
Pidato Presiden itu sungguh menggugah rakyat yang menyaksikannya melalui siaran televisi. Pidato rendah hati yang ditayangkan secara luas pada Jum'at (7/08/26), itu sangat menggugah nurani, naluri, dan menggetarkan resonansi rasa dan akal budi rakyat.
Dengan bahasanya yang tertata, pidato Presiden Republik Islam Iran, Masoud Pezeshkian, itu menghidupkan kesadaran kolektif rakyat Iran untuk kian solid menjawab segala tantangan yang datang.
Masoud Pezeshkian, dokter ahli bedah jantung, yang berani dan kerap terlihat berada di tengah-tengah rakyat itu, menyampaikan pidato politik menandai peringatan dua tahun pelantikannya di hadapan Parlemen Iran (30/07/2024), setelah memenangkan pemilihan umum pada awal bulan juli pada awal Juli 2024.
Ia terpilih untuk mengemban amanah dan kuasa yang dipinjamkan rakyat Iran untuk meneruskan perjuangan pendahulunya, Ebrahim Raisi, yang meninggal dalam kecelakaan helikopter.
Dalam pidatonya, itu ilmuwan yang saleh ini memuji angkatan bersenjata, pemimpin pemerintahan dan negara, serta seluruh rakyat.
Dengan bahasa terang, Presiden Pezeshkian menyatrakan, "Angkatan Bersenjata, para pemimpin pemerintahan, dan rakyat karena telah meningkatkan kedudukan global Iran dalam menghadapi agresi Amerika Serikat (AS) - zionis Israel dan plot yang didukung asing. Agresi yang dilakukan AS - zionis Israel, itu bertujuan memicu kerusuhan domestik.
Merefleksikan perkembangan geopolitik baru-baru ini, Pezeshkian mengemukakan dua konflik terpisah yang dilancarkan AS - zionis Israel terhadap Iran sejak Juni tahun lalu.
Dimulai dengan protes massa yang direkayasa dan digerakkan oleh dinas intelijen AS - zionis Israel, sejak Januari 2025, yang lantas meningkat menjadi kerusuhan.

Presiden Pezeshkian menyatakan, pihak musuh telah beroperasi di bawah ilusi, bahwa mereka dapat meniru skenario yang terlihat di Suriah dan menguasai negara dalam waktu 48 jam.
“Terlepas dari semua kesulitan dan tantangan ini, pemerintah, pemimpin - penyelenggara pemerintahan, gubernur, staf, rakyat, dan angkatan bersenjata telah membawa negara ini hingga titik sejauh ini, dimana Iran diakui saat ini sebagai negara yang kuat dengan martabat yang luar biasa,” kata Pezeshkian. "Ini bukanlah prestasi yang mudah," lanjutnya.
Mengacu dan mengungkap peran dukungan nasional dalam menjaga keteguhan melawan manuver musuh, Pezeshkian memperingatkan terus ihwal upaya musuh yang terus berlanjut memprovokasi ketidakpuasan di kalangan penduduk.
“Jika negara ini tetap berdiri hingga sekarang, kita berutang budi kepada rakyat,” katanya. Ditambahkannya, “jika kita berdiri bersama rakyat, tidak ada kekuatan yang akan mampu menjatuhkan kita.”
Ia memperingatkan, bahwa musuh sedang memberikan tekanan dalam upaya mereka memprovokasi rakyat agar melakukan protes dan bermasalah dengan apa pun yang melambangkan kemampuan, ketahanan, inisiatif, dan kreativitas Iran.
Lebih lanjut dalam pidatonya, itu Presiden Pezeshkian mengungkap peristiwa pembunuhan atas komandan militer dan ilmuwan Iran oleh AS-zionis Israel. Para syuhada yang gugur, itu dipujinya sebagai abdi negara yang sangat berdedikasi.
“Musuh membunuh komandan kita, yang benar-benar berkorban dan telah mengabdikan seluruh hidup mereka untuk melayani rakyat,” katanya, seraya mencatat, banyak dari mereka hidup sederhana seperti warga biasa. Pezeshkian menggambarkan kemartiran mereka sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan.

