Perhutani Dukung Inovasi Desainer Mebel

Tingkatkan Daya Saing di Pasar Internasional

| dilihat 2329

AKARPADINEWS.COM | PERUM Perhutani sebagai produsen kayu jati berkualitas tinggi dan bersertifikat internasional, menyelenggarakan kegiatan Indonesia Designer Challenge (IDC) 2016.

Kegiatan itu menjadi ajang untuk mengidentifikasi talenta berbakat, yang untuk mampu mendesain mebel dengan karya yang dapat diterima pasar. Kegiatan yang digelar berkat kerjasama Perhutani dengan Himpunan Desainer Mebel Indonesia (HDMI) itu dilaksankan di ruang galleria Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Jakarta, Kamis (29/10).

Indonesia merupakan negara yang memiliki keunggulan dari segi ketersediaan bahan baku untuk produksi mebel. Indonesia juga memiliki banyak desainer mebel handal yang siap menghadapi persaingan global. Namun, berdasarkan data Kementerian Perindustrian, Indonesia masih kalah bersaing dengan Vietnam.

Indikatornya bisa dilihat dari nilai ekspor mebel Indonesia yang pada tahun 2014 hanya sebesar US$1,7 miliar. Sementara Vietnam membukukan nilai ekspor hingga mencapai US$4 miliar. Indonesia sangat berpeluang mendongkar nilai ekspor karena kebutuhan pasar mebel internasional sangat besar.Nilai ekspor mebel dunia tahun 2014 diperkirakan mencapai US$122 miliar, didominasi China sebesar US$45 miliar.

Sejalan dengan membaiknya perekonomian global, Pemerintah optimis dapat menargetkan kenaikan ekspor mebel hingga 20 persen.  Untuk mencapai target itu, Perum Perhutani, mendukung HDMI bersama Forest Stewardship Council (FSC) dan William E. Connor & Associates Ltd. (WECA) serta Bio Industri, untuk bersama-sama meningkatkan daya saing mebel Indonesia melalui IDC 2016. 

Kegiatan itu menjadi ajang kompetisi desainer pertama di Indonesia yang bertujuan menempatkan para desainer Indonesia sebagai poros utama penggerak industri kreatif dengan menekankan pada proses produksi dan penggunaan bahan baku kayu dan bahan penunjang lain yang ramah lingkungan.

Bambang Kartono Kurniawan, Ketua HDMI mengatakan, peran desainer dalam industri mebel masih sangat lemah. Menurut dia, para desainer mebel Indonesia memang diberi ruang tampil dalam setiap event pameran internasional. Namun, desain yang dihasilkan masih dipandang sebatas pemanis visual semata. 

"Padahal, peran desainer sangat penting dalam menentukan daya saing mebel kita di dunia internasional. Lemahnya riset selera pasar, isu lingkungan, dan sulitnya menjalin kerjasama dengan industri masih menjadi hambatan bagi para desainer sehingga performa desainer Indonesia tidak menonjol di mata para buyers dan industri,” katanya.

Sementara Tophan Anggoro Putra, perwakilan dari WECA perusahaan global bidang merchandising-sourcing mengatakan, desain mebel Indonesia kini telah tertinggal lima tahun dari negara-negara lain. Para buyer dari Amerika Serikat maupun Eropa tidak melihat desain mebel baru dan inovatif yang muncul dari Indonesia sehingga mebel Indonesia kurang mampu bersaing dibanding negara lain.

"Hal ini diperburuk lagi dengan kenyataan bahwa mayoritas para desainer Indonesia tidak bisa memperoleh data mengenai prediksi trend pasar terbaru dan selalu ketinggalan,” ucap Tophan.  

Dari rilis yang disampaikan Humas Perum Perhutani, kompetisi IDC-2016 yang pertama kali digelar di Indonesia ini diharapkan menjadi ikon baru industri furniture berbasis desain di Indonesia. IDC menyediakan solusi, di mana desainer, industri, dan pasar, bisa terhubung dengan baik sehingga mampu bersaing di tengah persaingan global.

IDC dirancang sebagai ajang untuk mengidentifikasi talenta berbakat dari Indonesia dan berkomitmen untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para pesertanya sehingga hasilnya dapat diterima pasar. Dalam kompetisi ini, perwakilan para buyer internasional akan menilai langsung karya para desainer.

IDC-2016 bertema More Than Wood, mengangkat tema kayu untuk memberikan dorongan bagi designer menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan melalui sentuhan desain terhadap produk berbasis kayu sehingga berdampak nyata bagi upaya konservasi hutan di Indonesia. 

