
KAIS SORONG SELATAN, AKARPADINEWS.COM | Presiden Republik Indonesia Jokowi mengawali tahun 2016 dengan melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Papua Barat. Di Provinsi itu, Jokowi mengunjungi beroperasinya Pabrik Sagu Perum Perhutani yang terletak di Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Propinsi Papua Barat, Jumat (01/01/2016).
Ketika Jokowi datang ke pabrik, sedang dilakukan proses pengolahan Sagu Perdana. Bahan baku pohon sagu diambil langsung dari hutan sagu masyarakat Desa Kais yang ada di sekitar lokasi pabrik.
Hasil produksi pabrik sagu ini dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk subtitusi beras yang didatangkan dari Jawa. “Tepung sagu ini bisa menjadi cadangan pangan bagi masyarakat papua yang memiliki luas hutan sagu terbesar didunia, mencapai 1.2 juta ha. Saya berharap, pembangunan pabrik ini didukung juga oleh sinergi BUMN lainnya, karena kita dan masyarakat Kais perlu dukungan listrik, Depo BBM, klinik, pendidikan, Kantor Pos, dan Perbankan,” jelas Direktur Utama Perhutani, Mustoha Iskandar, yang juga dikenal dengan julukan Pak Ustadz.
Ketika berkunjung ke pabrik, Direktur Utama Perum Perhutani itu menyambut langsung Jokowi, isterinya, dan rombongan. Kepada Jokowi, Mustoha Iskandar melaporkan, pembangunan Pabrik Sagu di Papua Barat itu merupakan tindak lanjut dari program pemerintah (melalui BUMN) untuk percepatan pembangunan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Khasnya program tentang kedaulatan pangan berupa sagu. Selain program Kedaulatan Pangan Nasional, juga menjadi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional (Engine of Growth), sebagai tugas kepeloporan serta kebanggaan Nasional membangun Indonesia dari pinggiran.
Sagu (Metroxylon sagu Rotb.) adalah tanaman asli Indonesia yang menjadi sumber karbohidrat utama yang dapat digunakan untuk makanan sehat, bioethanol, gula untuk industri makanan dan minuman, pakan ternak, industri kertas, farmasi dan lainnya. Luas sagu di dunia lebih kurang 2,4 juta Hektar. Potensi Indonesia menjadi produsen sagu terbesar didunia dapat segera diwujudkan karena data menunjukkan bahwa tanaman sagu di Indonesia luasnya lebih kurang 1,4 juta Ha, termasuk di Papua lebih kurang 1,2 juta Hektar. Di Papua Barat diperkirakan luasnya 600 ribu Hektar dan Sorong Selatan sekitar 349 ribu Hektar Hutan sagu (Data Sorong Selatan, September 2015).

JOKOWI DISAMBUT SECARA ADAT DI PABRIK SAGU PERHUTANI
Pohon sagu adalah jenis palma yang tumbuh secara alami di hutan Papua yang apabila tidak dimanfaatkan akan mati dengan sendirinya, sehingga potensi tepung sagunya akan terbuang percuma. Hal ini dapat berpengaruh buruk terhadap regenerasi rumpun-rumpun sagu karena terjadinya degradasi pohon karena proses acidifikasi secara alami (menjadi racun bagi anakan sagu baru). Oleh karena itu pemanfaatan hutan sagu melalui industrialisasi merupakan keharusan agar sumberdaya pati atau karbohidrat dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan (sustainable) sesuai daya dukung alam. Dengan demikian ekosistem sagu dapat berjalan dengan baik serta produktivitas hutan sagu dapat meningkat.
Kualitas pohon sagu Raja asal Papua bisa menghasilkan sagu hingga 900 kilogram per batang, berbeda dengan pohon sagu di bagian barat Indonesia dan Malaysia yang menghasilkan tepung sagu maksimal 150 kg sampai 250 kg perbatang.
Masyarakat petani sagu di Papua Barat khususnya Sorong Selatan secara tradisional hanya sanggup mengolah satu batang sagu selama dua minggu karena belum adanya alat-alat pengolah yang dapat meningkatkan produksi, selain itu banyak bagian dari batang sagu yang terbuang percuma, busuk selama proses pengolahan dilakukan.
