
AKARPADINEWS.COM | TRAGEDI haji itu terjadi lagi. Usai ratusan jamaah haji dari seluruh dunia tertimpa mobile crane milik pemborong Ben Ladin, kini sekitar 220 jamaah haji tewas di Mina. Persisnya, di areal jalan menuju lokasi jamarat (melontar iblis) di luar kota Makkah.
Kamis, (24/9) Direktorat pertahanan sipil Kerajaan Saudi Arabia mengabarkan, jumlah jamaah haji yang tewas dari peristiwa kecelakaan itu, terus bertambah. Lebih dari 860 jamaah haji lainnya, dikabarkan mengalami luka-luka: berat dan ringan.
Mina adalah kota tujuan untuk menuntaskan rukun haji. Setelah para jamaah haji sebelumnya wukuf di Arafah (dan berkurban), kemudian beranjak ke Musdhalifah untuk bermalam, sambil mengoleksi kerikil untuk dipergunakan untuk jamarat, baik jamarat aqaba, ula, maupun wustha.
Melontar jamarat adalah episode akhir dari seluruh proses ritual haji, sebelum kembali ke Masjid al Haram untuk melakukan tawaf Wada’ alias tawaf perpisahan farewel thawaf.
Ke Mina inilah jutaan jamaah haji bergerak memungkas rukun haji, itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, agar tidak terjadi penumpukan massa yang dapat berbahaya, pemerintah Saudi Arabia mengatur jadual melontar jamarat. Tapi, tak semua jamaah haji dari seluruh dunia, itu mau mengikutinya. Pemahaman tentang pelaksanaan melontar jamarat dan pengetahuan tentang itu, beragam rupa.
Tak sedikit jamaah yang mengambil inisiatif sendiri untuk mencapai 'kesempurnaan' ibadah haji yang mereka yakini, dan mengabaikan jadual yang sudah diatur dan ditentukan. Akhirnya terjadi arus jutaan massa yang sulit dikendalikan, meskipun telah dibangun infrastruktur untuk mengurai bottleneck bagi pergi dan pulangnya jamaah haji ke dan dari lokasi melontar jamarat.

JAMAAH HAJI KORBAN TEWAS TRAGEDI MINA DITUTUP DENGAN KAIN IHRAM |
Musibah yang terjadi di Mina kali ini, berbeda dengan peristiwa yang pernah terjadi di terowongan pedestrian Al Muaisim 1994. Kala itu, jamaah bertumbur karena buru-buru menghindari suhu sangat panas, akibat sejumlah blower raksasa di terowongan itu mati. Akhirnya terjadi penumpukan massa dan dorong-mendorong.
Kali ini, seperti yang diberitakan banyak media, kecelakaan terjadi lantaran tiba-tiba pergerakan orang menuju ke lokasi jamaat terhenti, akibat arus baru untuk mengurai sumbatan bottle neck. Petugas tiba-tiba membuka penyekat, karena melihat jamaah yang melebihi kapasitas di satu track yang semula ditutupnya. Ketika itu, ribuan jamaah merangsek keluar jalur itu sambil berebutan, sehingga jamaah yang berada di tengah-tengah terhenti. Ribuan orang di barisan belakang tak mengetahui dan terus bergerak. Akibatnya terjadi dorong-mendorong. Jamaah yang berada di persimpangan arus keluar yang baru dibuka, terhimpit, terhuyung, terpijak, luka-luka dan tewas.
Tapi, berkembang pula kabar, pembukaan itu dilakukan atas permintaan adik Putera Mahkota dan rombongannya, yang melihat kepadatan luar biasa. Hal itu ditepis oleh Putera Mahkota, Pangeran Mohammed bin Nayef, yang bertanggungjawab atas Mina. Tapi dia tak bisa banyak berbuat dalam situasi semacam itu. Mohammed segera memerintahkan evakuasi korban. Khususnya, korban yang mengalami luka parah, seperti ungkap juru bicara pertahanan sipil. Korban dilarikan ke sejumlah rumah sakit berbeda di wilayah Mina.
Pangeran Mohammed juga memerintahkan penyelidikan untuk mencari tahu sebab musabab terjadinya peristiwa, itu dan memanggil para pejabat senior yang bertanggungjawab atas prosesi ritual haji di Mina. Dia meminta segera dilakukan investagasi pendahuluan untuk memperoleh informasi yang bakal dilaporkannya kepada Raja Salman. Kelak, raja Salman-lah yang akan akan mengambil langkah tepat menjelaskan ihwal tragedi yang memilukan itu kepada umat Islam di seluruh dunia.
Pada setiap musim haji, selain Makkah dan Arafah, Mina adalah tempat konsentrasi jamaah haji. Tak kurang dari 160 ribu tenda dibangun di sini untuk menampung jamaah haji. Di tenda-tenda itulah para jemaah haji, rehat sambil teruis berdzikir mengumpulkan tenaga untuk melakukan ritual melontar jamarat. Peristiwa tragis Mina 2015, itu terjadi tak jauh dari perkemahan haji, di jalan 204. Artinya, peristiwa itu tidak terjadi di lokasi jamarat.
Peristiwa maut itu, seperti terlihat melalui video amatir yang tersiar di media sosial, sungguh mengerikan. Para jamaah haji, dengan pakaian ihram tersaruk, dan kemudian tergeletak tanpa daya. Bahkan dalam video penyelamatan, tampak para jamaah haji tergencet kursi roda .

JALUR JALAN MENUJU JAMARAT SUDAH DIBAGI TIGA JALUR | INSERT : LOKASI KEJADIAN
Reaksi negatif segera mengemuka terhadap peristiwa ini, setelah Pangeran Khaled al Faisal, Kepala Komite Haji Pusat – Kerajaan Saudi Arabia, melontarkan tudingan : penyebab peristiwa itu adalah jamaah haji dari beberapa negara Afrika, seperti ungkapnya di saluran televisi Al Arabia, milik kerajaan Saudi Arabia.
Ini Omongan Khalid yang dua kalinya bikin sejumlah kalangan dari berbagai negara Islam, geram. Apalagi, ketika dia katakan, ketidak-tertiban jamaah haji Afrika merupakan pangkal musabab kecelakaan yang segera diatasi oleh sekitar 4.000 petugas layanan keamanan dan keselamatan, serta 220. Omongan ini lekas dipercaya oleh jamaah haji dari belahan dunia lainnya, seperti Asia.
Informasi itu berasal dari Mayor Jenderal Mansour al-Turki, juru bicara kementerian dalam negeri Saudi. Mansour menduga, peristiwa itu terjadi ketika dua kelompok besar peziarah bergerak dari arah yang berbeda pada satu jalan. Hal itu diyakininya, ketika mendapat informasi tentang tumpukan mayat yang mengerucut ke atas sampai tiga lapis.
Abdullah Lotfy, jamaah dari Mesir mengemukakan, dia melihat seseorang di kursi roda tersandung dan beberapa orang lainnya terkena dia, sehingga kursi rodanya terungkit ke atas. Korban saling memanjat satu sama lain sambil megap-mengap untuk bernapas. Kantor berita Iran, IRNA menyebutkan, dalam peristiwa maut ini, jamaah haji Iran menjadi korban terbanyak.
Kecelakaan yang terjadi di Mina kali ini, memang memakan korban terbanyak, dibandingkan peristiwa sebelum-sebelumnya. Tahun 2006 ketika terjadi kecelakaan yang mirip di Mina, 360 jamaah tewas saat berdesak-desakan menuju ke lokasi jamarat. Pada tahun itu juga, 73 orang jamaah haji tewas, terkena runtuhan bangunan berlantai delapan tak jauh dari Masjid al Haram.
Tahun 2004, 244 orang tewas di Mina juga akibat jamaah haji terhimpit. Tahun 2001, 35 orang jamaah haji tewas terinjak-injak dalam kecelakaan yang mirip. Peristiwa terburuk kejadian sejenis di Mina, terjadi tahun 1990, ketika 1.426 jamaah haji tewas, akibat berdesak-desakan di terowongan Al Muaisim, ketika mereka bergerak hendak kembali ke Makkah.

RATUSAN AMBULAN DISIAPKAN DAN BERGEGAS MEMBAWA KORBAN KE RUMAH SAKIT |
Dari laporan yang belum terverifikasi, korban antara lain dari: Iran sebanyak 182 (122 meninggal, 60 luka-luka), India 6 ( 4 tewas, 2 luka-luka), Turki (1 wafat), Indonesia (3 wafat, 1 luka-luka), Pakistan (6 tewas), Filipina (1 tewas), Sudan (1 tewas), Mesir (30 luka-luka). Di dalam data itu, belum termasuk korban dari Nigeria, Chad, dan Senegal. Termasuk klaim Turki yang belum menemukan lebih dari 18 jamaahnya.
Tahun ini, sekitar 2 juta muslim dari seluruh dunia melaksanakan ibadah haji, dan mereka yang tak terkena peristiwa ini terus melaksanakan ritual melontar jamarat di lokasi, yang telah disempurnakan oleh berbagai infrastruktur yang memudahkan orang melontar. Seluruh sarana dan prasarana ritual haji, termasuk Mina terus diperbaiki. Berbeda dengan Makkah yang sedang terus dibangun, Mina relatif sudah selesai. Tak terkecuali pembangunan untuk moda transportasi kereta api dari Makkah ke Mina ulang alik.
Para pemimpin jamaah haji dari Afrika tak ingin disalahkan. Mereka menolak dikatakan sebagai penyebab terjadinya stagnansi arus pergerakan jutaan jamaah menuju ke Mina. Mereka balik menyatakan, penyebab utamanya adalah penutupan salah satu jalur masuk menuju jamarat. Akibatnya terjadi pengalihan arus massa ke dalam salah satu jalur jalan yang menyebabkan terjadinya stag.
Mereka mengatakan, banyak kelemahan di musim haji tahun ini. Pemerintah Saudi Arabia salah urus tempat-tempat ritual haji. Itulah penyebab terjadinya tragedi maut ini. | JM Fadhillah