Presiden juga mengenang kemartiran, syahidnya Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Pemimpin yang telah gugur pada hari pertama serangan AS-zionis Israel pada 28 Februari 2026.
Pezeshkian menggambarkan, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran yang gugur, itu sebagai sumber kekuatan dan dukungan yang besar, yang berdiri di belakang pemerintahannya. Pezeshkian mengamsalkan seperti gunung dan memungkinkan dialog yang jujur.
Presiden Pezeshkian juga menggambarkan, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei - Pemimpin Tertinggi Iran kini sebagai sosok yang luar biasa dan rendah hati. Ia mencatat bahwa dialog yang jujur, telah mengungkapkan kesabaran, kebaikan, dan kompas moral yang kuat dari Pemimpin baru tersebut.
“Beliau adalah orang yang sangat rasional, berakal budi, dan luar biasa sabar. Saya berbicara secara terbuka tentang semua yang ada di pikiran saya, sehingga beliau dapat sepenuhnya memahami situasinya, dan beliau menanggapi dengan kebaikan, pengertian, dan rasa hormat yang besar,” kata Pezeshkian, menceritakan pertemuannya dengan Pemimpin baru pada bulan Mei.
Pada bagian lain pidatonya, Presiden Pezeshkian menguraikan berbagai krisis yang dihadapi sejak awal masa pemerintahannya, termasuk gugurnya pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh di Teheran.
Ia juga mengemukakan perihal ketidakseimbangan energi yang terus-menerus, kekhawatiran tentang pasokan listrik dan gas di musim dingin, memburuknya persediaan (kekurangan) air, dan kekeringan terburuk di negara Iran dalam lima dekade.

Presiden Pezeshkian juga mengungkap pada tekanan internasional yang diperbarui, termasuk kebangkitan kembali mekanisme pengembalian sanksi.
Menanggapi urusan domestik, Presiden mencatat, bahwa prioritas pemerintahannya adalah mencegah fragmentasi sosial, memastikan keberlanjutan layanan publik, dan menghindari kebijakan yang dapat memantik, memicu dan memacu ketegangan sosial.
Presiden memuji rakyat Iran dari berbagai latar belakang, yang mempertahankan persatuan dan pengendalian diri meskipun mengalami kesulitan ekonomi dan keluhan politik.
Presiden Pezeshkian mengkritik standar internasional yang selektif tentang hak asasi manusia, seraya menunjukkan bahwa sanksi ekonomi telah meluas melampaui pembatasan perdagangan, hingga menargetkan sistem perbankan dan keuangan Iran. Selain itu pada saat bersamaan, tekanan militer dan keamanan kian memperumit situasi.
Ia mempertanyakan logika di balik serangan yang menargetkan komandan militer, ilmuwan, dan warga sipil Iran. Ia mencatat, bahwa universitas, fasilitas kedirgantaraan, dan pusat kecerdasan buatan telah menjadi sasaran, karena kemajuan ilmiah Iran dipandang sebagai ancaman oleh musuh-musuhnya.
Mengenai kebijakan sosial, Presiden Pezeshkian menyerukan langkah-langkah kongkret memfasilitasi kepulangan warga - rakyat Iran yang tinggal di luar negeri.
Ia menegaskan bahwa setiap warga negara harus dapat masuk dan keluar negara tanpa hambatan yang tidak perlu. Ia menekankan bahwa pihak berwenang harus secara jelas memberi tahu individu terlebih dahulu, jika pembatasan hukum mencegah masuknya mereka, daripada menahan mereka saat tiba.
Presiden Pezeshkian menutup pidatonya dengan menyatakan keyakinannya bahwa Iran akan terus mengatasi tekanan eksternal melalui solidaritas rakyat - khalayak, tata kelola yang lebih baik, dan investasi berkelanjutan dalam kemampuan ilmiah dan teknologi yang menyertai. | jeahan