Catatan Dari Ajang Kongres IV Partai Demokrat

Cara SBY dan Partai Demokrat Menghormati Presiden

| dilihat 2283

 

PEMBUKAAN Kongres IV Partai Demokrat di Auditorium Hotel Shangri La – Surabaya,  yang semarak dalam kesederhanaan, patut menjadi contoh, bagaimana menempatkan demokrasi sebagai cara untuk mencapai harmoni.

 

Dari banyak acara Kongres, Muktamar, dan Munas Partai Politik, di Pembukaan Kongres IV Partai Demokrat saya menemukan pelajaran menarik tentang bagaimana politik cerdas dan santun dimanifestasikan. Terutama terkait dengan prinsip ‘ngewongke wong.’

 

Hati saya tergetar beberapa saat, ketika melihat Ketua Umum Partai Demokrat, Presiden Republik Indonesia 2004-2014, Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berdiri dan memberi hormat kepada Presiden Joko Widodo, sebelum memimpin hening cipta.

 

“Mohon izin Bapak Presiden, saya akan memimpin hening cipta. Hening cipta dimulai,” ujar SBY.

 

Selepas itu Ketua Penyelenggara Kongres IV – Partai Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) ketika hendak menyampaikan laporan, memberi apresiasi kuat kepada Presiden Jokowi dan Ketua Umum PD – SBY.

 

Integritas dan rasa percaya diri Ibas tampak, ketika ia meralat slip of the tounge yang menyebut SBY sebagai Presiden Kelima. Ibas cepat menguasai suasana, sampai akhirnya ia melontar pantun, dan menegaskan harapan, agar seluruh kader Partai Demokrat mampu berperan sebagai pahlawan baru bagi rakyat, sesuai dengan moto Kongres IV PD : “Untuk Rakyat, Demokrat Peduli dan beri Solusi.”

 

 

Saat memberikan sambutan, Ketua Umum PD – SBY, tegas menyatakan, partai demokrat merupakan partai yang tidak berada di dalam koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih, itu dan memainkan peran sebagai penyeimbang. Tiga hal dikemukakan SBY, Partai Demokrat mendukung pemerintah dalam seluruh upayanya menyejahterakan rakyat.

 

Karena itu, seluruh kader-kader Partai Demokrat yang memangku amanah sebagai Walikota, Bupati, dan Gubernur wajib memberi dukungan kepada Presiden Republik Indonesia. “Kita, rakyat, menghendaki pemerintah berhasil mengemban amanat rakyat,” ujar SBY. Lalu menegaskan, partai ini akan mengkritisi pemerintah, bila mengambil kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat.

 

Presiden Jokowi sendiri saat memberi sambutan, sebelum memukul gong, mengemukan dirinya berupaya keras menghadiri Kongres, Muktamar, dan Munas partai politik, karena peran partai politik sangat penting dalam membangun bangsa sesuai dengan konstitusi. Jokowi mengurut mulai dari tujuan mencerdaskan bangsa sampai peran menciptaka perdamaian dunia.

 

Partai Demokrat, melalui Ketua Umum-nya, memberi contoh bagaimana mesti menghormati Presiden/Kepala Negara. Sebaliknya, Jokowi sebagai Presiden/Kepala Negara menghormati Ketua Umum partai yang juga pendahulunya.

 

Peristiwa yang disaksikan oleh sejumlah Menteri Kabinet Kerja, Mantan Wakil Presiden Boediono, Mantan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu.  Nampak pula Ketua DPR RI, MPR RI, DPD RI, sejumlah Gubernur, Bupati, dan Walikota.

 

Pada acara pembukaan sejumlah tokoh dan pemimpin partai politik nampak hadir, antara lain: Wiranto, Sutiyoso, Romahurmuzi, Muhaimin Iskandar, Fadli Zon, Agung Laksono, dan lain-lain.  Meski demikian, tak nampak Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri – Ketua Umum PDI Perjuangan (hanya mengirim Wakil Sekjend DPP PDIP). Juga tampak sejumlah Pendiri, Anggota Majelis Tinggi, Dewan Pembina, Komisi Pengawas, dan Direktur Eksekutif Partai Demokrat.

 

Banyak pelajaran menarik yang bisa dipetik dari acara yang biasanya rentan dengan pertikaian, itu. Antara lain, pernyataan komitmen Partai Demokrat untuk menjalankan politik santun dan  baik. Termasuk pesan Presiden Jokowi, agar kongres menjadi ruang dialog di lingkungan internal Parpol untuk mengatasi masalah. Terutama, ungkap Jokowi, karena partai bukan sekadar alat mencapai kekuasaan.

 

 

Acara pembukaan yang dibaluri dengan kemasan budaya yang mempertemukan estetika, artisika, dan etika itu telah memberi aksentuasi yang tepat untuk menempatkan demokrasi sebagai cara mewujudkan harmoni. Karenanya, optimisme segara menjalar. Bila semua partai politik menggelar acara Kongres, Munas, dan Muktamar seperti yang dllakukan Partai Demokrat, proses demokrasi internal partai akan berjalan lebih baik. Khasnya, dalam menggerakan transformasi demokrasi, berdimensi jauh ke masa depan dengan formula dan platform yang menjunjung tinggi adab.

 

Pembukaan Kongres IV Partai Demokrat, ini juga memberi contoh bagaimana menghormati dan memuliakan Presiden/Kepala Negara secara fungsional dan proporsional. Terutama, karena Presiden adalah Kepala Negara dan bukan petugas partai.  Karena siapapun juga yang memperoleh amanah sebagai Presiden/Kepala Negara, layak dan patut baginya memperoleh penghormatan.

 

“Acara pembukaan yang cantik dan banyak memberi pelajaran, Pak,” ungkap saya kepada SBY, ketika bertemu sesaat, selepas beliau mengantar Presiden Jokowi. “Sukses dan sukses,” ungkap saya kepada Ibas atas gelaran acara politik yang dikemas apik dengan sentuhan budaya yang kental.

 

Joke-joke yang dikemukakan SBY dan Jokowi saat masing-masing memberi sambutan, memberikan kesegaran baru, bahwa peristiwa politik juga memerlukan sense of art, agar politik praktis lebih berwarna. | Bang Sem

Editor : N Syamsuddin Ch. Haesy
 
Humaniora
26 Agt 26, 12:25 WIB | Dilihat : 289
PM Wong Ungkap Peran Besar Puak Melayu Muslim Singapura
23 Agt 26, 12:57 WIB | Dilihat : 277
Keterbatasan Bukan Penghalang
11 Jul 26, 22:56 WIB | Dilihat : 566
Daya Cinta Rakyat kepada Ayatollah Ali Khamenei
Selanjutnya
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1297
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3444
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya