KBRI di Yaman Sudah Jadi Korban

Hentikan Agresi Saudi Arabia di Yaman

| dilihat 2184

AKARPADINEWS.COM | JELANG peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta dan Bandung, pekan ini kita beroleh kabar tak menyenangkan  -- tapi Pemerintah Republik Indonesia menyikapi dingin-dingin saja. Agresor Saudi Arabia dan sekutunya, melantakkan gedung KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Sana’a – Yaman. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memanggil Duta Besar Saudi Arabia untuk mencari tahu duduk persoalan. Lantas media menulis: KBRI terkena salah sasaran bom Saudi !.

Dapatkah kita percaya begitu saja penjelasan Saudi Arabia? Dengan akal sehat dan nalar yang logis, mestinya tidak. Pasalnya, sejak Saudi dan sekutunya melakukan agresi ke Yaman, pemerintah Republik Indonesia sudah menjelaskan lokus KBRI di Sana’a, termasuk berbagai titik dan zona tempat warga negara Indonesia bermukim selama ini. Kejadian pemboman atas KBRI, dengan demikian bisa disebabkan oleh dua hal: Saudi tidak menggubris sama sekali Indonesia sebagai negara sahabat yang paling banyak mengirim jamaah umrah – haji  dan buruh migran. Pasukan Saudi Arabia di lapangan, hanya berfikir bagaimana menggempur Yaman.

Sejak menggempur beberapa wilayah Yaman pada Februari 2015, Saudi Arabia dan sekutunya telah melakukan aksi laknat seperti yang dilakukan Israel atas Gaza dan Tepi Barat Palestina. Pasukan Saudi Arabia secara serampangan menggempur Yaman, hanya dengan alasan sangat sederhana: menghabisi pemberontak Houthi yang menjadi urusan dalam negeri Yaman. Dan seperti biasa, media Barat melihat serangan Saudi Arabia atas beberapa wilayah Yaman sebagai aksi terkait dengan mazhab Sunni – Syiah. Padahal, tak ada kaitannya. Tak ada konflik Sunni – Syiah di Yaman selama ini, kecuali dipicu Wahabi – Saudi, termasuk Al Qaeda.

Secara faktual, sesungguhnya pertentangan yang terjadi bukan pertentangan mazhab, karena baik Houthi, mantan Presiden Ali Abdullah, bahkan Presiden Abd Rabbo Mansour tak pernah bersoal tentang mazhab. Yaman merupakan negeri yang selama bertahun-tahun menjadi contoh, bagaimana Syiah – Sunni berkarib mesra. Isyu tentang Syiah – Sunni adalah rekayasa untuk menyeret persoalan ke sisi domestik, karena Kerajaan Arab Saudi lewat dinasti Ibn Su’ud merupakan produk dari Sunni – Wahabiah yang ekstrem. Karakteristiknya mirip dengan pemerintah Israel yang sejak dibentuk tahun 1948 merupakan Zionis ekstrem.

Saudi Arabia dan Israel sama menempatkan kaum syiah sebagai musuh utama, dan merupakan diktator yang tak pernah membuka ruang bagi terciptanya harmoni dan kedamaian. Mereka adalah kaum kontra revolusioner permanen yang tak mau berubah. Bedanya: Israel menerapkan sistem kekuasaan apartheid seperti dulu pernah berlaku di Afrika Selatan. Karena itu, Israel melakukan aksi politik rasisme terhadap warga Palestina dengan pemerintahannya yang otoriter.

Agaknya Saudi Arabia, yang dibentuk kaum Wahabiyah dan mengubah sistem demokrasi Islam menjadi monarki yang dikuasai anak keturunan Ibn Suud ingin mengikuti Israel yang haus darah dan hendak mengusir warga Palestina dari tanah airnya sendiri. Serangan yang dilakukan atas Yaman dengan mengatasnamakan permintaan Presiden Yaman Abd Raboo Mansour hanyalah kiat untuk mencaplok Yaman dan memasukkan ke dalam wilayah Saudi Arabia.

