KONFLIK ARAB SAUDI - IRAN

Dunia Islam Terancam

| dilihat 2780

Bang Sem

SEBERAPA besar pengaruh Indonesia dan Presiden Jokowi dapat menurunkan ketegangan antara Arab Saudi dan Iran? Jawabnya, terlalu kecil.

Menteri Luar Negeri Indonesia – Retno LP Marsudi, sendiri (Sabtu malam, 9/01/16) sepereti dikutip Antara menyatakan, upaya mendamaikan Arab Saudi dan Iran, tidak mudah. Meskipun, Presiden Jokowi merasa sudah bersahabat dengan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Azis al Saud dan Presiden Iran Hassan Rouhani.

“Komplikasinya sangat banyak,” jelas Retno. Sampai saat ini, inisiatif Indonesia baru sebatas menunjukkan kepedulian terhadap situasi yang terjadi antara Arab Saudi dengan Iran. Termasuk keinginan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar untuk membantu sesama.

Meski pernah memperoleh bintang dari Raja Salman, Presiden Jokowi belum mempunyai political standing yang berpengaruh terhadap Salman dan Rouhani. Pasalnya, bintang yang diberikan Salman kepadanya, lebih berat bobotnya untuk kepentingan bisnis Arab Saudi di Indonesia. Khasnya, terkait dengan bisnis migas, termasuk pembangunan kilang Pertamina. Tak lebih dari itu.

Hubungan Arab Saudi – Iran memanas sejak dua pekan terakhir. Dimulai dengan pembunuhan yang dilakukan pemerintah Kerajaan Arab Saudi (bermazhab Wahabi) atas Nimr al-Nimr, pemimpin mazhab Syi’ah di Ryadh - Arab Saudi (Ahad, 2 januari 2016). Nimr dituduh Raja Salman sebagai pembangkang dan menimbulkan instabilitas di Arab Saudi.

Tindakan yang dilakukan untuk dan atas nama keamanan dalam negeri Arab Saudi itu memicu reaksi keras di Teheran. Tak kurang dari 47 orang massa menyerang kedutaan dan misi diplomatik Arab Saudi di Teheran dan Mashhad. Arab Saudi menggila dengan melakukan aksi pemboman di Yaman. Hubungan diplomatik kedua negara putus. Yang mengemuka kemudian adalah perang pernyataan tit for tat, saling balas membalas antara Ryadh dan Teheran. Termasuk aksi mengunci ekonomi Iran, melalui jalur perengkoan Arab Saudi dengan sejumlah negara Barat yang selama ini menjadi mitra bisnis Iran.

PRESIDEN IRAN HASSAN ROUHANI BICARA DI SIDANG UMUM PBB SEPTEMBER 2015 LALU. TAK ADA PRESIDEN JOKOWI DI MARKAS BESAR PBB NEW YORK SAAT ITU.

Menteri Luar Negeri Saudi, Adel el Jubeir yang sedang melakukan kunjungan ke Mesir, menyatakan di Kairo, Iran telah mencampuri urusan dalam negeri Arab Saudi dan ‘menghasut’ perselisihan mazhab di negeri yang memiliki tradisi perseteruan kaum, sejak berabad silam, itu.

Saudi dan Iran sama memutuskan hubungan diplomatik. Dan, seperti banyak diduga sejak sedasawarsa belakangan ini, akan meletus perang fisik Arab Saudi dengan Iran. Apalagi, Saudi sudah mengizinkan pihak ketiga, Israel menggunakan wilayah udaranya untuk menyerang Iran. Ketegangan mutakhir Saudi – Iran sendiri sudah memuncak, sejak Saudi menggempur Yaman, awal Ramadhan lalu.