Designer diharapkan dapat meningkatkan nilai produk kayu, khususnya kayu yang berasal dari hutan alam maupun hutan tanaman yang berumur panjang, dari sekedar produk massal seperti plywood, lantai, aupun komponen bangunan yang cenderung eksploitatif yang berpeluang meningkatkan laju kerusakan dan hilangnya hutan alam.

Dengan kegiatan tersebut diharapkan produk lebih bernilai dan berharga tinggi, sekaligus menekan praktik eksploitasi hutan dan memberikan kesempatan bagi hutan memulihkan kondisinya.

"Penggunaan bahan baku kayu dari hutan yang telah bersertifikat FSC, yang melambangkan hutan yang dikelola secara bertanggunjawab, kita harapkan mampu mendapatkan perhatian lebih dari konsumen global, khususnya Amerika dan Eropa sehingga mampu mendorong nilai kompetitif desain mebel dari Indonesia,” jelas Hartono Prabowo, FSC Perwakilan Indonesia.

FSC adalah lembaga swadaya masyarakat, nirlaba, dan independen, yang mendorong pengelolaan hutan yang bertanggungjawab di seluruh dunia. Melalui sistem sertifikasi yang ketat, FSC menyiapkan standar yang diakui secara internasional, agar perusahaan dan komunitas pengelola hutan dapat terdorong dan mengembangkan praktik kehutanan yang lebih baik dan bertanggungjawab secara sosial dan lingkungan di Indonesia dan dunia.

Perhutani merupakan perusahaan pertama di dunia yang mendapat sertifikat Well Managed Forest pada tahun 1990. Selain telah mengantongi Sertifikat Legalitas Kayu (SLK) untuk seluruh unit manajemen sesuai mandatory yang ditetapkan pemerintah, Perhutani juga menerapkan sertifikasi voluntary guna pelayanan prima.

Setelah mengalami pasang surut proses sertifikasi hutan, saat ini ada tujuh unit manajemen Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perum Perhutani antara lain KPH Madiun, KPH Banyuwangi Utara, KPH Cepu, KPH Randublatung, KPH Kebonharjo, KPH Kendal, dan KPH Ciamis. KPH-KPH tersebut telah mengantongi sertifikat sustainable forest management standar FSC. Diharapkan jumlah unit manajemen akan semakin bertambah, apabila KPH Banten dalam waktu dekat lolos proses sertifikasi FSC ini.

Program sertifikasi hutan secara mandatory dan voluntary merupakan salah satu komitmen Perhutani sebagaimana Visi Perusahaan yaitu: “Menjadi Perusahaan Unggul Dalam Pengelolaan Hutan Lestari”.

Direktur Utama Perum Perhutani, Mustoha Iskandar mendukung penuh kegiatan IDC 2016, dengan penggunaan bahan baku kayu jati yang bersumber dari hutan-hutan Perhutani, khususnya yang bersertifikat FSC. Total kayu bundar (log) jati Perhutani bersertifikat FSC lebih kurang 400.000 meter kubik. 

Kayu-kayu bersertifikat itu sebagian diolah di industri-industri kayu Perhutani di Cepu, Brumbung, dan Gresik yang juga bersertifikat FSC dengan kapasitas total 60.000 meter kubik.  Para desainer diharapkan menciptakan inovasi desain kayu jati berdiameter kurang dari 20 cm.  Dengan model pengelolaan hutan yang adaptif terhadap dinamika sosial dan lingkungan, produksi kayu dengan diameter kurang dari 20 cm, akan semakin besar potensinya.

Sosialisasi lomba akan diadakan di lima kota yaitu Solo, Jogja, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Selain itu dilakukan pula promosi melalui media sosial Facebook, Twitter, dan Instagram. 50 desain dan konsep yang masuk serta 20 nominator desain, konsep, dan prototipe, akan dipamerkan di pameran mebel internasional di Jakarta tahun 2016.

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Perhutani
 
Lingkungan
24 Agt 26, 19:51 WIB | Dilihat : 158
Angin Selatan Hantar Jerebu ke Serawak dan Brunei
19 Jun 26, 11:49 WIB | Dilihat : 567
Penang
07 Jun 26, 12:42 WIB | Dilihat : 675
Jakarta Baur Budaya
28 Apr 26, 14:29 WIB | Dilihat : 678
Jumhur Hidayat
Selanjutnya
Energi & Tambang
18 Agt 26, 18:17 WIB | Dilihat : 274
PHE Pertegas Komitmen Jaga Ketahanan Energi Nasional
17 Jul 26, 17:25 WIB | Dilihat : 357
Monetisasi Gas Sengeti Dorong Investasi Baru di Jambi
28 Jun 26, 06:57 WIB | Dilihat : 410
Talenta Mutu Pertamina Gerakkan Transformasi
Selanjutnya