
AKARPADINEWS.COM | BAHRUN Naim disebut-sebut sebagai otak serangan di kawasan Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1). Keberadaannya hingga kini belum diketahui. Lelaki berkacamata itu diketahui sudah cukup lama berlatih angkat senjata dan bertempur di Suriah, bergabung bersama kelompok teroris radikal Islamic State of Iraq and Al-Sham (ISIS), yang bermetamorfosis menjadi Islam State (IS)
Bahrun juga melek teknologi. Sebelum serangan Sarinah, dia pernah mem-posting tulisan di sebuah blog berjudul "Pelajaran dari Serangan Paris". Dalam tulisan itu, Bahrun yang pernah membuka usaha warung internet, memiliki cara berpikir yang luas. Dia juga piawai dalam memobilisasi dukungan, menghimbau militan untuk mempelajari perencanaan, target, waktu, koordinasi, keamanan, dan keberanian seperti militan yang melakukan serangan di Paris, Perancis beberapa waktu lalu.
Lelaki bernama lengkap Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo itu juga paham betul komputer karena pernah kuliah D3 Teknik Komputer di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) hingga lulus.
Jika mencermati latarbelakang kehidupan Bahrun, sosok teroris tak hanya paham tentang agama, mental yang siap mati dan diyakininya sebagai jihad, menguasai teknik berperang, dan kepiawaian meracik bom saja. Namun, sosok teroris harus memiliki basis intelektual, menguasai informasi yang luas, kemampuan mengorganisir, merekrut anggota baru, serta merancang persiapan yang matang tatkala akan melancarkan serangannya.
Sementara sikap dan pandangan yang radikal dalam diri seorang teroris terbentuk karena proses interaksinya yang sangat luas. Mobilitasnya yang tinggi, migrasi dari satu negara ke negara lain, melalui perjalanan kebudayaan (travelling culture), dan hibriditas.
Dalam sebuah tulisan berjudul: Travelling nation makers transnational flows and movements in the making of modern southeast Asia (2013), Caroline S. Hau dan Kasian Tejapira menjelaskan, sejak terjadinya peristiwa serangan 11 September 2001, sosok militan muslim radikal, menonjolkan latar belakang de-teritorial.
Dengan kata lain, mereka lahir di sebuah negara, namun menempuh pendidikan di negara lain, kemudian berperang di negara ketiga, dan menjadi pengungsi di negara keempat.
Pergerakan lintas negara yang dilakukan aktivis radikal jarang dikaji secara mendalam. Padahal, latar belakang dan perjalanan kehidupan mereka, dapat menjelaskan secara detail tentang misi kehidupan teroris dan perannya dalam lingkup global.
Misalnya dengan mendalami sosok Bahrun. Lelaki kelahiran Pekalongan, 6 September 1983 itu telah mengembangkan sayap hingga ke Suriah seperti dijelaskan dalam blognya bahrunnaim.co yang sudah ditutup oleh pemerintah. Di blog itu, Bahrun mengisahkan perjalanannya ke Suriah di tahun 2014, bersama satu anak dan dua istri.
Ia termasuk wajah lama dalam aksi terorisme. Sebelumnya, ia pernah menjadi residivis dan dipenjara selama 2,5 lantaran memiliki amunisi sejata api berbagai jenis pada tahun 2010. Bahrun selanjutnya pergi ke Suriah. Kemudian, balik ke Indonesia, membuka bisnis internet.
Jika melihat mobilitasnya yang sangat luas, Bahrun tidak bisa dianggap sepele. Dia memiliki kedekatan dengan jaringan ISIS dan kelompok radikal lainnya secara global.
Tidak hanya ISIS yang saat ini menjadi sorotan utama, melalui peristiwa Bom Bali, Sydney Jones, pengamat terorisme di kawasan Asia Tenggara, pernah menjelaskan secara mendalam dimensi historis, ketertaitan Darul Islam (DI).

Dalam risetnya yang berjudul Recycling Militants in Indonesia, Jones yang juga penasihat senior International Crisis Group (ICG) menjelaskan DI itu sendiri adalah Jamaah Islamiyah (JI), Majelis Mujahiddin Indonesia, Laskar Jundulloh, Ring Banten, dan Angkatan Mujahidin Islam Nusantara (AMIN). Beberapa veteran DI yang mempunyai banyak pengikut, juga menjalankan organisasi di luar struktur organisasi yang formal.
