
Bang Sem
PERNYATAAN Menko Maritim dan Sumberdaya Rizal Ramli tentang perlunya memprioritaskan pariwisata dalam keseluruhan konteks pembangunan, patut diapresiasi. Saya memandang pernyataan itu sebagai bentuk kejelian memilih prioritas.
Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, mestinya Indonesia menjadi pelopor. Terutama karena secara alamiah dan budaya, Indonesia mempunyai semua hal yang terkait dengan tourism omnibus. Indonesia memiliki segalanya. Sayangnya, selama ini tak tergarap serius.
Akibatnya, kepariwisataan Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan Malaysia. Khasnya dalam merebut pasar potensial wisatawan mancanegara. Terutama ketika Malaysia berhasil menempatkan branding sebagai “Asia yang sebenarnya” – The Truly Asia.
Merujuk pada pandangan Stephen Oppenheimer dan Aryoso terkait dengan Atlantis dan Eden in the East, temuan situs masa lampau (Gunung Padang – Jawa Barat dan Leang-Leang – Sulawesi Selatan, serta Borneo), Indonesia semestinya menjadi sentra tujuan wisata utama dunia. Baik dalam konteks sumberdaya alam maupun budaya.
Dengan sumberdaya yang dimilikinya, bila pemerintahan Jokowi – JK menempatkan pariwisata sebagai prioritas, maka imajinasi pariwisata Indonesia bisa mewujud. Yakni: Indonesia sebagai negara tujuan utama dan pertama wisatawan mancanegara dan Asia berbasis obyek dan atraksi wisata. Indonesia perlu memberi aksentuasi untuk memikat 20 juta – 30 juta wisatawan mancanegara pada 2019.

KEKAYAAN BUDAYA DAN ALAM KEPULAUAN ALOR - BELUM TEREKSPLORASI | foto Nick
Dalam kondisi perekonomian kita yang sedang terpuruk dan nilai tukar rupiah yang ‘menyesakkan dada,’ mewujudkan imajinasi pariwisata Indonesia sebagai kenyataan adalah keniscayaan. Ini artinya, kekuatiran akan meningkatnya jumlah pengangguran dari sektor industri manufaktur, bisa diimbangi. Karena dengan target kunjungan wisatawan mancanegara sejumlah itu, akan bisa diserap tenaga kerja hingga 13 juta orang.
Pilihan menjadikan pariwisata sebagai prioritas akan memungkinkan disusun rencana strategis untuk kembali mengisi kocek devisa sampai Rp240 triliun, dengan kontribusi (pesimistik) pariwisata terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) sampai 8 persen. Sekaligus mendorong daya saingnya dengan negara-negara ASEAN lain.
Menempatkan pariwisata sebagai prioritas di sisi lain, juga akan mendorong spirit menaikkan rata-rata kunjungan wisata hingga 16.22 persen, dengan rerata 1 juta wisatawan per bulan. Fokusnya pada upaya memperbesar jumlah wisatawan mancanegara, memperpanjang masa tinggal, dan belanja. Antara lain dengan memperbesar kapasitas dan kualitas infrastruktur. Hal itu sejalan dengan keberadaan dan perluasan bandara internasional di Kuala Namu, Soekarno Hatta, Ngurah Rai, dan Sepinggan – Balikpapan. Termasuk penguatan ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) yang sudah berlangsung sepuluh tahun terakhir.
Dikaitkan dengan upaya penguatan melalui program jalur sutra wisata yang dicanangkan Menteri Pariwisata Arif Yahya (mulai dari Batam), Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Tanjung Lesung dan lain-lain. Termasuk, apa yang dikatakan Menko Rizal Ramli tentang penajaman posisi dan segmentasi pasar wisata, seperti DKI Jakarta dan sepuluh daerah tujuan wisata kunci lainnya.
Tentu, memprioritaskan pariwisata sebagai prioritas, tak cukup hanya dengan mengelaborasi berbagai hal verbal, melainkan juga kesiapan masyarakat di daerah - daerah tujuan wisata dengan memperkuat konsep diri aksi entrepreunerial. Termasuk upaya mengembangkan kesadaran melayani. Antara lain dengan menempatkan setiap orang di daerah tujuan wisata utama sebagai juru promosi kepariwisataan.

