Festival Nusantara: Lokalitas yang Universal

| dilihat 3786

AKARPADINEWS.COM | PANGGUNG terbuka, beratap langit, dan berlatar alam yang indah, menjadi perpaduan hamonis antara seni, alam, dan manusia. Dalam dekapan dingin di kaki Gunung Batur, Kintamani, Bali, tercipta kehangatan yang intim antara para penonton dan musisi yang unjuk kebolehan di atas panggung.

Suasana begitu hidup tatkala kemunculan Ayu Laksmi, diiringi aroma dupa yang ia letakkan di depan panggung. Selanjutnya, lantunan suara Ayu pun bergema membawakan lagu-lagu dari repertoar albumnya: Svara Semesta.

Penampilan seniman multitalenta asal Bali di perhelatan Festival Nusantara (9/8/15) ini tak hanya bermain musik. Ayu memadukan tari dan musik menjadi pertunjukan teatrikal yang memukau sekaligus menghibur. Sesekali ia mengajak penonton bernyanyi hingga berdoa untuk kedamaian diri dan semesta.

Dimensi lokalitas dan spritual pun begitu kental tatkala grup-grup musik menyuguhkan kepiawannya. Horjabius tampil dengan iringan alat musik Batak seperti Taganing, Hasapi, dan Sulim. Mereka juga mendendangkan lagu-lagu yang bersumber dari teks doa leluhur masyarakat Batak yang disebut Tonggo-Tonggo. Sementara Tindoki dari Toraja menampilkan aransemen musik yang  berkisah tentang tradisi kehidupan masyarakat Toraja.

Penampilan para musisi tersebut menyampaikan pesan lokalitas yang sejatinya menjadi identitas masyarakatnya sebagai benteng kuat tradisi--namun dapat dinikmati oleh penonton yang tidak segaris dengan leluhurnya. Mereka kebanyakan berasal dari luar negeri. Festival tersebut memang mengusung tema Nusantara dengan lebih mengangkat tradisi lokal menjadi universal.

“Forum ini dilakukan dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural dengan memanfaatkan segala khazanah yang ada sesuai dengan kebutuhan aktualnya,” ucap Ngurah Paramartha, pimpinan Festival Nusantara 2015.

Perhelatan yang digagas oleh Yayasan Wisnu-Bali dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) itu digelar pada 8-17 Agustus 2015. Tema yang diangkat adalah Merayakan Peradaban Matahari, mengacu pada kebudayaan masyarakat nusantara yang menempatkan matahari sebagai bagian dari kebudayaan.

Dalam tradisi Nusantara, matahari sebagai Maha Cahaya Tertinggi juga dipahami sebagai daya energi. Jejak kesadaran peradaban matahari ini berpengaruh sedemikian luas dan mendasar dalam banyak tradisi di nusantara dan peradaban bangsa-bangsa kuno di dunia.

Tujuan merayakan peradaban Matahari di Bali sebagai wadah lahirnya peradaban matahari lewat sistem penanggalan Pawukon adalah merayakan tradisi dan ritual masa lalu yang dikemas dalam bentuk kekinian dan dapat diterima secara universal.

Festival Nusantara ini diharapkan menjadi ruang dialog lintas kebudayaan melalui beragam pertunjukan seni di nusantara, sekaligus berdialog dengan alam melalui acara ritual pembersihan dan meditasi. Kegiatan itu juga menjadi ajang diskusi atau sarasehan budaya dan sastra nusantara.

--

Pelaksanaan Festival Nusantara yang bertepatan dengan Hari Masyarakat Adat Sedunia pada 9 Agustus 2015 itu juga dihadiri berbagai perwakilan AMAN dari berbagai daerah. Sekretaris Jenderal AMAN Abdon Nababan, Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya dan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, turut hadir dalam acara tersebut.

Saat pembukaan festival, Abdon menyuarakan keprihatinan mengenai pengabaian hak-hak masyarakat adat akibat tidak optimalnya peran negara, khususnya dalam upaya mensejahterakan masyarakat adat dan pemenuhan hak tanah adat. Padahal, masyarakat adat turut berperan besar menjaga identitas suku dan bangsa Indonesia.

Sayangnya, di balik tema dan narasi yang besar, pelaksanaan event ini kurang terorganisir. Misalnya, pelaksanaan jadwal acara yang tidak konsisten dan berubah-rubah dari rundown acara. Demikian pula tenda yang seadanya hingga fasilitas toilet yang sangat minim. Semoga perhelatan yang melibatkan berbagai stakeholder ini dan diharapkan akan berlangsung untuk tujuh tahun ke depan, dapat terlaksana lebih baik lagi sehingga mencapai tujuan utamanya menumbuhkan kesadaran historis mengenai warisan nusantara yang kaya akan peradaban.

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Energi & Tambang
Ekonomi & Bisnis