Sangat sedikit pemerhati politik Timur – Tengah yang yakin ketegangan itu akan menurun dan berubah baik. Pasalnya, Saudi yang sangat lama memendam was-was atas Iran, dan memperkuat persekutuannya dengan Ameria Serikat, Inggris, dan sejumlah negara NATO lainnya, belakangan merasa menjadi ‘Penguasa Timur Tengah.” Saudi menempuh jalan senjata dan kekerasan untuk melindungi dirinya yang senantiasa was-was itu.

Dalam banyak hal (khasnya ekonomi dan pertahanan), Saudi melebihi Iran dalam banyak hal. Negara kaya itu, menghadapi Iran yang miskin. Namun, rasa was-was Saudi terhadap Iran, sangat beralasan, karena Iran mempunyai ghirah berjuang yang sangat dahsyat. Kemampuannya bertahan dari embargo yang dilakukan Amerika Serikat dan negara-negara Barat, tak membuat Republik Islam Iran kehilangan eksistensi dan selalu diperhitungkan di dunia.

Kendati demikian, segelintir pemerhati masih memandang jalan diplomasi merupakan jalan yang harus ditempuh untuk menurunkan ketegangan. Misalnya, Ellie Geranmayeh, ahli Iran di Divisi Hubungan Luar Negeri – Uni Eropa Board berbasis di London.

Dia mengatakan, meski setegang apapun jalan diplomasi harus ditempuh oleh kedua negara. Dalam konteks itu, Geranmayeh menilai, dalam meredakan ketegangan kedua negara, peran utama yang akan berpengaruh adalan negara-negara Barat. Meskipun penduduk muslim mereka minoritas.

PRESIDEN AMERIKA SERIKA OBAMA DAN RAJA SALMAN DALAM SUATU KUNJUNGAN KENEGARAAN OBAMA KE ARAB SAUDI.

PRESIDEN IRAN HASSAN ROUHANI MENERIMA KUNJUNGAN PEMIMPIN RUSSIA VLADIMIR PUTIN DI TEHERAN

PRESIDEN JOKOWI DENGAN ARAB SAUDI SALMAN AL SAUD. HANYA DIPLOMASI DAGANG MEMBICARAKAN KUOTA HAJI INDONESIA.

“Negara-negara Barat memainkan peran sangat penting untuk menekan Saudi dan Iran untuk mendinginkan eskalasi konflik mereka, yang telah menimbulkan ketidak-stabilan di wilayah Timur Tengah,”ungkap Geranmayeh.

Ketegangan itu sebenarnya sudah menurun, ketika sebelum pemerintah Kerajaan Saudi mengekeksekusi pembunuhan atas pemimpin mazhab Syiah di Arab Saudi - Nimr al-Nimr. Saudi akan mengirimkan duta besar baru ke Teheran. Tapi, sayang eksekusi itu terjadi.

Keputusan itulah, menurut Adanan Tabatabai, analis politik Iran, pendiri Pusat Penelitian Terapan dan Kemitraan (CARPO) di Bonn, Jerman, yang menaikkan lagi eskalasi ketegangan antara kedua negara. “Sebenarnya, ketegangan kedua negara tidak selalu dalam mata rantai yang memburuk,”kata Adanan. Situasi cepat berubah, karena Saudi tak menahan diri, dan Iran spontan mengusir Duta Besar Saudi dari Teheran. Akibatnya terjadilan aksi yang merusak dan menutup seluruh jalan ke arah yang benar, yang mulai dirintis. “Sekarang, tentu sangat sulit untuk memperbaiki situasi,”cetus Adanan.

Dia mengandaikan, situasi awal 2016 ini akan jauh lebih buruk dari dibandingkan  tahun 1979. Apalagi, Saudi terus menggalang dukungan dari para sekutu Arab-nya. Tahun itu, merupakan tahun ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini memimpin langsung transformasi Iran dari negara otokratis yang diperintah oleh Shah Reza Pahlevi ke Republik Islam, dengan sistem demokrasi otokratis.

