
Menjelang Kongres ke 42, Syarikat Islam (SI), Ahad (5/10/26) menggelar diskusi publik bertajuk "Gerakan Koperasi : Revolusi Ekonomi Indonesia."
Diskusi pra Kongres SI ke 42 itu terkoneksi langsung dengan program aksi utama 'dakwah ekonomi,' sebagai salah satu titik azimuth perubahan orientasi dan paradigma minda SI di bawah kepemimpinan Hamdan Zoelva (20).
Hamdan Zoelva (Ketua Mahkamah Konstitusi RI 2013-2015), sebagai Presiden Lajnah Tanfidziah SI mengemban amanah Catur Program Kongres SI 41 di Surakarta (2021) - sebagai penguatan amanat Kongres SI sebelum-sebelumnya, yakni Konsolidasi Ekonomi (dengan program prioritas Dakwah Ekonomi), Konsolidasi Pendidikan, Konsolidasi Siyasah, dan Konsolidasi Organisasi.
Diskusi tersebut menggambarkan, Gerakan Koperasi senafas dengan dakwah ekonomi SI. Dakwah Ekonomi merupakan program prioritas utama SI. Tak hanya karena SI bermula dari Sarekat Dagang Islam (SDI) sebagai wadah pergerakan wirausahawan pribumi di masanya - terutama pengusaha, pedagang dan penggerak industri Batik diu Laweyan, Solo. SDI didirikan KH Samanhudi dan sejumlah pedagang batik tersebut.
Dakwah Ekonomi menjadi program prioritas utama SI, karena realitas kehidupan masyarakat Indonesia -- yang sebagian terbesar adalah umat Islam -- yang sampai hari ini belum sungguh menjadi tuan di negerinya sendiri.
Dalam keseluruhan konteks pergerakan SI -- yang sempat menjadi partai politik dan menjadi salah satu anasir utama terbentuknya Partai Persatuan Pembangunan di era Orde Baru -- Dakwah Ekonomi merupakan pilihan politik dalam makna luas.
Di hadapan peserta diskusi publik tersebut, Hamdan Zoelva menekankan, SI menempatkan dakwah ekonomi berbasis penguatan koperasi sebagai prioritas utama diselenggarakan guna mengatasi ketimpangan yang makin melebar serta membangkitkan kemandirian ekonomi rakyat.
Sebagaimana HOS Tjokroaminoto menempatkan koperasi Setia Oesaha (NV Handel Maatschappij Setija Oesaha Soerabaia) dan Asuransi Boemi Poetera 1912 sebagai aksi perjuangan politik ekonomio SI di bawah kepemimpinannya. Karenanya, menurut Hamdan, bagi SI koperasi merupakan jalan tepat untuk mengembalikan kesadaran ekonomi rakyat.
Pernyataan Hamdan tersebut boleh dimaknai sebagai signal kuat SI menempatkan Dakwah Ekonomi dalam gerak perjuangan mewujudkan visi keumatan: bahagia di dunia dan di akhirat, dan bebas petaka. Dakwah Ekonomi tersebut ditopang oleh dakwah di bidang pendidikan, sosial dan politik berbasis kaderisasi. Hamdan menegaskan, penguatan koperasi seirama langkah dengan semangat awal para pendiri bangsa.

Dalam perspektif lain, Menteri Koperasi Ferry J. Juliantono memandang, gerakan koperasi tak hanya relevan dengan visi dan nilai perjuangan HOS Tjokroaminoto (di abad 20) yang merupakan salah satu landasan gerak Dakwah Ekonomi SI (di abad 21) ihwal pemampuan dan pemajuan ekonomi umat yang bermuara pada kesejahteraan berdimensi kebahagiaan.
Secara khas, Ferry memandang relasi Dakwah Ekonomi SI dengan gerakan koperasi sebagai penggerak ekonomi umat merupakan manifestasi perintah kebajikan Allah SWT : ta'awanu 'alal-birri wat-taqwa, wa la ta'awanu 'alal-itsmi wal-'udwan (QS Al Ma'idah :2). Bekerjasama - gotong royong dalam tolong menolong dalam kebajikan - taqwa, bukan persekongkolan dalam berbuat dosa dan permusuhan (kejahatan).
Tak berhenti di situ. Ferry melihat keterkaitan kuat manifestasi ta'awun tersebut secara kelembagaan badan atau lembaga zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf, yang dapat menopang secara kokoh persamaan derajat manusia yang hidup dengan kemerdekaan sejati. Ta'awun yang dilakukan dengan daya persatuan umat (dimulai dari silaturrahmi dalam konteks jaringan) yang solid. Salah satu wujudnya adalah penguatan akses umat terhadap modal, pasar, dan informasi.
