
HUTAN dibakar. Asap menyesakkan dada. Kejahatan lingkungan yang dilakukan oleh para beruang (pengusaha yang serampangan menggunakan hak guna usaha hutan), telah menyiksa berjuta orang. Termasuk anak-anak di beberapa propinsi, yang mengalami penderitaan karena infeksi saluran pernafasan.
Seorang ibu karena kesal, memohon kepada Tuhan, agar derita anaknya dipindahkan kepada dirinya. Di lokasi lain, seorang bapak menuliskan kalimat, bila tak mampu menghilangkan asap, sebaiknya Presiden Jokowi mengirimkan dana untuk berobat.
Dilihat dari dimensi kemanusiaan sebagai ekspresi budaya bangsa yang beradab, sejak terjadinya kebakaran hutan sebelum sampai 1.7 juta hektar, dan bantuan datang dari sejumlah Negara, kita belum menyaksikan melalui media: aksi simpati dan empati kepada rakyat yang menjadi korban.
Presiden Jokowi dan para Menteri, justru sibuk mencari simpati dengan mengunjungi zona bekas kawasan hutan yang terbakar. Baru belakangan, terbaca running text di saluran televise pendukung berat dan pembenar aksi pemerintah: menteri social mengirimkan dana jadup (jatah hidup) untuk korban asap kebakaran hutan yang disengaja dan terencana itu.
Mungkin Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa baru ngeh dengan omongannya di awal menjabat, “Negara harus hadir ketika rakyat sedang susah.” Tanpa harus diomongkan pun, semestinya, Negara hadir merespon kemalangan dengan aksi kongkret: menggerakkan seluruh slagorde-nya memadamkan api dan menghilangkan asap yang amat menyesakkan dada rakyat, yang sedang terombang-ambing oleh krisis ekonomi dan ancaman PHK.
Kemalangan yang dialami rakyat korban pembakaran hutan, bukan musibah biasa. Ini musibah luar biasa yang sengaja dilakukan oleh para perompak yang suka hati melakukan kejahatan lingkungan. Memang, untuk memproses tindakan kepada beruang produsen kemalangan, itu perlu waktu dan penelitian mendalam. Perlu penyelidikan dan penyidikan, termasuk perlu juga membuat parit yang memang pekerjaan fisik.

Tak terkecuali, perlu bantuan negara asing yang lebih piawai memadamkan api dan menghilangkan asap. Terutama, karena punya cara mengatasi masalah. Bukan punya alasan untuk berkilah menyikapi masalah. Karenanya, informasi tentang kejahatan lingkungan dan korbannya harus valid dan jelas, jangan disamar-samarkan, hanya karena asyik belanja waktu.
Informasi yang samar dan dubieus, akhirnya bias. Dampaknya: trauma yang luas dan menteror masyarakat. Apalagi, pemerintah terlambat mengirimkan empati kepada rakyatnya, padahal empati kepada korban itulah yang prioritas utama dan pertama, katimbang mencari simpati dan pencitraan.
Dalam konteks inilah para pengelola media, termasuk wartawan mesti terus konsisten berpijak pada prinsip-prinsip jurnalisme yang baik dan benar. Termasuk menyampaikan sikap kritis, seperti yang dilakukan Harian Republika. Berpijak pada akurasi dan membebaskan diri dari naluri menyembunyikan realita. Pengelola media, khasnya wartawan, wajib memahami aspek psikologis keluarga korban, yang memang sedang memerlukan katarsis. Caranya? Mengendalikan diri, agar tidak terjebak pada eksplorasi dan ekploitasi kepedihan dan kesedihan. Tidak sekadar menyajikan fakta. Apalagi sekadar mem-blow-up aksi pencitraan.
Dalam konteks itu, jurnalisme empati menjadi penting. Jurnalisme yang memadukan human obligation dengan kompetensi profesional. Hal itu akan nampak pada bagaimana jurnalis menunjukkan kemampuan komunikasi naratif. Mumpuni memilih ungkapan dan bahasa yang tidak memperburuk keadaan, dan tidak mempertajam trauma sosial.
Orang-orang tua Bugis menasihati: Sadda mappabati’ ada, ada mappabati’ gau, gau’ mappabati’ tau. Bunyi mewujudkan kata, kata mewujudkan perangai, perangai menunjukkan manusia. Kemampuan menyajikan narasi atas fakta, mencerminkan kualitas manusianya. Kunci jurnalisme empati adalah kesadaran dan tanggung jawab kemanusiaan.
Dalam konteks itu, siapa saja yang menjadi sumber informasi, kudu paham juga untuk melakukan hal yang sebenarnya. Termasuk memberikan informasi yang gambling, tak terkecuali tentang kemampuan mengatasi masalah. Jangan buru-buru menolak uluran tangan para sahabat, lantas akhirnya menerima, karena sudah kadung nyaris kehilangan muka dari rakyat.. |
Imagineer - master of training Imagineering Mindset dan Locus Training, praktisi media.