Kala itu, setelah pergantian kekuasaan dari Shah kepada Khomeini, massa menyerbu kedutaan Arab Saudi di Teheran. Lantas, pemerintah Kerajaan Saudi bersumpah untuk berpaling dan tak akan berkarib mesra dengan rezim baru di Teheran.

Saudi, negara kaya minyak dengan petro dollar yang meruah, kala itu menggunakan kekayaannya, terutama uang dan senjata ke seluruh wilayah Timur Tengah, dan menjadi kepanjangan tangan Barat, mengalirkan uang dan senjata ke seluruh Timur Tengah, yang sedang menjadi sasaran proxy war Barat – kendati baru berhasil beberapa dasawarsa kemudian dengan Arab Spring. Aksi Arab Saudi, itu memicu gelombang destabilisasi, kekerasan antar mazhab. Tapi, kemudian dengan jalan diplomasi, ketegangan itu mereda.

GELOMBANG AKSI PROTEST AKAN MERAMBAH KE BERBAGAI BELAHAN DUNIA. ARAB SAUDI DAN IRAN SAMA BERUSAHA MENCARI DUKUNGAN.

KAUM SYIAH DI ARAB SAUDI TURUN KE JALAN. MILITANSI VERSUS MILITANSI AKAN TERJADI.

JALAN DIPLOMATIK DIANJURKAN UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH. TETAPI KEDAMAIAN KADUNG TERKOYAK DI TIMUR TENGAH.

Bagi Farea al-Muslimi, seorang analis Yaman di Carnegie Middle East Center di Beirut – Lebanon, ketegangan kali ini  lebih merupakan setting konflik Wahabi versus Syiah.  Karenanya, keduanya akan berusaha memengaruhi Muslim bermazhab Sunni di Timur Tengah dan di seluruh dunia. Wahabi sendiri, selama ini lebih banyak berlindung dan menyatakan dirinya sebagai bagian dari mazhab Sunni. Meskipun tradisi peribadatan dan budaya Syiah lebih dekat dengan Sunni.

Keduanya meyakini, siapapun yang berhasil memengaruhi muslim Sunni, akan menjadi pemenang dalam kondlik keduanya. Apalagi, selama ini, sebagian muslim bermazhab Sunni, lebih banyak mengambil sikap non blok, tak berpihak ke Wahabi apalagi Syiah.

Karenanya, meskipun sudah begitu banyak dana dikeluarkan Saudi, hanya segelintir muslim bermashab Sunni saja yang bisa diseret ke paham Wahabi. Indonesia termasuk negara muslim bermazhab Sunni, yang menjadi pertarungan seru antara Wahabi dan Syiah, hanya saja penganut mazhab Syiah di Indonesia, tidak mempunyai pasokan dana dari Iran.

"Semua retorika sektarian - mazhab dipergunakan rezim Salman – Arab Saudi yang memang suka bermain kartu sektarian," kata Farea al-Muslimi. Saudi yang mulai menutup keran bantuan untuk kepanjangan tangan mereka di negara-negara bermazhab Sunni, karena merasa dikhianati, kini membuka lagi keran bantuan itu. Raja Salman – Arab Saudi memerlukan arus besar opini global dari kaum muslim Sunni, untuk menekan Iran yang bermazhab Syiah.

Kendati demikian, Arab Saudi dan Iran, saat ini sedang memusatkan perhatian untuk mendominasi zona regional mereka. Dalam konteks ini Arab Saudi di atas angin, karena untuk membeli pengaruh di kalangan negara-negara muslim Sunni, akan berdampak pada peningkatan aliran senjata dan dana untuk kaum Wahabi ekstremis, dan melahirkan berbagai gerakan militan, seperti ISIS yang belakangan, sedang sangat dicurigai di negara-negara muslim Sunni.

