi pendapatan pajak yang hilang dari satu pemain saja. Sedangkan, di Liga Primer Inggris saat ini, pemain asing dari Eropa sudah mencapai kurang lebih 200 pemain.

Selain potensi pendapatan pajak, pendapatan keseluruhan dari penyelenggaraan Liga Premier Inggris akan terancam. Dengan tidak adanya kemampuan menjaring pemain-pemain berkelas dari di benua Eropa dengan bebas, pastinya Liga Premier Inggris akan lesu dari permintaan penayangan ekslusif dari berbagai negara. Karena, pemain-pemain top Eropa merupakan salah satu alasan penggemar Liga Premier Inggris ingin menontonnya.

Meski memiliki dampak negatif, Brexit ada sisi positif yang cukup berguna bagi Inggris. Dengan keterbatasan klub menggunakan jasa pemain berkelas dari benua Eropa, maka memungkinkan pemain lokal Inggris mendapat tempat lebih. Hal itu tentunya akan mendorong perkembangan sepakbola Inggris yang sangat kurang regenerasi.

Minimnya regenerasi dapat terlihat dari jajaran pemain yang menghiasi klub-klub elit Inggris. Hampir rata-rata pemain utamanya adalah pemain dari luar Inggris dan pemain Inggris hanya hitungan jari.

Bahkan, ada pemain lokal yang sebenarnya berkualitas namun kurang mendapat sorotan, seperti Jamie Vardy dari Leicester City. Pemain asal kota Sheffield, Inggris itu baru bersinar namanya tatkala berhasil membawa Leicester mendobrak dominasi klub elit Inggris.

Di usianya yang ke 29 tahun, Vardy baru merasakan membela Timnas Inggris kala Euro 2016. Padahal, dia bisa saja bersinar dari dulu bila klub-klub elit tidak disesaki oleh pemain-pemain asing, khususnya dari benua Eropa.

Hal yang paling mengenaskan ialah pada posisi penjaga gawang. Seharusnya, kiper-kiper Inggris menjadi raja di rumahnya sendiri. Namun, beberapa klub elit lebih mempercayai mistar gawangnya dijaga oleh penjaga gawang asing.

Kegemilangan nama penjaga gawang asing itu menenggelamkan nama-nama penjaga gawang asli Inggris. Selama beberapa dekade ke belakang, sejak pensiunnya David Seaman dari Arsenal, kiper asli Inggris yang berhasil merangsek masuk ke dalam tim utama klub elit Inggris baru Joe Hart di Manchester City.

Greg Dyke, Ketua FA, mengatakan, Brexit pastinya akan memiliki dampak bagi dunia sepakbola Inggris. Namun, dia mengajak publik sepakbola Inggris untuk melihatnya sebagai momentum pengembangan bibit muda.

Menurutnya, selama ini para pemain muda Inggris tidak dapat berkembang dengan pesat disebabkan kurangnya panggung untuk mereka di klub-klub besar. Untuk itu, Dyke berpendapat, bila momentum Brexit  ini bisa dioptimalkan untuk mengembangkan talenta muda Inggris maka dia akan lakukan itu. “Apapun peristiwa yang bisa memicu munculnya tempat bagi pemain muda Inggris bersinar, maka saya akan memanfaatkan itu,” ujarnya.

Perihal kekhawatiran beberapa pengamat akan dampat negatif Brexit terhadap dunia sepakbola Inggris, Dyke berpendapat, hal itu tidak dapat langsung disimpulkan akan terjadi. Baginya, dampak itu akan muncul dalam beberapa tahun setelah referendum ini berlaku.

“Mungkin yang akan terasa langsung ialah klub tidak dapat dengan leluasa untuk membeli pemain Eropa berkualitas untuk membela klubnya. Itu (perubahan regulasi pasca Brexit) membutuhkan proses,” ujar Dyke.

Momen ini harus dimanfaatkan FA untuk membenahi peraturan sehingga keluarnya Inggris dari UE tidak memiliki dampak besar bagi keberlangsungan Liga Premier Inggris. Revisi kebijakan yang perlu segera dilakukan adalah yang mengatur pendaftaran pemain asing untuk mengubah kebijakan transfer yang sudah ada.

FA harus bisa merumuskan kebijakan transfer yang tidak memberatkan bagi pemain luar Inggris untuk masuk dan berkembang bersama klub-klub Inggris. Di sisi lain, peraturan itu harus bisa melindungi keberadaan talenta-talenta lokal agar mereka bisa berkembang dengan baik dan regenerasi sepakbola Inggris bergulir dengan baik. Apapun bentuk hasil perubahan aturan yang berlaku nantinya, FA harus segera bergerak cepat. Jika tidak, keberlangsungan Liga Premier Inggris bakal terancam.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : The Telegraph/This is Money/Sports Illustrated/BBC/Mirror/Sky Sports
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1936
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 2299
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
Selanjutnya
Energi & Tambang
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 359
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1205
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1458
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya