Anies Baswedan Gubernur Good Bener

Pembangunan Jakarta sebagai Gerakan Kebudayaan

| dilihat 1380

Catatan Bang Sém

Sejak dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, saya hanya jumpa tiga kali jumpa secara formal dengan Anies Baswedan di balaikota DKI Jakarta. Masing-masing, ketika pertemuan Gubernur DKI Jakarta dengan alim ulama dan ormas Islam, ketika kedatangan Syeikh Khalid dari Makkah; ketika Gubernur menyaksikan pelantikan Majelis Adat Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, dan jelang pergelaran Jakarta Melayu Festival (JMF) ke 8 - 2018 yang digerakkannya bersama Geisz Chalifah, Ferry Mursidan Baldan, saya dan teman-teman lain.

Selebihnya adalah pertemuan dan ngobrol sebagai Anies Baswedan. Hanya sekali, dia lupa, masih mengenakan pin jabatan di bajunya.

Dalam perbincangan formal, selaku Gubernur DKI Jakarta, Anies menegaskan konsep pembangunan ibukota Jakarta sebagai Gerakan Kebudayaan (dengan K besar), meliputi seluruh aspek kehidupan, yang dihiasi dengan kebudayaan (dengan "k" kecil) meliputi kesenian.

Dalam konteks itu, Anies yang konsisten dengan sesanti, "Maju Kotanya, Bahagia Warganya," memusatkan perhatian dan prioritas pada "bahagia" yang ditopang oleh kesejahteraan dan keadilan. Berulangkali saat ngobrol, Anies menegaskan, persoalan utama ibukota Jakarta adalah keadilan dan kesejahteraan. Karenanya, dia pasang badan dan tak pernah takut menghadapi siapa saja yang menghalangi pencapaian keadilan berkesejahteraan, itu.

Anies mendudukkan marwah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dipimpinnya sebagai institusi pelayanan tanpa kehilangan integritas. Dia tidak tunduk pada apa maunya pengembang, misalnya. Hal itu dibuktikan dengan keputusannya yang tanpa gembar-gembor, menghentikan pembangunan reklamasi di pantai utara Jakarta, yang akan berdampak buruk pada ekosistem secara keseluruhan. Terutama, berdampak buruk bagi kehidupan nelayan Jakarta.

Langkah berikutnya yang dilakukan Anies adalah memberikan hak pejalan kaki sepanjang Sudirman - Thamrin, bulevar utama Jakarta, dari Patung Pemuda - Senayan sampai Patung Arjuna Wiwaha - Gambir. Antara lain dengan membenahi pedestrian Jakarta melalui reorientasi infrastruktur untuk manusia yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.

Setarikan nafas, dia juga menggerakkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membenahi berbagai fasilitas sosial berdimensi budaya (kesejarahan sampai lingkungan hidup), seperti Lapangan Banteng, satu spot Banjir Kanal Timur (BKT), Kolong Jembatan Slipi, dan lainnya.

"Kita ingin memberi aksentuasi prasarana kota, seperti pedestrian sebagai 'panggung seni' dan etalase budaya," tuturnya suatu malam, usai pembubaran panitia JMF2018 di bilangan Menteng.

Dalam konteks itu, selain membenahi pedestrian selebar 12 meter dengan panjang 6,6 kilometer (1,4 kilometer di antaranya dikerjakan oleh PT MRT Jakarta, karena terkait dengan 6 stasiun singgah: Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia.

Tak mudah bagi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mewujudkan perubahan, itu. Terutama dalam menghidupkan beberapa spot pedestrian sebagai 'panggung seni' dan ajang ekspresi budaya warga. Tak seluruh Fraksi di DPRD Jakarta setuju. Khasnya, fraksi-fraksi yang dalam Pilkada 2016 tidak mendukungnya.

Anies menghendaki ibukota dengan berbagai spot pertunjukan seni (public art) dengan performa yang simpel - tetapi menghibur, sebagai rima-rima dari pergelaran seni dan budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Gedung Kesenian, J'Expo Kemayoran, Ancil, dan Taman Mini.

Anies tak henti berkomunikasi dengan anggota DPRD, mitra kerjanya, dan para pelaku kesenian dan praktisi kebudayaan lainnya. Termasuk kalangan yang 'secara politis' memusuhinya, untuk melakukan unjuk kreativitas. Sembari terus melakukan proses edukasi, dia dan jajarannya terus membenahi bulevar Jakarta dengan pendekatan artistik, estetik, dan etik.

 Beberapa JPO (Jembatan Penyebrangan Orang) yang kurang memenuhi aspek artistika dan estetika, seperti di depan Wisma Nusantara dan Tosari, dibongkar, diganti dengan Pelican cross, sehingga lebih nyaman. Dan.., terasa suasananya, tak kalah dengan Kuala Lumpur, Singapura, Tokyo, atau Osaka.

Saya membayangkan, mimpi masa bocah, acap pulang pergi sekolah akan mewujud, seperti halnya beberapa ruas jalan di Kuala Lumpur kini menjadi pedestrian yang aman dan nyaman.

Seorang teman yang masih sinis dan belum terima Anies jadi Gubernur, ketika ngopi sore di salah satu spot di bilangan Pintu I Senayan, ngotot menyebut, perubahan itu bukan atas inisiatif Anies. Saya terbahak. Saya mesti jelaskan beda Anies dengan gubernur idolanya yang dikalahkan Anies di Pilkada 2016.

Dia pergi sebelum saya selesai menjelaskan ihwan pendekatan budaya yang dilakukan Anies dan berbuah rasa aman - nyaman dan bahagia warga. Sebagai Gubernur berbasis intelektualitas dan bidang studi yang tak jauh dengan tatakelola pemerintahan, konsep pembangunan yang dilakukan Anies merupakan manifestasi dari strategi budaya. Khasnya, budaya sebagai dimensi mendasar dari masyarakat yang akan terus hidup dan berkelanjutan, dynamic and sustain.

Upaya Anies membenahi bulevar Sudirman - Thamrin, termasuk JPO dengan sentuhan artistik - estetik - etik di Dukuh Atas, Pola Metro, dan Senayan merupakan manifestasi dari gerakan budaya, yang menautkan tempat dan komunitas warga sebagai aspek penting dalam perubahan kota. Perubahan yang kelak, dari sisi ekonomi dan sosial, menghadirkan kehidupan dan pekerjaan dalam satu tarikan nafas.

Upaya Anies mengedukasi berbagai komunitas warga di Jakarta, merupakan bagian integral dari vitalitas, identitas, dan kebanggaan siapa saja, sekaligus mendorong pengembangan ekonomi dan sosialnya secara berkepanjangan dan terus menerus. Untuk kalangan pebisnis dan profesional, perubahan Jakarta kini merupakan perubahan karakter, dan akan menjadi daya tarik yang paling memikat.

Ketika menyampaikan pidato, beberapa saat setelah dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta (Senin, 16 Oktober 2017) Anies mengatakan, "Jakarta adalah tempat yang dipenuhi oleh sejarah, setiap sudut di kota ini menyimpan lapisan kisah sejarah yang dilalui ratusan bahkan ribuan tahun. Jakarta tidak dibangun baru kemarin sejak era Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia hingga kini Jakarta adalah sejarah pergerakan peradaban manusia."

Jadi, kata kunci pembangunan ibukota jakarta adalah peradaban. Sivilisasi sebagai muara dari gerakan kebudayaan. Dikatakannya juga kala itu, "Jakarta adalah melting pot. Jakarta adalah pusat berkumpulnya berbagai manusia dari seluruh Nusantara. Bukan hanya Nusantara bahkan penjuru dunia. Di kota ini interaksi adalah bagian dari sejarahnya. Di kota ini pula masyarakat Betawi telah menjadi sebaik-baiknya tuan rumah bagi Jakarta."

Inilah yang dimaksudkan dengan korelasi kota yang mempaut kuat karakter dengan tempat, di mana masyarakat meluahkan energi budaya yang dimilikinya. Khasnya kreativitas dan inovasi warga. Kelak beragam komunitas warga, itulah yang mengekspresikan pencapaian dan kehidupan sosial warga Jakarta keseluruhan.

Dinamisme dan kualitas hidup komunitas terkait erat dengan koridor kemungkinan menegaskan identitas budaya menyuarakannya, merayakannya dan membicarakannya. Apa yang dilakukan Anies beserta jajarannya di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, memberi ruang bagi siapa saja untuk tahu cara mengantisipasi, mendorong, dan mendukung budaya.

Seperti laiknya di Kanada dan di berbagai ibukota di belahan dunia yang pernah saya kunjungi, pemerintah daerah memainkan peran penting dalam pengembangan budaya masyarakat mereka. Memotivasi dan mengkatalisasi pencapaian prabawa masyarakat (bahkan bangsa). Semakin warga melihat pembangunan budaya sebagai bagian integral dari strategi pembangunan kota, semakin kuat warga bergerak untuk mencapai kemakmuran ekonomi, sosial, vitalitas dan keberlanjutan.

Dalam konteks itu, pada perencanaan kota dalam banyak hal, perlu perlibatan secara fungsional dan proporsional komunitas seniman, budayawan, profesional, dan pebisnis untuk menegakkan empat pilar pembangunan kota: kegiatan budaya, organisasi, sumberdaya, dan kemampuan mengelola anggaran, menjadi sangat diperlukan. Khasnya, untuk mencapai harmonisasi pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial masyarakat. Apalagi di pundak Gubernur melekat tiga fungsi asasi sebagai pengemban amanat menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, dan pengembangan masyarakat. Karenanya, komponen sosial, ekonomi, lingkungan dan budaya menjadi penting sebagai pondasi komponen politik yang akan melahirkan kebijakan.

Anies berbeda dengan para Gubernur DKI Jakarta sebelumnya. Istimewanya adalah Anies, menempatkan akselerasi kepemimpinannya kini, tak terputus dengan pencapaian yang susah dilakukan oleh Soemarno, Henk Ngantung, Sudiro, Ali Sadikin, Tjokropranolo, Suryadi Sudirdja, Wiyogo, Sutiyoso, Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama (dan kemudian Basuki).

Gubernur DKI Jakarta yang "good bener" memang beda. Kepada beberapa teman - pimpinan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), beberapa seniman dan budayawan Jakarta, saya katakan, perkuat minda kreativitas dan inovasi budaya supaya bisa kongkret berkontribusi mempercepat pencapaian Ibukota Jakarta, minimal sebagai sentra peradaban Indonesia menyongsong Seabad Indonesia Merdeka (2045).

Makan tengari pake sambel terasi

Dikirim besan dari Bekasi

Gubernur Anies udah mulain transformasi

Nyok ramé-ramé berkontribusi inovasi

Editor : Web Administrator
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 380
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 280
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 259
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 335
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 176
Mata Maut
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 414
Industri Game Naik Saat Pandemi
Selanjutnya