
"Allahumma shalli 'alaa Sayyidinaa Muhammad Wa asyghilidz dzoolimiina bidz-dzoolimiin Wa akhrijnaa min baynihim saalimiin Wa 'alaa alihi wa shohbihii ajma'in."
Lafadz salawat asyghil karya Imam Ja'far as Shadiq - salah satu cucu Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam ini, seiap kali dibaca, selalu menggetarkan hati.
Lafadz tersebut mengandung arti: Wahai Allah, sampaikanlah shalawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang dzalim agar beroleh kejahatan dari orang dzalim lainnya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka, dan berikanlah shalawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau."
Dari berbagai referensi diketahui, Imam Ja'far As Shadiq senantiasa membaca shalawat ini, dalam kehidupannya sehari-hari di masa akhir kekuasaan dinasti Umayyah dan awal kekuasaan dinasti Abasiyah yang penuh dengan konflik politik bersimbah intrik dan penzaliman berpangkal hasad dan hasud tanpa henti atas dirinya dan pengikutnya.
Shalawat ini juga selalu dibaca di Hadramaut daurah Masyayikh, Yaman hingga kini, sejak dikhalayakkan kembali oleh al Habib Umar al-Hinduan Ba’alawy.
Imam Ja'far as Shadiq menulis dan mengamalkan shalawat ini, ketika sedang dalam tekanan politik yang dahsyat, yang tak pernah henti menjadi sasaran penistaan, hambatan, ancaman, dan fitnah dari penguasa kala itu dan para pendukungnya.
Di Indonesia, pembacaan shalawat ini sering dilakukan oleh Allahyarham almaghfurlah KH Abdullah Syafi'ie, tokoh ulama Betawi yang pernah memimpin Majelis Ulama Jakarta Raya di masa yang juga penuh tekanan dan fitnah.

Gelisah dan Resahnya Para Pendengki
Imam Ja'far as Shadiq menulis, melantunkan, dan membaca shalawat ini bersama para pengikutnya, sebagai manifestasi dari sikap menahan diri untuk tidak terjebak dalam percaturan politik yang mengabaikan prinsip amar ma'ruf nahyi munkar.
Percaturan politik yang dipenuhi oleh hasad (dengki) dan hasud yang mempunyai dampak buruk sangat luas. Khasnya, karena hasad (dengki) dan hasud merupakan penyakit yang 'membuta-tulikan dan mematikan' hati.
Terutama, karena hasad (dengki) melahirkan berbagai keburukan dan dosa besar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, seperti kemunafikan, menggunjing, memfitnah, mencaci maki, mengejek, dan menyiksa orang lain.
Situasi dan kondisi sosial yang dihadapi Imam Ja'far as Shadiq, memang sangat mengerikan secara lahir batin, karena membuat hati manusia menjadi sempit dan suram. Situasi dan kondisi yang menyebabkan manusia menjalani kehidupan di tengah kekuatiran, was-was, dan kesedihan sehingga pengaruhnya meliputi seluruh aspek kehidupan lahir dan batin.
Penguasa dan pengikutnya yang memendam hasad, membuta-tulikan jiwanya dan selalu memandang buruk orang atau kaum yang menjadi sasarannya.
Mereka resah gelisah, tidak bahagia, dan tidak senang kepada mereka yang menjadi sasaran hasad dan hasutnya, yang semakin dinista, dicaci, ditekan, dan difitnah, semakin sabar dan mendekatkan diri kepada Allah.
Orang yang menjadi sasaran hasad dan hasud, selalu beroleh nikmat dan rahmat Allah, berupa kegemilangan dan kemuliaan di kalangan yang lebih luas. Bahkan di negeri yang jauh -- seperti Hadramaut pada masa itu.
Allah memberikan kepada mereka yang menjadi korban hasad dan hasut, 'cahaya ruhani dan percikan iman Ilahi ' yang membuat hati dan jiwanya lebih besar dari apapun di dunia ini.
Akan halnya para pendengki, sibuk 'berterang-terang dalam gelap,' terkungkung dalam kemuliaan artifisial, laksana hidup dalam tempurung kaca. Hati mereka menjadi resah dan gelisah, sehingga selalu berusaha mencari kiat dan siasat buruk untuk menghambat dan meniadakan eksistensi sasaran hasadnya.

Barengi dengan Merawat Kebajikan
Orang-orang yang dengki dan hasad, seperti tercermin pada masa itu, termasuk ke dalam golongan kaum yang memusuhi nikmat Allah. Semakin kuat penyakit ini menguasai diri mereka, semakin berkurang pula kecerahan iman di dalam diri mereka.
Imam Ali bin Abi Thalib menyebut, hasad (dengki) merupakan jebakan besar dari setan. Dikemukakannya, para pendengki atau kaum yang hasad adalah kaum yang sakit, meskipun secara fisik mereka sehat. Lantaran hasad telah melahap iman mereka, laksana api melahap kayu.
Imam Ja`far ash-Shadiq sendiri mengemukakan, setan berkata kepada para 'pasukannya' untuk selalu menanamkan hasad dan kedurhakaan di antara mereka yang hasad dan kemudian dzalim.
Luqman alaihis salam mengemukakan kepada anaknya, ciri kaum yang hasad dan hasud adalah: Senang menggunjing dan mencari-cari kesalahan di belakang orang yang didengki dan didzaliminya; Penyanjung penuh kepalsuan di hadapannya; dan Senang jika orang lain yang didengkinya mendapatkan kemalangan.
Shalawat Asyghil ditulis, dibaca dan dikumandangkan sebagai bagian dari do'a, pengharapan, agar para pengamalnya, sibuk dengan kebajikan, kebaikan, dan kemaslahatan.
Karenanya shalawat ini dibarengi dengan menahan diri untuk tidak melakukan hasad - kedengkian dan tidak melakukan hasud (ghibah, buhtan, fithan) seperti dilakukan para pendengki. Sekaligus terus menerus menghidupkan kesadaran untuk memahami, bahwa kedengkian akan selalu menggelisahkan, dan merasa tersiksa dengan kebahagiaan dan sukacita orang lain yang menjadi sasaran hasad.
Mengamalkan shalawat asyghil juga mesti dibarengi dengan terus menerus memupuk, mengembangkan, merawat, dan tanpa lelah berbuat - menebar kebaikan dan kebajikan. Termasuk tidak balik memusuhi mereka yang menebar hasad dan hasud.
Lantas, tanpa henti berbuat kebaikan dan kebajikan, mencapai kualifikasi diri sebagai manusia terbaik, yang mempunyai manfaat lebih luas bagi orang banyak. Seraya memupuk terus dan meningkatkan kualitas keimanan, memelihara optimisme kepada Allah, qana'ah, dan bersukacita dengan cara Allah mendistribusikan karunia-Nya kepada seluruh makhluk-Nya.
Shalawat Asyghil memang harus disertai dengan prinsip: senang melihat orang lain senang, senang melayani orang lain supaya hidup senang, dan sepenuhnya memasrahkan kepada Allah untuk menyibukkan para pendzalim berkutat dengan urusan (kejahatan) mereka sendiri. Agar kejahatan itu tidak meluas ke mana-mana.. | Haedar Mohammad