
"Mundurnya solidaritas global akan berdampak negatif pada kemampuan kita untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dunia,” ungkap Bob (Robert Keith) Rae, Presiden Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) kepada wartawan (Selasa, 15/7/25). Ia juga Perwakilan Tetap (Duta Besar) Kanada untuk PBB.
Rae adalah Pemimpin (Chair person) penyelenggaraan Forum Politik Tingkat Tinggi (HPLF) PBB ke 4 ihwal Tujuan Pembangunan berkelanjutan (SDG's) yang sedang berlangsung hingga 23 Juli 2025 di Markas PBB New York City.
Lelaki 76 tahun kelahiran Ottawa, Kanada bertemu para wartawan berbagai media internasional yang bertugas di New York di ruang media.
Ihwal pernyataannya tersebut, Rae menyatakan, dunia belum berada di jalur yang tepat untuk mencapai SDG's sesuai Agenda 2030. Tapi, “ini bukan serangkaian kegagalan,” katanya. Rae pun mengatakan, “Kita telah melihat area-area perbaikan yang signifikan. Kita telah mengurangi angka kematian anak secara substansial dalam lima tahun terakhir. Kita telah meraih keberhasilan besar dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Ini sangat signifikan."
Lebih jauh, politisi kawakan New Democratic Party (NDP) - Kanada, ini menyatakan sebagaimana disinggung Deputi Sekjend PBB Amina J. Mohammed pada pembukaan HPLF 4. (Baca berita terkait : 800 Juta Orang Hidup dalam Kemiskinan di Tengah Konflik) "Kita memiliki lebih banyak perempuan yang bersekolah daripada sebelumnya, lebih banyak anak perempuan yang berpartisipasi dalam sistem pendidikan. Kita dapat menunjukkan banyak area di mana kita sebenarnya belum tentu berada di jalur yang tepat, tetapi kita telah mengalami peningkatan, dibandingkan dengan sebelumnya.”
Dikemukakannya, “beberapa keputusan yang telah diambil terkait ekonomi global dan keputusan yang telah diambil terkait pendanaan lembaga-lembaga penting yang telah kita bentuk sejak 1945, telah dan sedang berdampak negatif pada kemampuan negara-negara untuk mencapai apa yang harus dicapai.”
Dikemukakannya pula, negara-negara bangsa yang memiliki sarana untuk memberikan dukungan yang lebih besar bagi pembangunan berkelanjutan telah memilih untuk tidak melakukannya karena alasan domestik mereka sendiri. Dan itu juga merupakan tantangan yang signifikan bagi kita semua dan bagi sistem global.
Ditanya ihwal penarikan diri Amerika Serikat (AS) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ia mengatakan bahwa hal tersebu bukan akhir dari dunia. "Kita harus membangun organisasi yang cukup tangguh untuk menghadapi dampak jangka pendek keputusan politik yang salah arah oleh pemerintah.”
Cepat Rae mengalihkan pendapatnya, mengimbau seluruh pemimpin negara-negara anggota PBB, “Mari kita minta pertanggungjawaban orang-orang yang seharusnya dimintai pertanggungjawaban. Negara-negara anggotalah yang harus bertanggung jawab. Dan ya..., beberapa negara anggota lebih bertanggung jawab daripada yang lain.”
Ringan saja Rae berkata, “Dua donor terbesar — bukan donor, melainkan kontribusi terbesar yang dinilai, kontribusi yang harus dibayarkan kepada PBB — yang belum membayar iuran mereka adalah Amerika Serikat dan Tiongkok. Mereka adalah dua anggota Dewan Keamanan. "Jadi, kita harus berdiskusi lebih terbuka tentang siapa yang bertanggung jawab atas resep apa."

Kehidupan Tak Berhenti di Tahun 2030
HLPF 2025 dengan tema, “Memajukan solusi yang berkelanjutan, inklusif, berbasis sains dan bukti untuk Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutannya agar tidak ada yang tertinggal,” ini akan berlangsung sesuai agenda.
HPLF ke 4 tahun 2025, ini menurut Rae, merupakan pertemuan terbesar yang secara khusus tentang SDG's. Selama dua pekan, HPLF tidak hanya meliputi delegasi -- yang antara lain adalah pemimpin kota: walikota dan gubernur --, tetapi juga para menteri dari sejumlah negara di pekan kedua. Tak hanya melibatkan aktor negara, tetapi juga sejumlah besar perwakilan masyarakat sipil yang kerap bersama di semua pertemuan ECOSOC, sebagai peserta aktif.
"Jadi, kita akan melihat di seluruh gedung ini, tetapi juga di pertemuan sampingan lainnya, ada lebih dari 190 pertemuan sampingan yang berlangsung selama dua pekan ke depan.," jelas Rae.
Maknanya, HPLF akan menjadi upaya besar bagi ECOSOC untuk menilai kinerja terbabit isu-isu penting keberlanjutan dan pencapaian kesejahteraan yang lebih besar secara global.
"HPLF ini juga peluang kita untuk berbicara secara intensif tentang bagaimana kita akan melangkah, dan bagaimana kita harus melangkah maju," ujarnya.
Dikatakannya, sudah satu dekade sejak mulai menyatukan orang-orang untuk fokus pada SDG's. ECOSOC, jelasnya, juga menyediakan kesempatan bagi negara-negara anggota untuk membagitahu kinerja mereka. Rae menyinggung tentang pernyataan tinjuan nasional sukarela - voluntary national review (VNR) meliputi 190 dari 193 anggota.