SESUDUT BANDAS ACEH KALA SENJA | Foto BANG SEM
Dalam konteks itu, pemerintah bersama masyarakat – pelaku industri kepariwisataan Indonesia, dari Tanjung Teuku sampai Raja Ampat, dari Sulawesi Utara sampai Nusa Tenggara Timur, perlu menajamkan fokus masing-masing. Terkait itulah, tak ada salahnya pemerintah, via Kementerian Pariwisata menggelar dialog scenario plan kepariwisataan, mulai dari wilayah Sumatera bagian Utara – Timur dan Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat – Bengkulu – Jambi, Sumatera Selatan – Bangka Belitung – Lampung; Kalimantan; Banten – Jawa Barat, Jateng – Yogya, Jatim, Bali, NTB, NTT, Sulsel – Sulbar, Sultra, Gorontalo – Sulteng, Sulut, Maluku – Ternate, dan Papua.
Dari berbagai event internasional yang digelar selama ini, seperti Gotrasawala (Jawa Barat), Ecomusic (Jawa Barat), Festival Danau Toba (Sumatera Utara), Erau (Kalimantan Timur), Java Jazz (Jakarta), dan berbagai even internasional di Bali (di luar aktivitas MICE) banyak hal yang bisa dieksplorasi dan dieksploitasi lebih kuat.
Setarikan nafas, perlu juga dipikirkan tata ruang yang memungkinkan terjadinya penyebaran sentra-sentra wisata Indonesia berkualitas dan berkapasitas internasional.
Lepas dari soal itu, tentu, Indonesia perlu memikirkan branding yang pas, katimbang wonderful Indonesia yang sangat normatif dan tidak spesifik. Branding berbasis budaya dan nilai lebih kekayaan alam, perlu dipertimbangkan. Indonesia sebagai ‘Surga di Dunia’ atau ‘ Atlantis yang Ditemukan’ bisa dipertimbangkan.
Badan Ekonomi Kreatif dan masyarakat marketing komunikasi perlu diajak duduk bareng untuk melakukan dialog untuk merumuskannya. Setarikan nafas, juga perlu didorong atau diciptakan kondisi yang lebih favourable untuk mengampanyekan pariwisata Indonesia melalui jalur sosial media dunia. Termasuk pengembangan produk audio visual, baik film untuk bioskop dan film televisi yang mengangkat nilai lebih pariwisata Indonesia.

BANDARA SEPINGGAN DAPAT MENDORONG ARUS WISATAWAN KE KALIMANTAN TIMUR | foto BANG SEM
Saya sependapat dengan pandangan Wakil Gubernur Jawa Barat – H. Deddy Mizwar yang melihat pariwisata berdimensi budaya dan berdampak ekonomi menjadi prioritas. Saya juga sepakat dengan pandangan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, yang menegaskan Bali sebagai daerah tujuan utama bagi mereka siapa saja yang ingin memperoleh dan menyegarkan cinta. Atau, seperti yang dikemukakan Gubernur Kalimantan Timur Awang Farouk, yang menggarisbawahi Kalimantan sebagai garda depan Indonesia masa depan.
Tak ada salahnya Menko Rizal Ramli memfasilitasi kalangan industri pariwisata, industri kreatif, dan media untuk meningkatkan dan memperluas partisipasi mereka dalam mendorong kepariwisataan Indonesia. Boleh jadi, hal ini kelak akan menjadi lokomotif untuk bergerak, tidak sekadar kerja, melainkan mengembangkan kreativitas, inovasi, dan invensi. |