Drama Turki Mencuri Simpati

| dilihat 7864

AKARPADINEWS.COM | SERIAL drama Turki menghiasi tayangan televisi Indonesia. Kehadirannya mulai menyaingi serial drama India maupun drama lokal. Drama Turki merambah ke Indonesia lantaran pangsa pasarnya yang sangat luar biasa.

Jejaknya mulai mengikuti serial drama impor yang sukses merambah di Indonesia seperti telenovela asal Amerika Latin, maupun drama yang mengisahkan gaya hidup maupun percintaan anak muda dari Mandarin, Jepang, maupun Korea Selatan.

Drama Turki menyapa penonton di Indonesia sejak akhir Maret 2015 lalu. Kesuksesannya mendongrak rating, memicu beberapa stasiun televisi berlomba-lomba menayangkannya. Surya Citra Televisi (SCTV) dan Andalas Televisi (ANTV) merupakan stasiun televisi yang sejak awal menayangkan program hiburan tersebut. Drama Turki berjudul Elif ditayangkan setiap Senin-Jumat, pukul 12.30 WIB oleh SCTV. Sedangkan ANTV menayangkan serial drama Turki berjudul Abad Kejayaan setiap Senin-Jumat pukul 22.00 WIB.

Serial drama Elif sebenarnya telah berakhir pada Jumat, 7 Agustus 2015. Namun, lantaran respon penonton yang tinggi, menurut kabar yang beredar, serial drama itu akan dilanjutkan penayangannya oleh SCTV Season kedua pada Desember 2015 mendatang.

Elif dan Abad Kejayaan mampu mendongkrak rating tertinggi, mengalahkan sinetron lokal. Kesuksesan itu mengikuti kesuksesan drama India yang ditayangkan ANTV. Selain tayang di layar kaca, untuk merangkul penonton di Indonesia, stasiun televisi milik Grup Bakrie itu juga mendatangkan bintang-bintang drama India Mahabharata dengan program konser serta meet and greet.

Dan, SCTV tak mau kalah. Kabarnya, empat bintang serial drama Elif akan didatangkan ke Indonesia di kala stasiun televisi itu merayakan Hari Ulang Tahun ke-24 pada tanggal 24 Agustus 2015. Para bintang yang memerankan Elif itu antara lain Isabella Damla Gubenilir (Elif), Selin Sezgin (Melek), Gulcin Tuncok (Zeynep), dan Emre Kivilcim (Selim).

Kedatangan para bintang itu tentu disambut eforia para penikmat drama impor yang terpesona dengan peran yang dilakoni para aktornya maupun alur cerita yang lebih berkualitas dibandingkan peran aktor maupun alur cerita yang disuguhkan drama lokal.

Namun, di sisi lain, kehadiran drama impor itu mengancam eksistensi drama lokal. Liberalisasi di dunia hiburan itu menuntut para penggiat serial drama di dalam negeri mampu bersaing ketat dengan drama asal negara lain.

Sementara bagi stasiun televisi, masuknya drama impor itu diharapkan mendongkrak rating sehingga turut mendongkrak keuntungan. Entah stasiun televisi itu peduli atau tidak dengan dampak invasi drama impor ke Indonesia. Atau karena memang suguhan drama lokal miskin kreasi. Sementara di sisi lain, stasiun televisi terjebak dalam pertarungan merebut rating. Akibatnya, tayangan yang disuguhkan nyaris serupa antar satu stasiun televisi dengan stasiun televisi lainnya.

Misalnya Trans TV yang ikut-ikutan menayangkan serial drama Turki berjudul Cinta di Musim Cerry (Kiraz Mevsimi) yang tayang setiap hari pukul 11.30 WIB. Serial drama itu dialihbahasakan oleh Trans TV dan dibuat khusus soundtrack-nya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Drama ini baru tayang di negara asalnya pada tahun 2014. Ini merupakan strategi Trans TV untuk membuat drama ini langsung bisa menancap di benak pecinta drama Turki di Indonesia.

Selain itu, ada pula serial drama Turki berjudul Shehrazat 1001 Malam yang tayang sejak tanggal 3 Agustus 2015 di ANTV. Tontonan itu hadir di tengah pemirsa setiap hari pukul 21.30 WIB. Serial drama ini mengisahkan seorang ibu muda bernama Shahrezat yang mati-matian mengobati penyakit Leukimia yang mendera anaknya.

Tak mau kalah, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) juga menayangkan serial drama Turki berjudul Gang Damai (Huzur Sokagi) setiap Senin-Jumat pukul 12.30 WIB. Aroma persaingan merebut minat penonton Indonesia begitu luar biasa. Pasalnya, RCTI sendiri menayangkan Gang Damai di waktu yang sama dengan penayang Elif di SCTV. Gang Damai yang tayang perdana itu berupaya menggusur dominas Elif yang ditayangkan ulang dari episode awal oleh SCTV karena sukses meraih rating tertinggi.

