
IDUL ADHA tiba lagi. Jama’ah haji sedunia, wukuf di Arafah. Hanya dengan balutan kain ihram, mereka duduk tafakkur, merenung dan mengkaji diri dalam suasana spiritual yang sangat dalam. Kemudian, menemukan kesejatian hakikat diri sebagai insan.
Selepas itu mereka bergerak ke musdhalifah untuk mabit, kemudian menuju ke mina untuk melontar jamarat. Lantas bertahallul, memotong rambut, dan menyembelih hewan kurban.
Bagi saya seluruh rangkaian proses ibadah haji, laksana perjalanan ‘going to zero.’ Perjalanan spiritual untuk mencapai titik nol insaniah. Titik yang memungkinkan setiap pelakunya mengetahui, sungguh dirinya bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa. Hanya Allah saja yang Mahabesar, Mahaperkasa, Mahaberkuasa, dan Mahasegalanya.
Ibadah haji adalah perjalanan spiritual untuk memenuhi panggilan-Nya, sebagai bukti kecintaan kita yang terdalam. Bukti sikap istiqamah (konsisten dan konsekuen). Sikap kecintaan yang nyata, setelah kita mendeklarasikan cinta dengan syahadat dan shalat. Lalu memenuhi hak-Nya dengan ibadah shaum (puasa), dan memanifestasikannya dengan kecintaan terhadap insan sesama melalui zakat, infaq, dan shadaqah.
Seluruh proses dan rangkaian rukun ibadah haji, juga memberi kita panduan untuk menemu-kenali dan mengambil pelajaran mulia tentang sabar, ikhlas, dan syukur. Trilogi nilai hidup yang seringkali diucapkan, namun seringkali sulit dipahami dan dipraktekkan. Padahal, itulah trilogi kepatuhan dan keteguhan sikap yang sangat nyata dan konkret. Khasnya dalam menerima realitas hidup sebagai perjuangan panjang tanpa batas.

Melalui seluruh prosesi ibadah haji kita memperoleh pelatihan amat berharga tentang ketiga sikap itu. Meskipun berbeda kondisi dan zaman, kita bisa berlajar tentang perilaku konsekuen dan konsisten yang dilakukan nabi Ibrahim dengan sabar. Kita bisa belajar tentang sikap ikhlas yang dilakukan nabi Ismail. Kita pun bisa belajar tentang manifestasi cinta bersimbah syukur yang dipraktikan Sitti Hajar.
Dari proses ibadah haji kita dapat memahami, sabar merupakan manifestasi sikap optimistis dalam menjalani kehidupan, meski harus menghadapi ujian dan cobaan yang teramat berat. Kita pun dapat memahami ikhlas sebagai kualitas prima manusia dalam menjalani fungsi utamanya sebagai makhluk terbaik di dunia. Dalam satu tarikan nafas, kita akhirnya memahami, bahwa manifestasi dan ekspresi syukur adalah berikhtiar tanpa henti yang akhirnya berbuah kenikmatan dari Allah SWT sepanjang masa.
Dari prosesi ibadah haji, memahami perjuangan nabi Ibrahim, nabi Ismail, dan bunda Sitti Hajjar, kita dapat memahami secara nyata esensi sikap: asalai jio-jio patuang, asalai angok-angok ikan, nan indak dicari juo (Dalam kondisi sulitnya keadaan dan kehidupan, keperluan hidup harus dipenuhi). Sekaligus memahami dengan kesadaran yang utuh, bahwa manusia harus tabah dalam menjalani hidup. Karena setiap sukacita memerlukan pengorbanan (barakik-rakik kahulu baranang-ranang katapian, basugi timbakau jaho. Basakik-sakik dahulu basanang-sanang kamudian, barugi mangko balabo).
Perilaku hidup yang sabar, ikhlas, dan bersyukur itulah yang akhirnya menjadi nilai kemuliaan berupa haji mabrur, haji berkualitas kebajikan dalam hidup sehari-sehari, sekembali ke tanah air. |