"Jadi ini kesempatan bagi ECOSOC untuk melakukan presentasi berkelanjutan tentang bagaimana kami memobilisasi dukungan dan mencapai titik dimana kami membuat kemajuan yang diperlukan. Tentu saja, ini saatnya untuk mengevaluasi. Ini adalah titik tengah. Masih lima tahun lagi menuju 2030," ungkapnya kalem. "Meskipun begitu, saya selalu mengingatkan orang lain bahwa ketika orang bertanya kepada saya apa yang terjadi setelah 2030, saya akan menjawab 2031," lanjutnya.
Dikemukakannya, kehidupan tidak berhenti di (tahun) 2030. "Kita terus maju. Bagaimana kita terus maju dan dalam bentuk apa tepatnya, merupakan sesuatu yang akan kita bahas selama beberapa tahun ke depan menjelang 2030. Kuncinya, SDG's yang kita bahas tahun ini adalah tentang kesehatan dan kesejahteraan, kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, kehidupan di bawah air, dan peran kunci kemitraan dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut." Sebelum dialog dengan wartawan, Rae baru saja sesi rapat tentang kesetaraan gender.
Rae beramsal, ketika seorang politisi Inggris terkenal ditanya, "Anda tahu, mengapa Anda tidak mencapai semua hal yang Anda katakan akan Anda capai ketika Anda menjadi perdana menteri? Dia berkata, peristiwa,.. peristiwa." Kita terdampak oleh peristiwa..
Rae lalu mengatakan, "Mari kita sadari dan akui bahwa kita sedang hidup di masa konflik yang belum pernah kita saksikan di seluruh dunia sejak tahun 1945. Hal ini jelas berdampak dramatis pada kemakmuran global, PDB -- pendapatan domesti bruto -- global, kemampuan masyarakat untuk mencari nafkah, dan kemampuan masyarakat untuk bertahan hidup. Hal ini telah meningkatkan biaya secara dramatis, dan dampaknya luar biasa."

Puisi "No Man's Island" dan Perang Rusia Ukraina
Tentang perubahan iklim, disebut Rae, terus mendatangkan malapetaka bagi cuaca kita, terutama kemampuan kita memprediksi dengan tepat bagaimana negara-negara akan bertahan. Hal ini memengaruhi mobilitas dan pergerakan manusia. "Kita memiliki lebih banyak orang yang mengungsi di dunia daripada yang pernah kita miliki, yaitu orang-orang yang mengungsi dan tunawisma. Kita memiliki rekor jumlah dalam statistik yang menyedihkan itu," lanjutnya.
Karenanya, ungkap Rae, kita perlu memahami bahwa ada banyak tantangan, yang bukan diciptakan oleh negara-negara anggota, tetapi merupakan bagian dari kerangka kerja tempat kita semua harus hidup dan bekerja.
"Kita belum mencapai semua yang kita inginkan. Tapi ini adalah kisah dimana kita perlu memperbaiki area-area dimana kita tertinggal, dan saya pikir kita semua tahu dimana letaknya dan apa yang diperlukan untuk mencapainya. Salah satunya adalah proses ini didorong oleh kesepakatan negara-negara untuk menetapkan tujuan pembangunan berkelanjutan bukanlah keputusan yang dibuat oleh sekretariat PBB atau oleh badan-badan PBB. Itu adalah keputusan yang diambil oleh negara-negara anggota PBB."
Menurut Rae, negara-negara di dunia sepakat bahwa mereka akan menerima tujuan-tujuan ini sebagai tujuan mereka, bahwa tujuan-tujuan ini akan mereka tanggapi dengan serius, bahwa mereka akan terapkan, bahwa mereka akan ukur, dan bahwa mereka akan melakukan yang terbaik untuk mengubah dan menggeser kebijakan agar tercapai.
Namun, ujarnya lagi, pada saat yang sama, harus dikatakan bahwa beberapa keputusan yang telah diambil terkait ekonomi global dan keputusan yang telah diambil terkait pendanaan lembaga-lembaga penting yang telah kita ciptakan sejak 1945 telah sedang berdampak negatif pada kemampuan negara-negara untuk mencapai apa yang harus dicapai.
Rae serius berdialog dengan wartawan. Kepada Viuchin, dari Kantor Berita Nasional Ukraina yang bertanya ihwal bagaimana agresi Rusia terhadap Ukraina berdampak terhadap pencapaian SDG's, ia menjawab : Invasi atas Ukraina menyebabkan krisis pangan internasional. Memicu kenaikan harga pangan secara langsung bagi miliaran orang. Jutaan orang mengungsi dari Ukraina ke luar negeri. Jadi populasi Ukraina berkurang drastis.
Tingkat pengungsian paksa ini, menjadi masalah yang sangat besar. "Kami harus melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa masyarakat memiliki cukup makanan, harga makanan terjangkau. Dan.. menurunkan lonjakan inflasi.
Inflasi memang memiliki dampak negatif yang sangat besar, katanya. Lalu menyinggung, ada sebuah puisi terkenal (No Man's Island) yang ditulis 400 tahun lalu oleh seorang penyair Inggris. Puisi itu menyinggung ihwal, tidak ada negara yang merupakan pulau yang unik.
"Kita tahu, ketika sesuatu berdampak, dampaknya terasa jauh lebih luas daripada yang kita sadari. Saya tidak akan menggambarkannya sebagai efek riak. Ini lebih seperti efek tsunami, karena dampak yang ditimbulkannya pada saat itu. Dan tidak ada jalan keluarnya."
Namun, lanjutnya, juga benar untuk mengatakan bahwa ekonomi global tangguh, dan ekonomi Ukraina tangguh, rakyat Ukraina serta Ukraina tangguh, dan semoga ketahanan teman-teman Ukraina akan cukup untuk memungkinkan Ukraina berhasil dalam pertahanan dirinya. | jeanny