Sekolah Saudagar SI Bogor Jembatan Pengusaha

| dilihat 475

Gerakan Dakwah Ekonomi yang menjadi fokus gerakan Syarikat Islam (SI) menjemput era digital Society 5.0 yang diukukuhkan oleh salah satu keputusan Majelis Tahkim (Kongres Nasional) ke 44 di Surakarta, 3 - 6 Desember 2021, disambut dengan aksi kongket oleh Syarikat Islam Cabang Kota Bogor.

Firdaus, Sekretaris DPC Syarikat Islam Kota Bogor dalam suatu perbincangan (Jum'at, 4/2/22) menyatakan,  dakwah ekonomi merupakan cara yang harus ditempuh dalam menghadapi arus besar praktik pembangunan ekonomi nasional yang cenderung menganut sistem ekonomi liberal, dan hanya menguatkan dominasi kapitalisme dan konglomerasi.

Ia menyatakan, dalam mewujudkan keputusan kongres, mendorong bangunnya perekonomian bangsa berbasis kerakyatan sesuai dengan karakter bangsa, titik beratnya adalah Gotong Royong.

Akan halnya Ketua SI Cabang Kota Bogor, Subhan Murtadla menegaskan, "Negara melalui pemerintah, memang harus memberi akses ruang yang luas bagi tumbuhnya kreativitas daerah-daerah membangun kemampuan ekonomi halal dengan  kearifan dan kecerdasan lokal."

Sekaligus menguatkan akses yang luas bagi kemudahan memperoleh modal usaha, serta akses  jaringan pasar untuk berkembangnya Usaha Kreatif Madiri (UKM). Namun demikian, SI bertanggungjawab pula melahirkan, mengembangkan dan merawat pelaku UKM tersebut.

Berangkat dari kesadaran demikina, menurut Firdaus, SI Kota Bogor merancang dan menyiapkan penyelenggaraan Sekolah Saudagar tingkat Nasional, selama enam bulan.

"Kami sudah menunjuk kader kami, Darwadi memangku amanah sebagai Direktur Sekolah Saudagar tersebut," terangnya.

Alhamdulillah, kata Subhan, keputusan SI Cabang Bogor mendapat respon baik dari Ketua Umum SI, Hamdan Zoelva, Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel, dan berbagai kalangan. Kerjasama juga sudah dilakukan dengan UPTD Balai Latihan Kerja Kota Bogor, tambah Subhan.

"Alhamdulillah, bersama petani penggarap, kami sedang merancang ruang di atas lahan yang kami siapkan sebagai pusat pendidikan dan latihan Sekolah Saudagar di Pamoyanan. Termasuk mengolah sebagian besar lahan sebagai kawasan agrowisata," tambah Firdaus.

Firdaus yakin, kolaborasi dengan lahan terbatas, pengusaha yang peduli pada kebangkitan ekonomi umat, para pelaku usaha kreatif mandiri yang sudah bergerak, Sekolah Saudagar SI yang terbuka bagi siapa saja dari seluruh Indonesia akan menjadi wadah persemaian saudagar muslim millenial.

Sambil tersenyum, Firdaus mengatakan, "Kalau mau kaya dan menjadi dermawan, jadilah saudagar. Kalau mau mulia dan dimuliakan, jadilah ulama atau guru. Kenyang dulu baru nanti berpolitik praktis, supaya tidak korupsi dan gampang disuap."

Bagi SI, ungkap Firdaus, perjuangan kebangsaan sejak 1905 dimulai dari dunia niaga - entrepreneur dan media, ditandai dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam (SDI) KH Samanhudi di Laweyan Solo dan RM Tirto Adisuryo di Bogor. Keduanya kemudian berkongsi, dan oleh HOS Tjokroaminoto, SDI diubah menjadi Sarekat Islam yang mengawali pergerakan kebangsaan Indonesia.

Dalam percakapan untuk acara Tilik Bang Sém di Salam Radio, Rabu (26/1/22), Darwadi mengemukakan dia merasa mendapat kehormatan didapuk sebagai Direktur Sekolah Saudagar SI Bogor.

