
Tun Dr. Mahathir Mohamad (Tun M), masih belum beranjak dari sebak lara sejak Tun Dr. Hasmah Mohamad Ali, istri dan belahan jiwanya (gegaring nyowo) -- menghembuskan nafas terakhir (Senin, 26 September 2026, sekira pukul 09.00 pagi -- di Institut Jantung Negara (IJN) - Kuala Lumpur, hingga dimakamkan di Pusara Negarawan - Kawasan Taman Selatan Persint 20 Putrajaya, pusat administrasi pemerintahan Malaysia.
Sepanjang hari Senin dan Selasa (26 - 27 September 2026) Tun M sekali sekala menitikkan air mata dalam keadaan raga yang lunglai di atas kursi roda. Pada Senin malam, Tun M nampak lunglai di sisi jenazah Allahyarham Tun Hasmah.
Sebak lara Tun M dan keluarga -- khasnya anak-anak dan cucu, anak kemenakan, saudara mara dan kerabat lainnya -- menghadapi kenyataan perpisahan abadi tersebut memang sungguh munasabah.
Tun M sendiri yang menyatakan, Allahyarhamah Tun Hasmah masih berceloteh, memantik suasana riang di bilik perawatannya pada Ahad (25 September 2026) malam. Infomasi yang sama mengemuka pula dari Tan Sri (TS) Mokhzani Mahathir dan Dato' Seri (DS) Mukhriz Mahathir kepada khalayak dan awak media.
Tun M juga menyampaikan informasi yang sama, kala menerima takziah Sultan Pahang ke 6 -- Yang di-Pertuan Agong Malaysia ke 16 -- Al Sultan Abdullah beserta istrinya, Tengku Ampuan Pahang Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah, Ahad malam.
Dalam rekaman video yang dimuat naik di beberapa akun instagram, kepada Al Sultan Abdullah dan Tunku Azizah, Tun M mengatakan, "Saya tidak menyangka dia akan meninggal. Allahyarhamah Tun Hasmah tampak sehat, sehari sebelum beliau meninggal dunia."
Tunku Azizah pun terlihat tak kuasa menahan sebak, matanya berkaca-kaca mendengar dan menyimak apa yang disampaikan Tun M. Bagi Tunku Azizah, Allahyarhamah adalah sosok istimewa yang mengalirkan banyak gagasan, nasihat, dan rasa kasih.
Hubungan pribadi Allahyarhamah Tun Hasmah dengan Tunku Azizah laiknya ibu dengan anak. Tunku Azizah memanggil arwah Tun Hasmah dengan sebutan "Mummy."

Keesokan harinya, kala jenazah Tun Hasmah diturunkan ke liang lahat dengan pelukan tangan DS Mukhriz dan TS Mokhzani di bawah bentangan Jalur Gemilang - bendera kebangsaan Malaysia, Tun M sungguh tak kuasa menahan sebak lara.
Tunku Azizah dan salah seorang cucu Tun M, serta dokter pendamping Tun M terlihat berusaha menenangkan Tun M menyaksikan 'pahlawan hati'-nya kali terakhir, untuk berpisah selamanya, sampai prosesi istiadat pemakaman kenegaraan.
Kala menabur bunga ke pusara Allahyarhamah Tun Hasmah, sebak lara Tun M masih terlihat. Puteri sulung Tun M, Datin Paduka Marina Mahathir pun masih tak kuasa menahan sebak lara, yang terasa menggugah rasa khalayak. Bahkan mereka yang tak hadir langsung di Pusara Negara.
Kesedihan dan sebak lara khalayak, khasnya mereka yang mengalami layanan Allahyarhamah sebagai pegawai kesehatan yang menjalani tugas dan tanggung jawabnya hingga ke pedesaan Negeri Kedah -- kampung halaman Tun M -- pada dekade 1950-an di era kolonial.
Allahyarhamah Tun Hasmah merupakan dokter perempuan Melayu pertama yang diangkat sebagai petugas pengobatan bagi rakyat -Malaysia. Pada dekade di era kolonial itu pula, Allahyarhamah yang humoris dan humanis, mendidik para bidan dan bomoh beranak memadu serasi ilmu kedokteran modern dan resam tradisional penolong persalinan.
Dari Allahyarhamah Tun Hasmah, itu para bidan dan penolong persalinan memegang nilai dan norma, kemuliaan melayani atau yang belakang hari dikenal dengan istilah, 'melayani itu mulia.' Allahyarhamah pula yang mendidik dan melatih para bidan dan penolong persalinan hingga ke sudut pelosok desa.
Empirisma Tun Hasmah dalam mengembangkan itu pula yang menjadi bekal, ketika Tun M yang juga dokter mendirikan Klinik MAHA (Mahathir - Hasmah). Belakangan hari, ketika Tun M menjadi Perdana menteri ke 4 Malaysia, Allahyarhamah mengembangkan gagasan dan aksi terkait dengan pembangunan kesehatan ibu dan anak, serta perencanaan keluarga.
Nancy Reagen, istri Presiden Amerika Serikat (AS) pada dekade 1980-an itu mengundang Allahyarhamah Tun Hasmah berbicara dan meluahkan gagasannya tentang prinsip abstinence melindungi generasi muda berpantang total terhadap penyalahgunaan dadah (narkoba : narkota dan obat-obatan terlarang).
Malaysia kemudian terkenal sebagai salah satu negara di dunia yang memberikan hukum terberat (hukuman mati) bagi siapa saja pelaku kejahatan narkoba. Walhasil dalam kapasitasnya sebagai istri seorang PM -- yang bukan politisi --, Allahyarhamah Hasmah menggagas peran dan fungsi istri para pemimpin pemerintahan meningkatkan kontribusi dan kolaborasi dengan pemerintah dengan aktivitas yang memacu pembangunan kesejahteraan.

Allahyarhamah Tun Hasmah merupakan penggagas dan penggerak program aksi peningkatan kesejahteraan, khasnya pemajuan layanan kesehatan bagi wanita, keluarga, dan masyarakat. Tanpa kecuali ihwal pembangunan wanita dengan spirit peningkatan dan perluasan makna tugas dan fungsi civil servant dan civic mission. Itulah sebabnya, Allahyarhamah Tun Hasmah disebut sebagai 'bonda negara.'
Selain itu, selain tetap 'menjaga jarak' dengan peran-peran politik pragmatis, gagasan dan aktivisme Allahyarhamah Tun Hasmah tentang perempuan di alaf modern, menjadi luas. Khasnya, sebagai pemeran utama perempuan (empu), tak hanya sebagai insan wanita (wani ditata dan menata : berani diatur dan mengatur rumah tangga).
Memainkan fungsi sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya (dan anggota keluarga) dan pendamping utama suami dalam meningkatkan kualitas diri (kepemimpinan, kreativitas berasas aqidah, ilmu pengetahuan, dan kepakaran) yang menjadi solusi bagi bangsa dan negara, serta pengamalan agamanya.
Allahyarhamah Tun Hasmah adalah model perempuan Melayu yang "adanya menggenapkan, tiadanya mengganjilkan." Insan yang mau dan mampu mengelola keseimbangan tools yang diberikan Allah SWT (nalar, naluri, nurani, rasa, dan raga) - ahsanit taqwim.
Insan yang di dalam keluarga menjadi penggerak good government - good governance. Pula, insan yang memelihara kesadaran secara entusias dalam menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek berdimensi insaniah, yang dihidupkan oleh cinta dan kemanusiaan. Kokoh dalam aqidah, tangguh menegakkan syariah, piawai dalam mengelola muamalah, dan berakhlak mulia.
Karena itulah kita memahami sedalam-dalamnya hakikat peran perempuan yang merawat kewarasan minda dan sukma sehingga bersama suami mampu menciptakan kondisi keluarga yang sakinah, mawaddah, bertabur rahmah. Cinta yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan, konsisten dan konsekuensi mengelola kejujuran dan keadilan dalam merawat cinta dan kasih sayang.
Dengan perspektif ini, siapapun kita, khasnya para pria dapat 'ikut merasakan' dan memahami, bagaimana Tun M yang tegar sebagai politisi dan negarawan utama yang tangguh selama beberapa hari ini kembali kepada dirinya sebagai seorang insan biasa.
Di balik sebak lara Tun M, kita dapat ikut bercermin, bahwa sesungguhnya ketika sebagai pria -- lelaki merasa dirinya perkasa dan berkuasa, ketika itu juga pria sedang sangat rapat menutupi dan menyembunyikan kelemahan asasinya. Sekaligus sedang berusaha mengabaikan qalbun salim, bahwa sebagai manusia, lelaki dan perempuan berada dalam kesetaraan dan keadilan.

Memahami sebak lara Tun M, sesungguhnya kita sedang memasuki fase pembelajaran lanjut tentang keseimbangan gender dalam hal peran penentu dan peran manajerial dalam mencapai visi hidup: bahagia di dunia, sejahtera di akhirat, bebas malapetaka.
Ketika para pria sedang berdebat ihwal cara mewujudkan visi hidup, perempuan pada saat yang sama sedang memindai dan menemukan cara menaklukan 'vision killer' (pembunuh visi).
Allah memberikan Tun M dan Tun Hasmah masa tujuh dekade merancang dan mewujudkan manifesto hidup sebagai insan terdidik, kreator -- berasas ilmu pengetahuan--, untuk beribadah melalui pengabdian kepada bangsa sebagai pelayan rakyat (ummah) yang amanah - shiddiq - fathanah - dan tabligh -- , berasas prinsip religi : salam saliima, yang diridhai Allah SWT.
Tujuh dekade Allah menempa Tun M dan Tun Hasmah mewujudkan keluarga bahagia sejahtera (tanpa sandiwara) dengan memahami hakikat dramatika dan dramaturgi hidup berkeluarga.
Menentukan visi : Kesejahteraan dan Kebahagiaan tanpa petaka. Bertumpu pada pondasi : Kejujuran, Kepercayaan, dan Kemandirian. Di atasnya menegakkan tujuh pilar kehidupan : Tauhid; Qana'ah; Konsisten; Fasih membaca fenomena hidup; Tawakkal; Faham prioritas; dan, Rasional (realistis).
Lantas bertungkus lumus membangun rumah kebangsaan : Beratap Basmallah; Berdinding Hamdalah; Berpintu asa berporos kuasa Al Malik ; Berlantai ta'abudi : mahdhah dan illat; Berlaman ikhlas, shirat nan lurus; Berpagar empirisma nikmat.
Karenanya, ketika mitra utama yang diberkahi Allah panjang usia (satu abad) berpulang lebih awal ke haribaan Allah yang segera terasa adalah senyap di beranda hening, berisyarat pencapaian "sunyi di tengah keramaian, ramai dalam kesunyian." Maka sebak lara Tun M adalah sebak pilu mikrokosmik yang tular menjadi sebak naluri dan nurani ke seantero makrokosmik.
Boleh jadi, sebak lara Tun M nyaris sama dengan sebak sansai BJ Habibie kala istrinya, Dokter Hasri Ainun Habibie berpulang. Saya kesulitan menentukan indikator perbedaannya. Namun, yang pasti, sebak lara Tun M atas berpulangnya Tun Hasmah di tengah zaman yang sedang berubah cepat, menyimpan duka kita. Tak hanya duka rakyat Malaysia.
Dalam salah satu kutipan buah pikirnya (21 Agustus 2026), Tun M menulis di laman webnya, "Satu hal yang pasti terjadi di masa depan. Segala sesuatu akan berubah. Bahkan hal yang paling berharga pun akan berubah. Jadi, nikmatilah saat ini." Tun berkesempatan lebih awal mengalami apa yang di isyaratkannya, itu.
Tun M dalam usia 101 tahun membuka selubung cindai tentang keikhklasan menghantar Tun Hasmah, 'pahlawan hati' berpulang tanpa pesan, dalam kemuliaan dan penghormatan nan tinggi. Saya membayangkan, sebak lara Tun M bak telaga hening, yang kelak menjadi ketakjuban insan tiada daya, kala kelak pawana rindu 'berbisik' : "Meski ragaku berada jauh di alam fana, daku masih selalu bersamamu, karena ketika ragaku pergi, kubiarkan sukmaku ada bersamamu.." |
Artikel Terkait :