Belajar Senyum

| dilihat 289

Catatan Senja Bang Sem

Sahabat saya, Ade Adam Noch. Mantan aktivis kampus di Manado dekade 70-an.

Pensiunan petinggi yang mengurusi tenaga kerja, ini salah seorang sahabat paling karib.

Hadirnya menyenangkan. Ketidak-hadirannya memantik kerinduan.

Lelaki asal Ternate ini selalu pandai memantik senyuman. Perbincangan dengannya, baik langsung maupun via perangkat telekomunikasi, selalu menguatkan kesadaran untuk menjalani hidup lebih qana'ah dan bijak.

Sikap kritis dan jeli dalam memandang sesuatu persoalan, sangat terpelihara dengan baik.

Beberapa hari belakangan, dia mengusik saya dengan percakapan ringan, namun mendalam, tentang rahasia selalu nampak muda.

"Selain bersikap qana'ah dan tahu diri, kian kuat membatasi marah, menghapus kata 'sakit hati dan kecewa,'  pandanglah hidup dengan cinta," ungkap saya.

Dia tersenyum, tanda sepakat. Lantas menimpali. Menurutnya, siapa saja yang sudah melampaui usia di atas enam puluh lima tahun, mesti kian pandai belajar tersenyum.

Saya tertawa. Ade menyergah. Dia katakan, tersenyum merupakan ekspresi sikap moderat. Akan halnya tertawa, apalagi terbahak atau sebaliknya, murung dan membisu adalah ekspresi sikap ekstrem dalam merespon keadaan.

"Boleh terbahak atau murung, sekali sekala saja," ungkapnya.

Lantas kami saling mengulang ingat, apa sungguh faktor penentu yang membuat kami bisa melayari hidup kini dengan ringan?

"Karena kita terbiasa tak terpengaruh dengan atribusi, posisi, dan status, ketika dulu memperolehnya. Kita tak memandang jabatan sebagai manifestasi kekuasaan. Kita menerima dan memangku jabatan sebagai amanah. Meskipun dulu, ketika kita melakukannya banyak orang memandang sebagai suatu sikap yang tak wajar," katanya.

Saya mengangguk. Kami mempunyai pengalaman yang sama, tak pernah menempatkan dan memperlakukan jabatan sebagai suatu simbol status kekuasaan.

"Itulah yang menyelamatkan kita dari sindroma kekuasaan dan kerap menyusahkan hidup," ujar saya.

***

Kemarin (Ahad, 31 Juli 2022) kami makan di kedai Nasi Kapau pinggir jalan di Roxi, Jakarta Pusat. Kami antri untuk mendapat layanan.

Tetiba, seorang lelaki lebih tua dari kami, yang antre persis di depan kami, menoleh. Kemudian menyapa. Seketika kami saling sapa dalam suasana hangat.

Lelaki itu, segera mengisyaratkan kepada ajudannya untuk mengambil tongkat penyangga.

Dia sahabat kami di masa lalu, ketika namanya beken sebagai anggota parlemen yang gagah dengan segala atributnya. Wajahnya, nampak lebih tua dari usianya. Ia bertanya ihwal beberapa teman seangkatan kami.

Kami menjawab yang kami tahu saja.

"Kalian berdua nyaris tak berubah. Masih nampak fresh dan gembira terus," ujarnya.

Kami tersenyum.

"Apa yang kalian lakukan. Aku payah sudah. Sudah pakai tongkat. Aku sering ke sini, belajar antre untuk mendapat makanan yang kita suka," tambahnya.

Saya menjawab spontan. "Selain jalan sehat, kami terus belajar senyum."

"Senyum?" tanya lelaki itu.

"Ya.. senyum untuk banyak hal. Termasuk menyaksikan fenomena politisi berenang di sungai pragmatisme politik dan politik transaksional," ujar Ade.

Kami tersenyum.

"Ah.. kau.. Dalam kondisi apa pun tak pernah lepas dengan narasi dan diksi yang menjentik hati," tukasnya.

Saya merespon cepat. "Ah.. narasi dan diksi Ade tak semacam dengan narasi dan diksi kau mengkritisi eksekutif kan?"

Lagi.. kami tersenyum.

"Kau masih saja ingat. Aku sudah lupa. Sekarang bicara pun aku tak sefasih dulu," katanya.

"Makanya, teruslah belajar senyum," sambut Ade.

Usai beroleh nasi kapau yang dipesannya. Dia pamit. Berjalan agak tertatih menuju ke mobilnya. Nampak ia berusaha tak mengenakan tongkat yang masih dipegang ajudannya.

***

Kami menyantap nasi kapau yang kami pesan di tempat. Alamaak.. tak cukup kursi tersedia. Sesaat kami mencari kursi kosong. Sudah diduduki konsumen lain. Kami melangkah beberapa meter ke bawah pohon, duduk di atas tembok penyangga pohon.

Ade selalu menyenangkan. Selalu punya solusi. Dia tahu bagaimana cara duduk, ketika tak tersedia lagi kursi kosong, meski di kedai pinggir jalan.

Kami tersenyum, sebagai bagian dari proses belajar tersenyum.

Petang itu, usai menyantap nasi kapau, kami berpisah. Kami pulang ke rumah masing-masing dengan senyum. |

Editor : delanova
 
Polhukam
Seni & Hiburan
31 Jul 21, 04:03 WIB | Dilihat : 452
Mata Maut
Selanjutnya