
AKARPADINEWS.COM | ZHU Yu punya cara unik dalam memancing minat baca masyarakat. Dia menyediakan toko buku di sekitar trotoar jalan Hanzhong, Gulou, Tiongkok. Siapa saja dipersilakan untuk membaca buku yang terpajang di toko tersebut.
Selain memberikan kesempatan warga membaca buku, Zhu Yu juga menguji kejujuran warga. Pasalnya, dia berjualan tanpa harus mengawasi warga yang tertarik membeli buku-buku yang dipajangnya di tokonya. Di tokonya juga tidak ada pelayan untuk menjelaskan harga yang harus dibayar warga dari setiap pembelian buku.
Di sana, hanya ada sebuah kotak dengan gembok untuk para pembeli yang ingin membayar buku yang dibelinya. Zhu Yu menerapkan cara-cara dagangnya dengan nama: "Toko Buku Kejujuran.”
Zhu Yu mengatakan, cara berdagang yang dilakukannya memang tidak bertujuan untuk meraup untung besar. Apalagi, perusahaan hanya mengambil jatah lima persen dari penjualan tiap bukunya.
“Dengan konsep kami, pelanggan dilatih untuk menghargai buku dan jujur. Mereka akan berpikir untuk membayar dengan ikhlas, meski kadang tidak sesuai dengan jumlah harga yang tertera. Dengan begitu, ada proses penanaman kejujuran dalam hati dan pikiran para pelanggan,” terang Zhu.
Sebagai direktur pemasaran, dia tidak mempermasalahkan jika ada pembeli yang membaca buku dan membawa bukunya tanpa membayar. “Jika pembeli bisa membaca habis buku yang mereka baca, lalu membawanya (tanpa membayar), tidak menjadi persoalan bagi kami. Karena, dengan toko buku kejujuran, banyak orang membaca dan hal itu membuat kami senang,” ujarnya.
Toko buku yang dijalankan oleh Zhu ini menyediakan empat rak kayu besar yang disesaki banyak buku. Tiap pembeli yang ingin membeli buku dianjurkan menaruh uang pembelian setelah mereka mengambil satu buku di kotak bergembok yang disediakan. Zhu berharap, dengan toko bukunya dapat menumbuhkan kegemaran masyarakat untuk gemar membaca buku.
Untuk membuka toko tersebut, Zhu mengurus izin kepada pemerintah setempat. Dia mengharap agar diperbolehkan menjajakan bukunya di trotoar jalan dalam waktu jangka panjang.

Toko buku tersebut buka setiap hari dan hanya tutup jika sudah jam malam atau tatkala hujan. Jika sedang tidak dibuka, keempat rak buku diamankan dengan cara ditutup dengan gembok dan ditadahi dengan atap sederhana sehingga tidak memakan banyak tempat dari trotoar jalan.
Toko buku indie semacam ini merupakan wujud gerakan budaya membaca, sekaligus membiasakan kejujuran pada masyarakat. Sebagai sebuah gerakan sosial, toko buku kejujuran patut dicontoh. Dari sisi bisnis, memang tidak menghasilkan keuntungan besar. Namun, keberadaannya menjadi bentuk kritik atas dominasi toko buku besar yang hanya mengejar untung dengan menetapkan harga yang melambung.
Karenanya, gerakan budaya membaca, sekaligus melatih kejujuran ini perlu ditumbuhkan di Indonesia. Pasalnya, di Indonesia, toko buku sudah dikuasai oleh genre populer dan buku-buku tidak berbobot. Bila gerakan semacam ini dilakukan, maka buku-buku nonpopuler akan memiliki tempat lebih bebas sehingga bisa dibaca masyarakat.
Dan, yang lebih penting, mendorong tradisi baca perlu terus dilakukan lantaran minat baca masyarakat saat ini makin berkurang. Padahal, membaca buku adalah cara mendapatkan pencerahan. Dengan membaca buku, akan diraih banyak pengetahuan, informasi, yang menjadi referensi bagi manusia. Seseorang yang gemar membaca buku, akan terlihat dari khasanah pemikiran dan wawasan sehingga lebih bijak menyikapi persoalan kehidupan.
Muhammad Khairil