Anak Surabaya, bungsu dari tiga bersaudara keluarga pegawai negeri, yang kini menjadi pengusaha makanan beku untuk bayi, ini Sekolah Saudagar ini penting, karena manusia diberikan peluang melakukan creating value, menciptakan nilai dalam mengelola hidupnya.

Darwadi adalah mahasiswa Indonesia pertama yang studi di Fakultas Jurnalistik Voronezh State University (Voronezski Gozudarstveni Universitet) - Rusia. Setelah lulus pada tahun 2009, salah seorang penggiat radio Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Eropa ini, kembali ke Indonesia. Lantas menjadi karyawan organik salah satu BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

Dari pengalaman dirinya Darwadi mengemukakan, sebagai bagian dari keluarga yang berkecukupan, orang tuanya lebih memasukkan ke dalam benaknya, pandangan dan sikap lazim, sebagai safety player.

"Ibu saya, berdoa, supaya saya menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Itu saja sudah cukup, tapi saya berfikir lain. Saya pun keluar dari zona nyaman sebagai karyawan BUMN dan terjun dalam dunia bisnis," cetusnya.

Tahun 2015 ia mulai merintis usaha yang berkecimpung di industri manufaktur, memproduksi makanan beku untuk anak. Dia, istri dan perusahaannya itu juga yang bertindak sebagai distributor.  "Alhamdullilah sudah ada kurang lebih empoat puluh agen di seluruh Indonesia," jelasnya.

Perjalanan menggeluti usaha ini tak semulus yang dibayangkan orang, bila melihat kondisinya sekarang. Pengalaman banyak memberinya pengetahuan yang dimatangkannya dengan menggali banyak ilmu tentang bisnis. Termasuk pemahaman mendalam dirinya terkait perbedaan dunia profesional dan bisnis yang dia geluti kini.

"Dunia bisnis yang saya geluti sekarang merupakan dunia yang sama sekali tidak pernah saya pelajari di bangku sekolah," katanya.

Dia beruntung mendapat beberapa mentor. Salah satu mentor menjelaskan, "Bisnis bagi yang tidak berilmu, bergerak tanpa pola." Karenanya, pengusaha, saudagar, sesungguhnya adalah seorang pembelajar. "Belajar itu wajib, seperti diajarkan Rasulullah Muhammad," tegasnya.

Dikemukakannya, dalam bisnis, tak ada salah dan benar dalam mengambil keputusan. Yang ada adalah pembelajaran dalam mengambil keputusan bisnis, dimana keputusan harus diambil antara konsistensi dengan perencanaan, kemampuan melihat rencana bisnis dengan perkembangan situasi, dan konsekuensi apa yang akan dihadapi ketika suatu keputusan bisnis diambil.

Perjalanan hidup sebagai pebisnis menempa dan membentuk seorang saudagar dalam skala apa pun, menjadi orang yang lebih menghargai betapa kehidupan sangat bernilai.

Kehidupan yang sementara ini harus bisa banyak berarti bagi orang banyak, harus bisa bermanfaat bagi orang banyak, seperti diajarkan dalam agama Islam: hairunnaas anfa'uhum lin naas. Terutama dalam membangun pola pikir atau minda bisnis.

"Nah,.. Sekolah Saudagar ini mengacu ke situ. Sekolah ini, insyaAllah akan mentransfer pengalaman dan pengetahuan, khususnya terkait dengan minda saudagar sebagai strong way kita dalam berbisnis," urainya.

Sekolah Saudagar ini juga akan memfasilitasi pesertanya selama enam bulan, bagaimana memformulasi dan mengeksekusi ide, gagasan. "Dan, yang terpenting adalah berani dalam mengambil keputusan, mau jadi apa kita di tahun ini dan mengenali apa saja faktor mempengaruhi diri kita dan usaha kita," tambahnya.

Darwadi mengatakan, Sekolah Saudagar juga akan mentransfer ilmu, pengetahuan dan pengalaman dari para mentro, yang dapat menjadi pegangan dalam berbisnis. Baik di kelas pemula, maupun grup bisnis yang berorientasi pada pengembangan. Termasuk melakukan business matching.

