Sketsa

Tradisi Laut Masyarakat Bahari

| dilihat 4579

JENDELA kamar hotel di tepian laut, itu terkuak gordeijn-nya. Annisa duduk di sofa dekat jendela, dan memandang jauh ke luar, selepas pandang. Pikirannya nerawang, dan memengaruhinya saat berbincang senja hari dengan Hisam. Sepasang pengantin yang sedang ‘melanglang ke negeri leluhur’, ini lalu terbayang ihwa kehidupan masyarakat Bajau, yang karib dengan laut. Keduanya sama sepakat, masyarakat kita belum sepenuhnya menyerap berbagai nilai dasar kearifan lokal untuk memelihara laut sebaik-baiknya.

Imajinasi Annisa menerawang, meliuk masuk ke dalam realitas kehidupan masyarakat nelayan. “Kita cenderung masih mengabaikan prinsip nilai hidup untuk  menjadikan laut sebagai penghubung pulau-pulau. Kita abai terhadap hakekat keilmuan dalam tradisi Bajau: setinggi angkasa, seluas cakrawala, se dalam dasar lautan. Suatu konsep kearifan yang mendasari akhlak terhadap alam, untuk memper­oleh nilai asasi keberadaan manusia atas alam,” ujar Annisa, mesra, sambil memeluk suaminya.

Hampir seluruh kehidupan nelayan yang memang karib dengan kehidupan mereka, seolah menyeruak. Di benaknya, seolah terekam begitu banyak tradisi kehidupan nelayan kita. Ketika ia ungkapkan, Hisam meresponnya dengan cendekia.

Annisa dan Hisam, seolah sedang masuk ke dalam kienangan masa bocah, saat keduanya kerap berada di dalam berbagai upacara tradisional nelayan dan masyarakat pesisir. Ekspresi budaya, yang selama ini lebih banyak dilihat hanya sebagai aksesoris kehidupan modern, belaka. “Kita abai terhadap nilai dasar upacara itu, sebagai ekspresi nelayan mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan melalui laut,” ujar Hisam.

Nelayan dan masyarakat pesisir, ketika berada di tengah upacara-upacara tradisional masyarakat nelayan, yang biasa kita sebut sebagai Pesta Laut, hanya dihambur ke upacara tradisi, bagian dari kemasan industri pariwisata belaka. Padahal di balik peristiwa, itu kita sesungguhnya sedang diberikan ruang pembelajaran untuk memelihara akhlak terhadap laut.

Aneka alasan dikemukakan oleh berbagai petinggi negeri, baik nasional maupun lokal. Annisa yang berasal dari Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, sepakat dengan Hisam yang berasal dari Bajo. Sambil senyum, dia memberi contoh ihwal upacara Maccera Tasi dan yang sejenisnya.  Tradisi masyarakat pantai Malili – Luwu Timur, ini berlangsung setiap tahun.

Lintas waktu yang panjang, seolah mendegradasi dimensi nilai adat dan tradisi upacara itu. Padahal, menurut Annisa, saat Maccera Tasi berlangsung, iring-iringan perahu berhias, bukan hanya sekadar menampilkan paradee nelayan melarung Sebbu Kati, sesaji, yang dibawa Pua Puawang (dukun laut) menuju Anggatungeng Ance’e, menara tempat meletakkan sesaji.

Ada makna tersembunyi, ketika perahu yang membawa Pua Puawang, tiba di Angngatungeng yang didirikan persis di titik temu habitat daratan dan habitat lautan, lalu bergerak berputar, laksana tawaf. Persisnya, setelah Pua Puawang didampingi seorang gadis yang belum akil baligh berpakaian adat meng­gantungkan Ance’e (berupa Kepala Kerbau) di menara.

Yaa.. ketika itu, Pua Puawang membacakan do’a, menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan berkah berupa hasil laut sebagai nikmat dan karunia. Do’a yang disebut mangngolii, itu juga mengantarkan harapan, agar Allah SWT berkenan me­limpahkan karunia-Nya, berupa kemudahan dalam mendapatkan hasil laut yang melimpah.

Do’a itu menarik perhatian Annisa, karena tak hanya memohon keberuntungan untuk mereka yang tinggal di teluk Bone saja. Do’a itu, memohon kepada Allah SWT, agar seluruh kawasan laut dari perairan Gorontalo, Ternate, Maluku, Tempotikka, Bima, Buton, Selayar, Bira, dilimpahi berkah, sehingga akan membawa rejeki hingga ke Luwu.

Rasa kebersamaan, persaudaraan, dan persahabatan dengan seluruh nelayan di luar Luwu Timur, mengalir di dalam do’a itu. Agar kemakmuran tidak hanya bagi diri sendiri, melainkan juga agar hubungan harmonis antar manusia yang berada di bawah langit dan dihubungkan oleh samodera atau lautan, dapat terjalin.

Upacara Maccera Tasi -- lepas dari masih kuatnya sinkretisma bu­daya yang melatari – memang menyediakan Massorong Sebbu Kati atau menyerahkan per­sembahan, yang diyakini akan beroleh sambutan dari aneka makhluk lain yang terdapat di lautan. Massorong Sebbu Kati, diawali dengan membuang kepala kerbau ke laut, diikuti sesajen lain: nasi ketan empat warna (sokko patanrupa) dengan sebutir telur di atasnya, dua ekor ayam, dan seperangkat alat pertanian: cangkul dan bajak, symbol perdamaian petani dan nelayan.  Juga disertakan sirih dan biji pinang, symbol kebersamaan dan kasih saying, serta kain putih yang melambangkan kebersihan dan kesucian.

Sekilas, kita menangkap adab terhadap laut ini, ditunjukkan oleh para nelayan, dengan meliburkan diri pada hari ketika upacara Maccera Tasi’ itu berlangsung. Pada hari itulah, Nelayan menyatakan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan kepada mereka, melalui laut.  Rasa syukur sebagai bagian dari adab itu, diwujudkan pula dengan tanpa henti melaku­kan pengabdian kepada Tuhan. Termasuk penyerahan diri untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan Tuhan. Karena itulah, Maccera Tasi’ berakhir bersamaan dengan terdengarnya azan di empat sudut Aggatungeng Ance’e.

Maccera Tasi’ yang sudah berlangsung sejak kerajaan Luwu berdiri, selalu berlangsung setiap tahun. Prosesi upacara dilakukan mulai dari peng­ambilan air suci (Mallekke’ Uwae dan Maddoja Roja) di tepi Sungai Cerekang di kaki bukit Panseu­meuni, yang disebut Turungeng Manurungnge. Lokasi yang diyakini sebagai tempat Pajung Luwu atau Raja Luwu pertama, Batara Guru, untuk per­tama kalinya menginjakkaan kaki di bumi. Tradisi semacam ini, juga berlaku di ber­bagai kawasan laut Indonesia. Di pantai Selatan Jawa, misalnya, yang dikenal dengan upacara Nadran, Larung Laut, untuk persembahan kepada Tuhan, sekaligus menghormati Nyi Roro Kidul.

Para nelayan di Aceh, sebagaimana bisa ditemukan di pantai Lam No dan lainnya, masih memegang teguh tradisi untuk tidak melaut pada hari Jum’at. Termasuk menyelenggarakan ber­bagai upacara yang dipimpin oleh Pang Laot, ter­masuk berdo’a setiap kali perahu yang baru dibuat, akan dilarung untuk melaut.  Tradisi ini pula yang kita saksikan di Bulukumba, Seram, Buton, Ternate, Tidore, Natuna, dan Orang Laut di per­airan riau.

Dalam tradisi masyarakat Melayu, adab ter­hadap laut dipelihara dengan berbagai cara, dan daripadanya, berkembang berbagai pemikiran filo­sofis, yang multi dimensional. Tidak hanya sebatas bagaimana mengarungi samodera dan laut untuk memenuhi kewajiban mata pencaharian. Melain­kan jauh lebih dari itu lagi, yakni filosofi dalam mengarungi kehidupan itu sendiri. | HM Fadhillah

Editor : Web Administrator | Sumber : foto-foto : kabarkami.com dan gitajuniarti.blogspot
 
Polhukam
05 Mei 26, 06:18 WIB | Dilihat : 151
Permusuhan kepada Pers Kian Menjadi
05 Mei 26, 05:24 WIB | Dilihat : 120
Angkatan Laut Iran Halau Kapal Amerika Serikat
01 Mei 26, 16:27 WIB | Dilihat : 229
Jurnalisme Tengah Dicekik
27 Apr 26, 01:51 WIB | Dilihat : 241
Trump Anggap Penyerangnya Preman Sakit
Selanjutnya
Seni & Hiburan
16 Nov 25, 10:19 WIB | Dilihat : 1031
Hazieq Rosebi Berjenaka dengan Nurlela
19 Nov 24, 08:29 WIB | Dilihat : 3129
Kanyaah Indung Bapak
Selanjutnya