
AKARPADINEWS.COM | PRESIDEN Republik Indonesia VI – Prof. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pekan ini melalui akun facebook-nya, menaikkan gambar dan status yang menarik dan perlu direnungkan siapa saja di negeri ini.
SBY menulis : “Kalau ingin sukses di bidang apapun, termasuk di bidang bisnis, maka bergabunglah pada barisan orang yang optimis, yang berpikirnya positif. Orang yang jiwanya terang, dan mau bekerja untuk mengejar sukses. Jangan mau bergabung ke dalam barisan orang yang berpikirnya serba negatif, pesimis, berjiwa gelap, gemar, dan mudah menyalahkan orang lain. Tetapi malas, dan tidak mau bekerja apapun.”
Di tengah situasi dan kondisi masyarakat kita yang masih gemar bercengkerama dengan pesimisme, apatisme, dan hidup dengan aturan sendiri, meski ada komitmen sosial di lingkungan sosial masing-masing, apa yang dikemukakan SBY itu sungguh perlu direnungkan dan diwujudkan. Dalam kehidupan sosial di manapun, termasuk di lingkungan bisnis, hanya bergabung dengan orang-orang optimis yang mendedikasikan dirinya untuk mencapai kinerja kolektif terbaik, merupakan jalan untuk meraih sukses.
Setiap lingkungan sosial, tidak memerlukan manusia yang berjiwa gelap dan buram, murung, dan hanya mau menikmati kesenangan sendiri. Setiap lingkungan sosial, apalagi lingkungan bisnis, harus menutup pintu erat-erat bagi orang yang yang berfikir serba negatif, iri dengki, hasad hasud, dan pandai memutar balik fakta dan selalu mencari-cari alasan untuk pembenaran atas perilakunya. Karena mereka, termasuk ke dalam golongan orang yang lebih mementingkan dan mendahulukan hak katimbang kewajiban dan tanggungjawabnya.
Orang-orang semacam ini laksana bakteri berbahaya bagi terbentuknya lingkungan sosial yang cerdas, sehat dan berkemampuan secara ekonomi. Terutama karena mereka hidup di dalam ruang gelap yang buram dengan beragam presumsi yang mereka sangka benar dan sebagai kebenaran.

Buruknya, orang-orang semacam ini mudah mengklaim prestasi orang lain sebagai prestasinya, meski lingkungan sosialnya paham dan mengerti, bahwa apa yang dia lakukan tidaklah seperti apa yang dia katakan. Orang-orang semacam itu, tak mempunyai harga yang pantas untuk mendapatkan apresiasi.
Suatu penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan atas lebih 5.000 orang dewasa menemukan indikator, bahwa orang optimistis dan hidup sehat : berfikir, bersikap, dan bertindak positif, sangat jarang menderita gangguan kardiovaskular. Mereka yang optimistis, menurut penelitian itu, dua kali lebih sehat jantungnya dibandingkan dengan orasng yang pesimistis dan hidup negatif.
Rosalba Hernandez dari University of Illinois mengatakan, mereka yang koppig (ngeyel, mau menang sendiri, sering membuat alasan untuk mencari pembenaran) riskan terhadap sakit jantung dan organ tubuh lainnya. Bahkan mengalami persoalan pada organ vital. Manajemen emosinya kacau dan menyebabkannya mudah terperosok ke dalam tindakan atau perbuatan yang melukai jiwa dan perasaannya sendiri.
Skor potensi kesehatan fisik dan jiwa mereka yang optimistis dan hidup secara positif, menurut penelitian itru, 76 persen lebih baik dibandingkan dengan mereka yang sering ‘menghitung kinerja orang lain dan malas menghitung kinerjanya sendiri.’
Mereka menjadi benalu di dalam lingkungan sosialnya. Terutama karena mereka tak lagi memiliki rasa malu, tak punya keberanian mengakui kesalahan dan kelemahannya, dan hidup bersunyi-sunyi dalam kesendiriannya. Jiwa mereka hampa dan karenanya mudah terserang penyakit. Yang pasti, energi negatif di dalam dirinya menjadi musuh pertama bagi dirinya yang tidak mampu dia lawan dengan cara apapun.. | Bang Sem