
SURABAYA, AKARPADINEWS.COM | Menteri Perhubungan Ignasius Jonan memberlakukan protokol darurat atas hilang kontaknya pesawat Airbus A320-200 milik maskapai penerbangan Indonesia AirAsia. Dengan memberlakukan protokol darurat, berarti Menteri Perhubungan Jonan, memimpin langsung upaya pencarian pesawat yang dikendalikan pilot Kapten Irianto dan Co Pilot Remy Emanuel Pasel tersebut, pada Ahad (28/12/2014) itu.
Dalam pertemuan dengan keluarga korban dan pers di crisis center, itu Jonan yang baru saja meninjau pusat latihan penerbang di Banyuwangi, itu memastikan, Kementerian Perhubungan memprioritaskan informasi untuk keluarga penumpang yang berada di dalam pesawat itu. Untuk mencari pesawat yang hilang kontak itu, pihak Singapura dan Malaysia telah menghubungi Jonan untuk memberikan dukungan dan join dalam tim Indonesia, seperti diungkapkan Hadi Mustofa Djuraid – staf khusus Menteri Perhubungan kepada salah satu stasiun televisi.
Dari manifest penumpang di dalam pesawat itu memang terdapat 1 orang warga negara Singapura, 1 orang warga negara Malaysia, 1 orang warga negara Inggris. Sisanya adalah warga negara Inggris. Akan halnya co polit, Remy Immanuel dikabarkan berkebangsaan Perancis.

Sejumlah posko atau crisis center sudah dibentuk di Surabaya dan di Jakarta. General Manager Angkasa Pura Airports cabang Juanda, Trikora Harjo memastikan, seluruh nomor telepon dan alamat keluarga penumpang sudah dicatat detil. “Sehingga, kalau ada informasi terbaru, kita bisa langsung sampaikan. Namun begitu, bagi keluarga penumpang yang rumahnya jauh dan terpaksa menginap, kami sediakan hotel di Terminal Satu Bandara Juanda,”ujarnya kepada keluarga korban dan kalangan pers.
Nampak keluarga penumpang, meski nampak sedih, namun tetap tegar. Hal itu membantu situasi di crisis center Bandara Internasional Juanda – Sidoardjo, lebih terkendali. Jonan tidak mengambil waktu lama dalam pertemuan dengan keluarga penumpang dan wartawan itu. Ia segera meninggalkan ruangan pertemuan untuk melakukan berbagai tindakan dalam pencarian pesawat itu.
Selaku penanggungjawab pencarian pesawat Indonesia AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 rute Surabaya – Singapura, itu Jonan sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak, khususnya Basarnas, TNI AU, TNI Al dan Indonesia AirAsia sendiri. Masing-masing pihak, di bawah koordinasi Menteri Perhubungan, sudah mengerahkan timnya menuju ke lokasi yang diduga menjadi area kontrak terakhir pesawat itu dengan menara air trafic control (ATC) yang dikelola AirNav Indonesia, di Bandara Internasional Soekarno Hatta.

TNI AU sudah mengerahkan Boeing 737 Survaillence, Hercules, dan Helikopter Superpuma dari Pangkalan TNI AU di Halim Perdana Kusumah – Jakarta, Hasanuddin – Makassar, dan Supadio – Pontianak. TNI AL mengerahkan dua kapal perang, masing-masing KRI Pattimura 371 dan Sutedi Senaputra 378. Kementerian Perhubungan juga sudah memerintahkan pengiriman kapal dari direktorat jendral perhubungan laut. Konsentrasi pencarian dilakukan di area antara Tanjung Pandan dan Pontianak, 100 mil ke sebelah tenggara Pulau Belitung.
Sampai lepas tengah hari, baik Kementerian Perhubungan maupun pihak Basarnas dan TNI AU belum bisa memastikan sebab musabab pesawat itu hilang kontak. Wakil Presiden Jusuf Kalla berdoa agar pesawat itu segera ditemukan. Harapan yang sama dikemukakan pula oleh Direktur Angkutan Udara Djoko Muryatmodjo dalam jumpa pers di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, yang nampak dihadiri juga oleh Direktur Utama Angkasa Pura Airports (Angkasa Pura I) Tommy Soetomo.
Perdana Menteri Lee Hsien Loong dalam twitter-nya mengungkap dirinya sudah mengontak Presiden Jokowi dan menawarkan bantuan. Dia menulis, para menterinya siap menindaklanjuti pernyataannya itu. | noora