Sebelumnya, Kompas TV  juga menyuguhkan serial drama Turki berjudul Yamak Ahmet. Drama itu turut meramaikan penyambutan bulan ramadhan 2014. Yamak Ahmet yang ditayangkan setiap pukul 19.30 WIB itu menceritakan tentang kisah koki Kerajaan Ottoman dan tradisi muslim di Turki tatkala di bulan suci Ramadhan. Sayang, serial itu kurang mendapat respon dari penonton Indonesia. Masalahnya bukan tidak berkualitas, namun karena jangkauan frekwensi Kompas TV kurang luas dibandingkan SCTV, ANTV maupun RCTI.

Jauh sebelum itu, pada Juni 2011, MNC TV pernah menayangkan serial Turki berjudul Forbidden Love. Sayangnya rating dan share-nya kala itu sangat memprihatinkan sehingga di pekan kedua, MNC TV menghentikan penayangannya. Padahal, Forbidden Love sukses tak hanya di Turki. Di Pakistan, serial drama itu meraup rating tertinggi. Namun, Forbidden Love tak mampu memancing minat penonton di Indonesia karena serial drama itu disuguhkan terlalu serius dan menonjolkan tema perselingkuhan seorang wanita dengan keponakan. 

Berdasarkan data kepemirsaan Selasa (12/8), seperti dikutip dari portal berita hiburan tabloidbintang.com, Shehrazat mendapat jumlah penonton atau TV rating (TVR) dan TV share (TVS) paling tinggi. Data estimasi All 5+ menunjukkan, Shehrazat meraih TVR 2,9 dan TVS 15,6.

Namun, wajar juga jumlah penontonnya terbanyak di antara serial Turki lainnya, mengingat penayangan Shehrazat pada slot late primetime. Dan, TVS 15,6 menunjukkan, Shehrazat tinggi di jam tayangnya. Shehrazat hanya tertinggal dari Tujuh Manusia Harimau. Dari segi TV rating, serial Turki yang terbanyak mendapat penonton setelah Shehrazat adalah Abad Kejayaan yang meraih TVR 1,9 dan TVS 14,3.

Elif yang ditayangkan secara ulang rupanya masih digemari, meski tidak setinggi dulu. Elif mendapat TVR 1,8 dan TVS 15. Sedangkan Gang Damai yang ditayang RCTI bebarengan dengan Elif, masih belum bisa berbuat banyak. Kendati demikian, di episode kedua, Gang Damai mengalami peningkatan dengan mendapat TVR 1,1 dan TVS 9,2. Setelah sebelumnya TVR 0,9 dan TVS 7,8. Namun, tetap saja, TVS satu digit masih jauh di bawah standar RCTI.

Sementara jumlah penonton paling sedikit, diraih Cinta di Musim Cherry. Selasa (11/8) lalu, serial romantis ini mendapat TVR 1,0 dan TVS 8,1. Padahal, Senin (10/8), serial drama itu mendapat TVR 1,3 dan TVS 12,4 dan menjadi program nomor dua di Trans TV setelah Bioskop Trans TV: The World is Not Enough.

Lantas, mengapa serial drama Turki menjadi tren televisi di Indonesia saat ini? Bagaimana bisa serial drama Turki membius penonton Indonesia dan menggusur serial drama India atau Korea Selatan maupun sinetron lokal?

Faktor utama serial drama Turki mampu memikat penonton Indonesia karena mengulas nilai-nilai sosial dan budaya Turki. Pesan yang disuguhkan dapat diterima penonton Indonesia karena memiliki kesamaan budaya ketimuran dengan Indonesia, yaitu kesopanan, romantisme, percintaan, kekeluargaan, kemanusiaan, karakteristik masyarakatnya yang masih tradisional dan mayoritas beragama Islam. Aspek sosial dan budaya yang menyelip di serial drama Turki itu mampu memancing minat penonton.

Berbeda halnya dengan serial drama asal Korea Selatan yang lebih menonjolkan gaya hidup anak muda. Wajar jika serial drama asal Negeri Ginseng itu lebih disukai anak muda, khususnya remaja putri di Indonesia. Kebanyakan, mereka yang suka menonton drama Korea Selatan, lebih senang menonton via gadget seperti laptop, smartphone, iPad, tablet, atau membeli DVD lengkapnya dari season satu hingga tamat, dibandingkan menonton di televisi. Sedangkan serial drama Turki, mudah menyusup ke orang dewasa, khususnya ibu-ibu dan asisten rumah tangga, yang dapat dengan mudah menontonnya di televisi.

Sementara serial drama Amerika Latin yang cenderung menampilkan seksualitas dan kekerasan kurang mampu menarik minat penonton, khususnya perempuan, yang sebagian besar masih menjunjung tinggi norma-norma kepantasan dalam bersikap dan berperilaku. Berbeda dengan drama Turki. Alur ceritanya sejalan dengan norma-norma di Indonesia sehingga mampu mencuri simpati penonton.

Ageng Wuri R.A.

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sainstek
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1059
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3171
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya