Catatan Dari Ajang Kongres IV Partai Demokrat

Jangan Tergoda Rabun Politik

| dilihat 2021

 

AKARPADINEWS.COM | FASE ‘bliding’ yang dialami Partai Demokrat (PD) akan berakhir dan riak-riak kecil di sekitar Kongres IV Partai Demokrat yang berlangsung di Surabaya (11-13 Mei 2015) adalah bagian dari proses dimulainya pembangunan partai ini sebagai partai modern, menghela fase lanjut proses transformasi demokrasi Indonesia.

 

Riak-riak kecil perbedaan pandangan dan sikap di kalangan kader terkait dengan pemilihan Ketua Umum PD 2015-2020 adalah kewajaran praktik demokrasi internal partai. Persoalan akan menjadi lain, ketika riak-riak itu sengaja digerakkan dari lingkungan ekternal. Termasuk upaya pelemahan (dan bahkan penghancuran) eksistensi PD ‘secara sadar dan terencana.’ Baik dilakukan melalui rekayasa penghancuran citra (image damaging), dengan ‘menggunakan mulut’ pengamat politik yang memandang persoalan dari jauh, dan kalangan internal partai dengan aksentuasi kepentingannya masing-masing.

 

Proses pelemahan itu sangat mungkin terjadi, karena dalam waktu yang tidak terlalu lama, akan berlangsung Pemilukada (Pemilihan Umum Kepala Daerah) serentak di seluruh Indonesia. Peristiwa demokrasi ini, akan menjadi batu uji bagi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

 

Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – Ketua Umum PD saat ini, dikehendaki sebagian terbesar DPC (Dewan Pimpinan Cabang) untuk kembali memimpin PD. Khasnya untuk memungkas konsolidasi dan transformasi internal partai. SBY yang sejak awal berdirinya partai tidak berniat memimpin langsung partai ini, ‘terpaksa’ turun gunung ketika diminta para kader membenahi partai ini, pada Kongres III (Luar Biasa) 2013 di Bali. Terutama, ketika terjadi musibah besar: sejumlah kader muda yang diberikan kepercayaan mengelola partai melalui Kongres II (Bandung) diciduk dan dinyatakan bersalah melakukan kejahatan extra ordinary (korupsi).

 

Ketika itu popularitas sedang merosot dan tingkat elektabilitas partai terjun bebas sampai ke titik nadir (8 persen) yang bisa membuat partai ini menghadapi problem eksistensi di kancah partai politik. Kepemimpinan SBY, akhirnya mampu mendongkrak tingkat elektabilitas itu menjadi 1 persen pada Pemilu 2014. Meskipun sejumlah kader, termasuk Marzuki Alie, tidak terpilih dan gagal kembali ke parlemen.

 

Menghadapi Pemilu 2019, keadaan politik Indonesia tidak akan lebih ringan. Persoalan-persoalan domestik (antara lain pelemahan pertumbuhan ekonomi nasional yang berdampak pada persoalan kesejahteraan rakyat) dapat menimbulkan persoalan politik. Setarikan nafas, juga berkembang persoalan ekternal (pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN, pergeseran era dari Amerika – Eropa ke Asia – Pasifik) yang juga dapat menimbulkan depresi politik. Dalam konteks itu, PD harus tampil sebagai kekuatan penyeimbang, dengan pilihan peran dan fungsional di luar pemerintahan.

 

Di tengah dinamika semacam itu, tidak mudah mengelola partai politik. Sejumlah pimpinan cabang dan pimpinan daerah akhirnya bersepakat untuk meminta SBY kembali memimpin partai ini. Sekaligus memungkas konsolidasi dan menyiapkan kepemimpinan partai, tidak lagi dengan cara yang sudah dilakukan. Terutama, karena terbukti kader yang diberi kesempatan belum matang dan masih menghadapi banyak persoalan pribadi, baik secara ekonomi, sosial, maupun politik.

 

Fase political strom und drang, tak hanya mengancam eksistensi PD, bahkan akan berdampak pada kepercayaan rakyat terhadap partai. Apalagi, partai-partai yang berdiri setelah fase reformasi (yang kemudian berubah menjadi deformasi), relatif tidak ada yang kokoh dan kuat. Di sisi lain, secara sosiologis dan kultural, masih terjadi ambivalensi politik praktis. Khasnya relasi sosio politik tradisional, dan rakyat (konstituen) kadung terbina oleh politik transaksional.

 

Kongres IV PD dengan demikian menjadi sangat strategis. Seluruh pemimpin dan kader PD harus melakukan introspeksi total dan menyeluruh, khasnya melakukan transformasi mindset. Fokusnya adalah perampungan konsolidasi dan menyiapkan cadre reborn. Pembentukan dan pengembangan potensi kader berwatak negarawan untuk beragam peran dan fungsi kepemimpinan mulai dari tingkat Kabupaten/Kota sampai Nasional.

 

Untuk lima tahun ke depan, tak bisa lain, sikap dan pandangan sebagian terbesar pimpinan cabang untuk meminta SBY kembali memimpin PD. Dan hal ini, tak berhubungan dengan format PD sebagai partai modern atau partai kuno. Karena yang diperlukan dari SBY adalah membuat PD bangkit kembali.

 

Pengalaman PD berbenah, melakukan konsolidasi (mulai dari revitalisasi sampai restrukturisasi) kelak akan bermanfaat kala PD berhasil meraih kembali kepercayaan rakyat. Modernitas partai dapat dilakukan kader PD dengan bertumpu dan fokus pada platform dan program. Persoalannya bertumpu pada sosok pemimpin dan formula kepemimpinan untuk mengelola PD menjadi partai modern.

 

Beranjak dari pandangan ini, maka yang menjadi prioritas dari kader dan pimpinan PD adalah menjadikan Kongres IV PD sebagai ajang olah gagasan, kreativitas, inovasi, dan bahkan invensi untuk menjadi partai sebagai wahana pendidikan politik rakyat. Termasuk ajang pengembangan potensi kepemimpinan berwatak negarawan.

 

Karenanya, seluruh peserta Kongres IV PD mestinya tidak mereduksi fungsi kongres partai hanya pada pemilihan Ketua Umum. Melainkan pada fungsinya yang lebih luas lagi, yaitu melakukan creating value, penciptaan nilai partai. Antara lain dengan memperkuat fundamental partai, yaitu kader.

 

Dari sini, PD akan bangkit kembali dan melanjutkan eksistensinya sebagai salah satu partai modern yang penting menuju terwujudnya kemandirian bangsa, daya saing bangsa, dan peradaban unggul. Karena itulah, jangan tergoda oleh remah-remah yang bisa menimbulkan rabun politik.  Selamat berkongres! | Bang Sem Haesy 

Editor : Web Administrator
 
Budaya
30 Agt 26, 07:03 WIB | Dilihat : 327
Menyambut Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi
19 Agt 26, 19:43 WIB | Dilihat : 504
Gema Bumantara Siti Nurhaliza dan Refleksi Pemikiran STA
23 Jun 26, 22:10 WIB | Dilihat : 840
Jakarta Ruang Lebih Luas Bagi Budaya dan Seni
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 785
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
Selanjutnya
Sporta