
LONDON, AKARPADINEWS.COM| Teknologi di bidang kedokteran terus berkembang. Setelah para ilmuan berhasil merancang ginjal dan jantung buatan, kini lahir tangan buatan yang mampu berfungsi layaknya tangan manusia yang diciptakan Tuhan.
Adalah Milorad Marinkovic, salah seorang dari tiga voluntir asal Austria, yang mengikuti program pengujian tangan buatan yang dilakukan oleh Dr. Oskar Aszmann beserta timnya dari Medical University of Vienna. Aszmann beserta tim berhasil mengembangkan sebuah tangan bionik yang mampu beroperasi layaknya tangan asli manusia, tanpa harus dikendalikan secara manual.
Operasi transplantasi tangan bionik pada Marinkovic dilakukan di London, Inggris. “Ini pertama kalinya kami melakukan operasi transplantasi tangan bionik pada manusia,” ujar Aszmann seperti dilansir nydailynews.com, Rabu (25/2).
Aszmann menyatakan, dirinya tidak bisa membayangkan kondisi tubuhnya tak lengkap seperti para voluntir. Baginya, membayangkan hidup tanpa tangan maupun bahu, membuat seseorang hidup dalam keterbatasan. “Bila mereka (para voluntir) datang ke sini lima atau tujuh tahun yang lalu, mungkin saya tidak bisa membantu apa-apa,” jelasnya.
Dia menambahkan, untuk menjadi kandidat transplantasi tangan bionik ini, pasien harus melalui serangkaian tes. Karena, seorang kandidat pasti memiliki keadaan yang berbeda dengan yang lainnya. Ke depannya, kandidat yang telah menjalani proses transplantasi ini diharuskan meminum obat anti-rejection seumur hidupnya agar tidak terjadi disfungsi tangan bionik dengan sistem syaraf.
Aszmann dan timnya telah menuliskan hal itu dan alasan pemilihan ketiga kandidat untuk transplantasi tangan ini secara online di jurnal Lancet. Dalam jurnal tersebut, dia menjelaskan alasan mengambil kandidat yang kehilangan tangannya karena amputasi untuk dilihat potensi dan perkembangan tangan bionik pada kandidat.
Bagi Marinkovic, sebagai kandidat terpilih, tangan bionik telah berfungsi baik dalam memegang botol, sandwich, dan terlebih dalam bermain dengan ketiga anakya. Pria berusia 30 tahun itu kehilangan tangannya karena kecelakan sepeda motor sepuluh tahun yang lalu. Kehilangan tangan kanannya membuat Marinkovic kesulitan melakukan kegiatan hari-harinya.
“Dengan tangan (bionik) kanan ini saya bisa melemparkan benda, namun masih sulit untuk menangkap bola karena tangan ini masih merespon lebih lama daripada tangan kiri saya,” ujar Marinkovic.
Menanggapi perkembangan tangan bionik ini, Dr Simon Kay, pemberi otoritas operasi tangan bionik pertama di Inggris berpendapat, tangan bionik ini masih akan mengalami banyak kelemahan. Pasalnya, otak manusia memiliki ribuan cara untuk memberikan sinyal pada tangan manusia dan tangan bionik akan merasakan kesulitan menerjemahkan sinyal-sinyal otak tersebut.
“Pertanyaan (mengenai tangan bionik) yang akan selalu mengemuka ialah bagaimana pesan dari otak sampai ke sebuah besi?” ujar Kay. Meski memiliki beberapa komplain akan tangan bioniknya, Marinkovic telah merasakan banyak manfaat akan tangan itu. Salah satu hal yang dirasakan berharga bagi Marinkovic ialah dia makin merasa dekat dengan putranya yang masih berusia empat tahun. Putranya selalu bercerita pada teman-temannya bahwa ayahnya kini telah menjadi “robot” dan karena komentar itu kini Marinkovic menjadi idola teman-teman anaknya.
Selain itu, Marinkovic menegaskan bahwa tangan bioniknya telah hampir berfungsi senatural tangan kirinya. “Saya bisa melakukan apapun dengan ini (tangan bionik). Saya hanya tidak bisa merasakan apapun di tangan ini,” cerita Marinkovic.
Potensi teknologi ini sangat bagus dalam dunia kedokteran. Meskipun demikian, Aszmann menerangkan, jika teknologi ini membutuhkan dana yang tak sedikit. Dia membutuhkan dana 30.000 Euro atau sekitar Rp439 juta untuk studi dan pengembangan tangan bionik ini. Dana studi itu didapatkan Aszmann dari beberapa instansi dan salah satunya ialah Kementerian Riset dan Perkembangan Teknologi Austria.
Tangan bionik karya Aszmann yang merupakan sebuah sumbangan dalam dunia kedokteran, masih perlu pendalaman lebih lanjut. Bila teknologi ini serius digarap, bukan tidak mungkin ke depannya, apa yang sering terbayangkan dalam dunia fiksi, manusia bionik, akan terwujudkan.
Muhammad Khairil