Para anggotanya itu saling mengenal, saling mengunjungi, bersekolah bersama, saling menikahkan anak-anak mereka, dan menjaga komunikasi antar generasi. Mereka juga berseteru, cekcok, dan tak jarang suka mengadu. Namun, jaringan ini tetap kuat, bahkan setelah sebagian anggotanya, secara rutin mengalami pergantian.
Jaringan ini juga melibatkan pengikut yang tidak terlacak. Mereka hijrah ke Jakarta, Lampung, Malaysia, Mindanao, atau tempat-tempat pengungsian lainnya. Mereka juga dilatih DI di Afganistan atau di Mindanao. Mereka juga berjuang bersama di Ambon atau Poso, dan sebagainya.
Lebih lanjut, Shiraishi Takashi, profesor dari National Graduate Institute for Policy Studies di Tokyo menjelaskan, sosok Imam Samudra yang merupakan pentolan utama JI. Dalam jurnalnya The Making of Jihadist: Itienary and Language in Imam Samudra’s Aku Melawan Teroris (2013), Shiraishi menelusuri pergerakan Islam radikal di Asia Tenggara dan Asia Tengah. Imam Samudra (1972-2008), yang ditangkap dan dieksekusi, diketahui anggota JI yang menjadi arsitek teror Bom Bali tahun 2002. Hal itu diakui sendiri oleh Imam Samudra dalam autobiografi, wawancara, dan interogasinya.
Lelaki yang bernama asli Abdul Aziz itu lahir 14 Januari 1972 di Serang, Banten. Orang tuanya adalah pengikut Persatuan Islam (Persis), organisasi yang didirikan tahun 1923 untuk membersihkan Islam dari pembaruan dalam pengamalan nilai-nilai Al Quran dan Hadist dalam kehidupan modern. Ia sekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Serang, ia aktif menjadi ketua OSIS Madrasah Aliyah, sebuah organisasi tingkat madrasah se-Banten.
Di sana, kabarnya, dia menjadi radikal lantaran didikan guru SMA-nya yang juga mantan pimpinan DI, Kyai Saleh As’ad. Ia masuk ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, cabang Universitas Imam Muhammad bin Saud di Riyadh, untuk belajar Sastra Arab.
Imam Samudra bangga menjadi mujahid yang saleh, yang mengalami kegelisahan, sekaligus kebangkitan spiritual, hingga akhirnya menjadi penganut Islam radikal. Lalu, ia pergi ke Afganistan, menjalani pelatihan dan pertempuran untuk berjihad selama tiga tahun. Kemudian kembali ke Indonesia dan bergerak ke Malaysia. Imam Samudra juga sangat terpengaruh gerakan rahasia Salafi yang anti modernisme, absolutisme, dan monolitik, yang sejalan dengan tujuan pergerakan DI, JI, dan Al-Qaeda.
Ia sangat membenci Israel dan Amerika Serikat setelah melihat peristiwa di internet yang mengambarkan kekejaman dua negara itu terhadap umat Islam. Imam Samudera menyebut Israel dan Amerika Serikat sebagai “Drakula bin Monster” terhadap umat Islam yang tidak berdaya.
Imam Samudra menjalankan kehidupan dengan keras. Ia setia sebagai mujahid yang dijauhkan dari modernitas, kaum sekuler, seksualitas, dan pembahasaan di luar agama. Dia juga anti perubahan sosial.
Perjalanan para militan, yang menyebabkan terjadinya pertukaran budaya, pembauran, dan pemahaman ilmu pengetahuan, telah mempengarui pemikiran, ideologi politik, dan aksinya. Perjalanan yang mereka tempuh lintas negara telah membentuk kehidupan dan misi hidup mereka. Melalui refleksi kehidupan mereka, dapat dipelajari bagaimana orang-orang yang terlibat gerakan garis keras dalam mewujudkan pandangan dan sikapnya, intelektualitas, termasuk pilihan politik dalam menghadapi abad yang penuh pergolakan ini.
Ratu Selvi Agnesia