AKARPADINEWS.COM | ADA tiga peristiwa yang menjadi sorotan publik menjelang peringatan Hari Teater Dunia pada 27 Maret 2016 lalu. Ketiga peristiwa yang terjadi di Bandung, Jawa Barat itu yakni: Pertama, segerombolan massa dari sebuah Ormas Islam menolak pertunjukan monolog Tan Malaka: Saya Rusa Berburu Merah.
Alasannya, pertunjukan itu berbau komunis. Ulah Ormas itu pun memaksa pertunjukan yang digagas Mainteater Bandung itu batal menggelar pentas pertamanya, Selasa, 23 Maret dan baru diselenggarakan di hari berikutnya.
Kedua, cara-cara serupa juga terjadi saat pertunjukan pantomime Wanggi Hoediyanto. Empat polisi menghentikan secara paksa pertunjukan yang diselenggarakan untuk memperingati Perayaan Tubuh Internasional 2016 yang digelar di Jalan Asia Afrika, Minggu malam, (27/3).
Wanggi mengaku dirinya mendapat indimidasi dari beberapa intel berseragam preman. Pertunjukannya dihentikan karena dianggap tidak mengantongi izin. Ketiga, penyelenggaraan Festival Teater Remaja V se-Jawa Barat pada 19-27 Maret 2016 di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung
Ketiga peristiwa itu seakan menunjukan jika panggung keseharian justru lebih menjadi sorotan dibandingkan panggung teater. Fenomena itu seolah membuka mata, sekaligus menanamkan kesadaran jika terjadi transformasi ulang-alik antara kehidupan di atas panggung teater dengan kehidupan keseharian.
Sampai-sampai, mereka yang tidak diundang menonton teater pun dibuat penasaran lantaran menyaksikan truk yang mengangkut polisi berjaga-jaga di depan gedung yang mementaskan Tan Malaka, atau ketika melihat pertunjukan pantomim dibubarkan paksa polisi karena dianggap tidak memiliki ijin keramaian.
Realitas demikian menunjukan yang bukan tontonan justru menjadi tontonan. Sementara yang sengaja disuguhkan untuk ditonton, dilarang ditonton. Peristiwa penghentian paksa pementaan teater itu mungkin serupa jika melihat kecelakaan motor, yang selanjutnya menjadi perang mulut hingga baku hantam antara pengendara motor dengan korban.
Dan, tak jarang, pengendara menjadi korban amuk massa lantaran massa merasa membela korban yang ditabrak. Padahal, dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas, belum tentu pengendara motor yang salah. Bisa saja pengguna jalan yang sembarangan melintas di jalan raya.
Berbeda halnya dengan panggung teater yang dipentaskan di gedung proscenium. Justru, panggung ini menjadi kurang berharga ketika lepas dari keseharian. Apalagi, ketika para aktor yang berlatih keras memerankan tokoh aktivis, politikus, hingga pemimpin bangsa dan membicarakan masalah sosial dan kemiskinan yang menjadi realitas.
Meski harus diakui, banyak para pelaku teater yang tidak peduli dengan masalah yang dihadapi masyarakat. Bahkan, dalam kesehariannya, ada yang justru menolak berperan sesuai teks yang telah dipentaskan di panggung teater.
Apakah berarti mereka membohongi perannya di atas panggung dan menggunakan teater untuk sekadar eksistensi? Parahnya lagi, pandangan sebagaian masyarakat awam yang memandang teater itu sekedar tempat orang-orang yang teriak di atas panggung.
Ucapan Stanilavsky, “Cintai seni dalam dirimu, bukan dirimu dalam seni” kiranya dapat direnungkan. Kelesuan kreativitas yang terjadi di Teater Modern Indonesia saat ini tidak terlepas karena teater tidak menubuh pada diri pelakunya.