Arab Saudi dengan sekutunya, termasuk Amerika Serikat dan Israel berkepentingan menguasai Yaman, karena di negara yang kaya sejarah dan budaya ini, juga terdapat deposit sumberdaya alam luar biasa. Selain minyak dan gas bumi, Yaman mengandung uranium, emas, dan beragam mineral yang diperlukan untuk kepentingan ekonomi dan politik mereka. Tetapi, untuk menutupi hal ini, Arab Saudi mengambil porsi untuk meletupkan isu lain soal perbedaan mazhab, antara lain dengan memanipulasi Houthi, yang hanya merupakan kelompok kecil saja di Yaman.

Saudi Arabia sudah mengincar Yaman sejak 2011, lalu meletup ketika mereka mendukung Mansour mengikuti kompetisi kepemimpinan nasional dengan sistem pemilihan umum yang curang. Tahun 2011 telah terjadi pemberontakan rakyat besar-besaran terhadap rezim Ali Abdallah Saleh yang dinilai korup dan beroleh dukungan pemerintah AS. Berbagai faksi bersenjata akhirnya berhasil menekan Saleh, yang kemudian menyerahkan kekuasaan kepada Abd Rabbo Mansour Al-Hadi, Wakil Presiden, pada Februari 2012. Pemilihan Umum sandiwara lalu dilakukan, dimana Mansour merupakan calon tunggal yang namanya terdapat di surat suara. Mansour pun memenangkan, 99,8 persen suara – yang sah.

Houthi dan sejumlah kelompok lain, menolak pemerintahan hasil sandiwara politik ini. Houhti yang merupakan penganut faham Syiah Zahidi melanjutkan aksi perjuangannya, yang sebelumnya dilakukan secara persisten sejak 2014. Saudi Arabia memancing Houthi bergerak ke utara Saudi, pada 2010. Sejumlah pengikuti Houthi masuk dalam perangkap. Houthi yang sempat dilucuti senjatanya, melanjutkan aksi, menggerakkan perlawanan terhadap Mansour, sehingga meledak perlawanan bersenjata 2014.

Para pengikut Houthi ditangkapi di hampir seluruh wilayah negara Yaman. Ketika Mansour lari ke Aden, yang dinyatakannya sebagai ibukota baru Yaman, pasukan Saudi sudah dikerahkan untuk menghadang aksi Houthi. Persoalan hampir selesai, ketika Mansour mengundurkan diri pada Januari 2015. Tapi, pengunduran diri itu hanya taktik belaka. Mansour mencabut pengunduran dirinya dan memancing Houthi melanjutkan pemberontakan. Sesuai skenario yang dirancang bersama Saudi Arabia, Mansour ‘hijrah’ ke Saudi Arabia.

Inilah yang menandai agresi Saudi Arabia untuk menghancurkan seluruh infrastruktur dan  rakyat sipil Yaman, terutama orang tua, perempuan, dan anak-anak sipil yang tak berdosa. Salah satu korban agresi Saudi Arabia adalah KBRI. Karenanya, wajar bila Menlu Retno Marsudi mengutuk serangan Saudi Arabia atas Yaman. Namun, tak cukup sampai di situ, tentu. Melalui forum peringatan Konferensi Asia Afrika ke 60, Presiden Joko Widodo perlu mengutuk agresi Saudi Arabia atas Yaman.

Mustinya, Indonesia perlu mengangkat dua isu utama dalam peringatan KAA : Merdekakan Palestina, Hentikan Agresi Saudi Arabia di Yaman. Basisnya: Dasasila Bandung 1955. | Bang Sem

 

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Energi & Tambang
Lingkungan
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 263
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 390
Jakarta Baur Budaya
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 491
Jumhur Hidayat
03 Des 25, 18:35 WIB | Dilihat : 893
Jangan Pernah Menentang Semesta
Selanjutnya