Dari perspektif tersebut, tema diskusi : “Gerakan Koperasi: Revolusi Ekonomi Indonesia,” relevan dengan pandangan Ferry, bahwa sebagai gerakan, koperasi berperan strategis di berbagai aspek dan faktor pergerakan membangun kemandirian ekonomi rakyat.
Nilai-nilai koperasi : Semangat kebersamaan, Gotong Royong, Keadilan, Kesejahteraan kolektif, sejalan dengan prinsip-prinsip asasi perjuangan SI. Khasnya, penguatan peran dan pemajuan kesejahteraan umat. Melalui koperasi, masyarakat digerakkan menjadi menjadi produsen, pelaku usaha, sekaligus pemilik manfaat ekonomi, bukan sekadar konsumen.
Karenanya, gerakan koperasi perlu terus diperkuat sebagai kekuatan asasi ekonomi rakyat yang produktif, inklusif, dan berkeadilan. Ferry dan Hamdan sama memandang, sebagai suatu gerakan, dakwah ekonomi SI dan gerakan koperasi mesti berdampak nyata dalam mewujudkan fungsi insaniah umat sebagai 'rahmatan lil alamin.'
Tanggung jawab insaniah memelihara semesta (lingkungan hidup) dalam dimensi ekologi dan ekosistem berdampak ekonomi, merupakan wujud nyata cinta tanah air - hubbul wathan yang nyata. Gerakan Dakwah Ekonomi dan gerakan koperasi dapat berpilin dalam sinergi mengembalikan esensi pembangunan ekonomi konstitusional. Yakni pembangunan ekonomi yang digerakkan oleh negara sebagai manifestasi Pasal 33 UUD 1945.
HOS Tjokroaminoto secara benderang sudah menguraikan dalam pemikiran tangkas: Sosialisme Islam yang digerakkan oleh para kader terdidik sesuai prinsip yang tertuang dalam Muslim National Onderweijs, melalui sistem kemerdekaan dan otonomi berbangsa - bernegara sebagaimana tercermin dalam pidatonya bertajuk Zelf Bestuur pada Kongres Nasional I (NATICO) SI di Societat Concorde (Gedung Merdeka) Bandung, 17 Juni 1916.

SI memerlukan waktu panjang (1905 - 1912) untuk memperoleh izin pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk bergerak sebagai organisasi tingkat nasional. Selama masa itu Koperasi Setia Oesaha dan asuransi Boemi Poetera 1912 menjadi lembaga khas SI dalam gerakan ekonomi.
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Rocky Gerung, salah satu pembicara dalam diskusi publik tersebut, memberi perhatian khas pada kata 'gerakan' yang dinamis. Secara tersirat dia menangkap, berbagai gerakan pada fase revolusi telah menyampaikan aspirasi kepada pemimpin bangsa masa itu, lantas menjadi inspirasi yang terserap dalam konstitusi (Pasal 33 UUD 1945).
Menurut Rocky, kini Presiden Prabowo Subianto sedang mengembalikan negara ke jalur konstitusi, hadir, mengatur, dan memastikan kemakmuran dibagi merata. Rocky pun memandang program koperasi, termasuk koperasi desa (Kopdes) Merah Putih merupakan gerakan ekonomi yang dapat menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Beranjak dari pandangan ini, Rocky menilai, semangat Presiden Prabowo menegakkan ekonomi konstitusi melalui Kopdes mesti dimaknai sebagai suatu transformasi ekonomi untuk 'meredam dominasi' sektor swasta dan BUMN.
Dalam hal ekonomi, menurut Rocky, konstitusi kita mengenal tiga player: korporasi, BUMN dan koperasi untuk menghasilkan solidaritas. Dalam praktiknya koperasi hanya menemukan tetesan CSR (corporate social responsibility) dari korporasi. Sejak Presiden Prabowo ini diubah, maka benar ini adalah transformasi ekonomi meski harus 'bertengkar' dengan para pemilik modal.
Dalam pandangan Rocky, koperasi tidak sekadar dipahami sebagai institusi atau bangunan fisik, melainkan harus diwujudkan sebagai aksi nyata secara bersama-sama untuk menata ulang kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
Ia mengemukakan, memang terdapat berbagai catatan yang perlu diperbaiki. Kendati demikian, Gerakan koperasi relevan dengan revolusi ekonomi Indonesia. Namun, yang dicatat publik bukan koperasi sebagai gerakan ekonomi, melainkan bangunannya. Dalam konteks gerakan, kita percaya bahwa revolusi bisa terjadi. Tak ada revolusi tanpa gerakan.
Selain Rocky Gerung (anggota Wantimpres), pada diskusi tersebut tampil pembicara: Ketua Lembaga Pengembangan Ekonomi Umat (LPEU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Mukhaer Pakkana, Deputi Pengembangan Usaha Koperasi Kementerian Koperasi Panel Barus, dan Pakar Ekonomi Syariah - penggerak koperasi Sunan Dradjat Anas Alhifni (Gus Anas). | gagaporisa