SYEIKH NIMR. (INSERT) SYEIKH NIMR KETIKA DITANGKAP PEMERINTAH KERAJAAN SAUDI ARABIA DARI RUMAHNYA DI QATIF TAHUN 2012

GELOMBANG PROTEST TERHADAP ARAB SAUDI BERLANGSUNG DI BERBAGAI NEGARA DI KAWASAN TIMUR TENGAH. KEDAMAIAN TERKOYAK.

Arab Saudi dan Iran, sama berkeyakinan mereka akan memenangkan konflik yang sebentar lagi akan menjadi perang terbuka itu. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berjanji "keadilan ilahi" akan menimpa Arab Saudi, setelah pembunuhan al-Nimr dieksekusi. Sebaliknya, Raja Arab Saudi, Salman, mengeluarkan pernyataan, bahwa para sekutunya – terutama Israel – sudah cukup dan tinggal bergerak untuk menggempur Iran.

Gerakan ideologi konflik sudah sama mereka dorong dan berbagai milisi di berbagai sudut wilayah regional yang berhasil mereka kuasai perlahan sudah terbentuk.  Para milisi ini yang akan berperang terbuka lebih awal melanjutkannya secara berkepanjangan, walaupun – katakanlah – Ryadh dan Teheran kelak akan tenang dan memilih jalan diplomasi.  Akibatnya, akan timbul kerusakan dahsyat di kawasan itu.

Negara-negara Barat yang bersekutu dengan Arab Saudi, nampak kali ini tak akan gegabah. Konflik Arab Saudi – Iran akan membuka peluang bagi Iran untuk memicu flare-up, dan mengabaikan kesepakatan nuklir Iran 2015. Jalan menuju kebaikan bagi dunia, itu akan berubah total bila konflik ini berkepanjangan. Hasilnya adalah bencana kemanusiaan yang dahsyat di abad konseptual ini.

Karenanya, tidak mustahil, negara-negara sekutu Arab Saudi, seperti Inggris dan Amerika Serikat, akan cenderung, mendamaikan kedua negara. Mereka – kecuali Israel – tak akan mendorong Arab Saudi menghabisi Iran. Ini yang dilupakan Arab Saudi, yang memosisikan dirinya sebagai bankir bagi gerakan Wahabi sedunia, baron minyak dan gasbumi, sekaligus pemimpin spiritual dunia Islam.

Bila para sekutu bersikap dan bertindak mendamaikan, tentu Arab Saudi akan merasa ditinggalkan oleh sekutunya paling penting, Amerika Serikat. Hal ini akan melebarkan keretakan hubungan Arab Saudi – Amerika Serikat, yang sudah terasa sejak 2011 lalu. Apalagi, selama Arab Spring, terkesan, Amerika Serikat mendukung pemberontakan rakyat melawan tiran Arab – sekutu dekat Arab Saudi.

Yang pasti, konflik Arab Saudi – Iran akan berbuah bencana. Mempercepat kehancuran dunia Islam yang sedang ditunggu-tunggu oleh Barat dan Yahudi.

Apa yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia menyikapi situasi demikian? Hanya satu: ciptakan kerukunan umat beragama di Indonesia dan tidak berpihak kepada siapapun. Tidak mustahil, konflik yang terjadi di Timur Tengah akan menjelma menjadi konflik sektarian di sini. | 

Editor : sem haesy | Sumber : ALJAZEERA, IRNA, SAUDIA, VOA | Foto-foto : GettyImages, KSP RI, VOA, IRAN HEADLINE
 
Sporta
Budaya
30 Agt 26, 07:03 WIB | Dilihat : 469
Menyambut Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi
19 Agt 26, 19:43 WIB | Dilihat : 689
Gema Bumantara Siti Nurhaliza dan Refleksi Pemikiran STA
23 Jun 26, 22:10 WIB | Dilihat : 968
Jakarta Ruang Lebih Luas Bagi Budaya dan Seni
01 Jun 26, 21:47 WIB | Dilihat : 907
AGI Sosok Artistik yang Bergerak
Selanjutnya