Sekolah Saudagar SI Kota Bogor ini terbuka dan berskala nasional, karena rasio kewirausahaan Indonesia sampai kini, masih rendah. Berada di level 3,74 persen, sedangkan Thailand sudah 4,2 persen, Malaysia 4,7 persen, dan Singapura 8,7 persen.

"Kita masih belum kemana-mana dalam pengembangan ekonomi, terutama dalam ekonomi kreatif. Kita masih terjebak dengan pemikiran-pemikiran dan mitos-mitos tentang bagaimana menghadapi ketidak-pastian dalam bisnis, was-was menghadapi risiko rugi dan gamang dalam menghadapi untung. Takut kalau-kalau akan bangkrut.

"Insya Allah, Sekolah Saudagar ini akan mengubah minda bisnis," tegasnya.

Dikemukakannya, Sekolah Saudagar ini, akan menjadi jembatan bagaimana kalangan UKM dari yang baru mau memulai atau sudah memulai atau bahkan sudah berjalan dan mengarah kepengembangan bisnis baru. Sekaligus menjadi salah satu tempat bertanya, berdiskusi dan berbagi tentang usahanya.

"Saya termasuk seseorang yang masih harus banyak belajar dan saya selalu membuka diri untuk belajar dengan siapapun. Saya pernah bertanya kepada mentor saya, tentang mentor dari mentor saya, beliau menjawab, mentor saya adalah siapapun. Dan di Sekolah Saudagar lah, kita dapat bertemu banyak orang, dan di Sekolah Saudagar lah kita dapat bersilaturahmi, membangun jejaring."

Berbagai mentor akan mendapingi peserta, termasuk mentor ahli teknologi blockchain dari negeri surganya Bitcoin di Kiev - Ukraina.

Visi Sekolah Saudagar adalah sebagai wadah pelatihan bagi saudagar berkontribusi aktif dan mengambil peran dalam kemajuan ekonomi Indonesia dari negara sedang berkembang menjadi negara berkembang. 8 Nilai Sekolah Saudagar ini adalah: Silaturrahmi; Berfikir Terbuka; Bekerja sama berdasarkan prinsip kepercayaan dan komitmen;  Mengutamakan Tindakan dan Memberi; Berorientasi pada perbaikan berkelanjutan; dan, Berorientasi pada kemandirian ekonomi.

Gotong Royong, menjadi nilai dasar sekolah ini. "Dengan Gotong Royong, Insya Allah Indonesia akan menjadi negara maju. Salah satu Tindakan yang memperkuat ekonomi Indonesia adalah memperbanyak produsen-produsen, baik produk atau jasa dari Indonesia agar kita menjadi tuan rumah di rumah sendiri.

Gotong Royong memantik Kolaborasi sebagai salah satu bentuk transformasi, budaya yang sudah ada dari jaman dahulu di Indonesia, dan terbukti dari era peperangan kolonial hingga vaksinasi Covid 19 mampu mendongkrak kemandirian bangsa Indonesia.

"Setelah selesai dengan urusan minda, keuangan dan penjualan, kita mengembangkan brand, sambil bergerak dalam mempermudah permodalan bagi usaha-usaha yang berkualitas. Allah Sekolah Saudagar dapat menjadi jembatan itu semua ," jelasnya.

"Hal ini menginspirasi kita, untuk mendobrak keterjajahan ekonomi melalui kolaborasi ekonomi," pungkas Darwadi | Evie Tyas


Berita Terkait : Kaum Syarikat Islam Desak Pemerintah Perkuat Akses Usaha Kreatif Mandiri

 

Editor : delanova
 
Energi & Tambang
27 Sep 22, 12:58 WIB | Dilihat : 170
Rachmat Gobel : Indonesia Mesti Bisa Swasembada Aspal
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 761
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1614
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1815
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya
Lingkungan
27 Okt 22, 16:32 WIB | Dilihat : 159
Bukan Cuma Jual Kavling.. Men
30 Sep 22, 14:44 WIB | Dilihat : 248
Banten Al Muktabar
09 Jun 22, 11:39 WIB | Dilihat : 261
Bincang Keseimbangan Semesta di Tepian Tasik Putrajaya
Selanjutnya