Pembangunan pabrik sagu ini sesuai penugasan Pemerintah melalui Kementerian BUMN RI dengan surat nomor S-90/MBU/2012 tanggal 29 Februari 2012 dan ditindaklanjuti dengan surat Bupati Sorong Selatan tentang Ijin Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IUPHHBK) Nomor 522/223/BSS/XII tanggal 14 Desember 2012.
Ijin Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (IPHHBK) seluas 16.055 Ha. Dari luasan tersebut yang areal yang digunakan untuk pabrik sagu dan powerplant luasnya 8 Ha. Lokasi pabrik terletak di titik 132’05’23” BT sampai 132’24’12” BT dan 01’46’53” sampai 01’58’05”LS tepatnya Distrik Kais Kabupaten Sorong Selatan Propinsi Papua Barat.
Kapasitas produksi tepung Sagu 100 ton/hari dengan bahan baku 5.000 sampai dengan 6.000 potong tual perhari (Tual: potongan batang sagu sepanjang satu meter). Rendemen diperhitungkan 15% dan limbahnya 85%. Pada tahun 2012 saat sebelum pabrik sagu dibangun harga jual sagu adalah Rp. 5.200,-/kg sampai Rp 6.500,-/kg. Akhir 2015 harga pasaran tepung sagu di Jawa mencapai Rp 6.800,- per kg. Harga ini tentu akan terus meningkat sejalan dengan kebutuhan akan tepung sagu untuk bahan pangan secara nasional, bahan baku industri lainnya di dalam dan luar negeri.
Berdasarkan kebutuhan tual sagu di pabrik, setiap keluarga di wilayah Distrik Kais akan menebang rata-rata 2 pohon sagu atau 20 tual sagu setiap hari. Artinya setiap hari akan ada 300 keluarga (KK) yang terlibat dalam penyediaan bahan baku di pabrik sagu Perum Perhutani. Hal ini belum termasuk tenaga kerja yang terlibat langsung di pabrik dan tenaga yang tidak langsung terlibat seperti bidang transportasi, penyediaan bahan bakar minyak dan semua akses suply chain ke pabrik.

JOKOWI DAN ISTERI MEMPEROLEH PENJELASAN DARI DIREKTUR UTAMA PERHUTANI, MUSTOHA ISKANDAR
Dari total investasi sebesar lebih kurang Rp 150 miliar dan tenaga kerja lebih kurang 40 orang di pabrik serta 400-600 orang tenaga kerja di lahan-lahan hutan sagu, maka pabrik sagu Perhutani ditargetkan akan memberikan kontribusi pendapatan ke perusahaan Rp 100 miliar per-tahun, dan juga akan menjadi pemacu penggerak perekonomian wilayah Sorong Selatan.
Dengan adanya pabrik sagu Perum Perhutani ini, tanaman sagu masyarakat sekitar bisa langsung diolah dalam waktu singkat. Perhutani akan membeli batang sagu seharga Rp 9.000,- per tual tergantung kualitas pohon sagu atau berdasarkan kesepakatan kerjasama melalui kelembagaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Bosiro, yaitu kelompok masyarakat Kais yang bekerjasama dengan Perum Perhutani. Lembaga masyarakat ini diharapkan akan mewadahi proses-proses bisnis ekonomi dan sosial antara warga masyarakat dan pabrik sagu.
Pembangunan Pabrik Sagu Perum Perhutani dimulai sejak 2013, dan telah dinyatakan selesai pembangunannya pada akhir Desember 2015 sesuai perjanjian kontrak pembangunan dengan PT Barata Indonesia (Persero), pengawasan manajemen konstruksi oleh PT. Indah Karya (Persero). Tiga bulan selanjutnya akan dilakukan commisioning di pabrik sebelum pabrik beroperasi penuh.
Saat ini di pabrik telah tersedia 2 buah genset dengan kapasitas 1.000 kVa dan 800 kVa dan digunakan untuk operasional pabrik sagu. Kebutuhan solar untuk operasional genset 1.800 kVa tersebut adalah sebesar 0,21 x 1.800 kVa = 378 Lt/jam atau sebesar 9000 Lt/ hari.
Hasil sagu olahan pabrik sagu Perum Perhutani akan dipasarkan ke wilayah Papua, Jakarta, Cirebon, Semarang, Surabaya, Medan. Sedangkan target pasar luar negeri adalah Jepang, Korea, Thailand, China. | Kom-PHT / Kanpus