Seusai memainkan peran tentang seorang tokoh, maka teks pun dilupakan oleh aktor, termasuk mengabaikan upaya membangun kesadaran penonton. Solusi yang dapat ditempuh adalah melakukan teater yang nyata (theater of the real), yang menghubungkan benang merah antara teater dengan keseharian, menjadikan teater sebagai refleksi dan media di ambang kehidupan nyata.
Panggung teater yang sakral, tidak boleh dimanfaatkan sebagai ajang menyuguhkan peran yang kamuflase dan kebohongan pelakunya. Sebab, kesuksesan seorang seniman bila karyanya sesuai dengan laku hidupnya.
Dalam konteks ini, setiap individu yang mempelajari teater harus berdialog dengan dirinya sendiri dan membangun teater dalam diri masing-masing dan masyarakat. Richard Schechner, profesor studi performance, memperluas teater, tidak hanya di atas panggung. Namun, teater dapat menembus batasan tersebut. Ia mencontohkan, segala macam upacara, seperti upacara bendera sekalipun adalah peristiwa teater.
Aksi bentrok mulut dan memanasnya suasana menjelang pembubaran Tan Malaka di tempat penyelenggaraan IFI Bandung dan media sosial adalah sebuah bentuk teater. Sebab, mengundang masyarakat seni sebagai penonton, yang memperbincangkan persoalan negara dan Ormas yang mengkebiri kesenian. Dan, semua penonton memiliki hak untuk mengungkapkan ekspresinya. Inilah yang disebur teater yang nyata.
Selanjutnya, menghubungkan peran teater dalam kehidupan keseharian terlihat saat dimediasi Festival Teater Remaja Jawa Barat dengan mengusung tema, “Kamu pikir, kamu siapa?” sebagai strategi menggali persoalan yang paling pribadi dalam diri remaja dan lingkungannya seperti di sekolah, keluarga, masyarakat hingga cara pandang mereka melihat negara.
Hasilnya, sebuah pertunjukan dengan cara berpikir dan laku yang mereka alami. Meskipun masih ditampilkan dengan gagap saat eksekusi pemanggungan. Namun, upaya para remaja tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) ini layak diapresiasi dan diberi tempat.
Sebab, ajang ini memiliki kontribusi berkelanjutan. Penyelenggara dapat melakukan evaluasi dan pemetaan tentang psikologis remaja di Jawa Barat dan menerapkan strategi selanjutnya untuk menjadikan teater sebagai media pendidikan dan ekspresi diri.
Salah satu penyebab adanya jarak antara teater dengan keseharian justru dicurigai karena penerapan metode teater Barat yang tidak sesuai dengan tubuh dan laku hidup manusia Indonesia. Teater tradisi timur, khususnya Indonesia, berangkat dari sistem kekeluargaan dan dirayakan bersama dalam bentuk ritual hingga bentuk longser, lenong atau teater tradisi lainnya.
Menariknya, ketika pelaku teater modern Indonesia masih gagap dalam merumuskan teater modern Indonesia yang tidak berjarak dengan keseharian, beberapa kelompok teater di Jepang menerapkan bentuk keseharian melalui teater dengan dialog dan tubuh yang mengacu pada keseharian dan sangat realis. Tidak ada lagi di panggung, bentuk pembesaran tubuh yang biasanya dilakukan pelaku teater modern Indonesia.
Kontekstualisasi teater dalam hidup keseharian harus dipraktikkan. Sebab, teater adalah ilmu aplikatif, sehingga akan ada makna sesungguhnya bila diterapkan dalam kehidupan keseharian. Teater adalah ilmu yang belajar untuk mencintai manusia, sehingga seseorang dapat terus berlatih mencintai diri, orang lain, dan kehidupannya melalui teater.
Lalu bagaimana caranya? Dalam dramaturgi kehidupan, dengan ilmu teater, seseorang dapat terus berlatih dan berperan menjadi orang tua dan anak yang baik, pimpinan yang bijaksana, dan pribadi yang baik. Bahkan, teater mengajarkan untuk tuntas dengan dirinya sendiri sebagai manusia dalam menghayati kehidupan.
Ratu Selvi Agnesia