Pemerintah Kembangkan Potensi Wisata Alam

| dilihat 2411

AKARPADINEWS.COM | PEMERINTAH berupaya mengembangkan potensi pariwisata alam. Upaya itu dilakukan Perum Perhutani bersama Kementerian Pariwisata dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH).

Komitmen untuk mengembangkan pariwisata alam itu disepakati Menteri Pariwisata Arief Yahya bersama Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar, dengan menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pengembangan Wana Wisata di Kawasan Hutan.

Hadir pula Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Tachrir Fathoni dan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Dadang Rizki Ratman. Penandatanganan PKS tersebut dilaksanakan pada Selasa (27/10),  di Auditorium Gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta.

Dari rilis yang disampaikan Perhutani, ruang lingkup kerjasama seputar pengembangan wisata Perhutani, termasuk promosi dan pemasarannya. Lingkup wisata Perhutani mencakup Wana Wisata Cilember, Wana Wisata Cikole, Wana Wisata Cluster Ciwidey, Wana Wisata Penggaron, Wana Wisata Padusan, Wana Wisata Tanjung Papuma dan Wana Wisata Pulau Merah.

Usai penandatanganan, Mustoha menyampaikan, saat ini, Perhutani memiliki peluang mewujudkan wisata alam di wilayah Pulau Jawa dan Madura menjadi sektor unggulan dan mendapat pengakuan internasional. “Dengan luas pengelolaan hutan 2,4 Juta hektar di Pulau Jawa dan Madura, Perum Perhutani memiliki sekitar 122 destinasi wisata besar dan kecil yang bernilai strategis dan berpotensi menjadi sektor unggulan. Beberapa lokasi wana wisata unggulan, baru saja kita kerjasamakan dengan Kementerian Pariwisata dan Kementerian LHK hari ini,” terangnya.

Mustoha juga menyampaikan, kerja sama tersebut bertujuan untuk mendukung program Nawacita yang menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan. Selain itu, Mustoha menegaskan, program tersebut mendukung konservasi sumber daya alam dan pariwisata di Pulau Jawa dan Madura.

Arief Yahya, dalam sambutannya menyampaikan, saat ini Kementerian Pariwisata memiliki tagline “Semakin Dilestarikan, Semakin Mensejahterakan”. Menurutnya, tagline tersebut tercetus tatkala melakukan observasi tentang dua Kampung Nelayan di Lampung yang salah satu kampung berhasil dibina dengan baik sehingga meningkatkan pendapatannya hingga lima kali lipat dengan fasilitas dan waktu yang sama dengan kampung lainnya.

Arief menambahkan, saat ini negara-negara yang berbasiskan pelayanan seperti di sektor pariwisata lebih memiliki potensi pendapat devisa negara lebih besar dibandingkan sektor lain. “Negara-negara berbasis pelayanan atau service dapat meningkatkan devisa negara menjadi lima hingga sepuluh kali lipat dari negara-negara yang berbasis manufacturing dan trading,” ujarnya.

Arief juga mengatakan, ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika mengembangkan dan mempromosikan sesuatu, yaitu subscribe, usage, dan iklan. “Ketika peminat banyak namun harganya mahal, subscribenya tidak ada, ya percuma. Intinya saya ingin pariwisata di Indonesia ini Mudah, Murah dan Transparan,” pungkasnya.

Acara yang bertemakan: “Aktualisasi Pengembangan Destinasi Wisata Alam Unggulan Peningkatan Daya Saing dan Nilai Tambah Pariwisata” tersebut juga dihadiri oleh para pejabat eselon I dan II dari Kementerian Pariwisata dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Acara tersebut juga dihadiri perwakilan dari MNC Group dan beberapa institusi pendidikan, seperti Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Pariwisata (STIEPAR), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Bunda Mulia (UBM).

Dengan kesepakatan kerjasama Pengembangan Wana Wisata di Kawasan Hutan antara Perhutani dengan Kementerian Pariwisata dan Kementerian KLH, diharapkan potensi pariwisata alam dapat lebih tergali. Dengan begitu, akan meningkatkan pemasukan negara, sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat menjaga dan melestarikan alam.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Humas Perhutani