Bahan Bakar Listrik-Hidrogen

Mencegah Gangguan Mental Anak Akibat Polusi

| dilihat 2280

AKARPADINEWS.COM | POLUSI udara kian menyelimuti keseharian manusia. Dampaknya tentu semakin dirasakan. Tak hanya memicu penyakit radang pernafasan dan kanker. Polusi udara juga sangat berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental anak.

Polusi udara itu berasal dari berbagai sumber, di antaranya dari pabrik-pabrik industri, pembakaran sampah dometik, kebakaran hutan, asap kendaraan bermotor, dan sebagainya. Di antara sumber polusi udara itu, yang paling sering dihirup banyak manusia, khususnya anak-anak, adalah polusi kendaraan bermotor.

Masalah itu yang menjadi perhatian sejumlah peneliti asal Swedia. Baru-baru ini, peneliti mengungkap, polusi udara ternyata tak hanya menganggu saluran pernafasan dan kanker pada manusia. Namun juga dapat menyebabkan gangguan mental dan pada akhirnya mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak.

Penelitian yang dipimpin oleh Anna Oudin dari Universitas Umea dilakukan kepada 500 ribu anak di Swedia. Peneliti membandingkan data kesehatan partisipan dan ruang lingkup lingkungan tumbuh kembangnya.

Hasilnya, sebagian besar dari partisipan itu ternyata membutuhkan obat penenang hingga antipsikotik agar dapat menjalani rutinitas dengan baik. Dari hasil penelitiannya, Oudin mengemukakan, semakin kecil polusi udara, semakin rendah potensi gangguan mental dan kejiwaan pada anak-anak.

Penelitian Oudin tersebut menjadi penyempurna temuan sebelumnya yang menyimpulkan polusi udara dapat menyebabkan seorang anak mengidap autis dan terhambatnya perkembangan daya tangkap anak saat belajar.

Bagi Prof Frank Kelly dari King College London, temuan itu sangat penting karena mengungkap bahaya baru polusi udara terhadap anak-anak. Apalagi, temuan itu berasal dari Swedia yang menurut Kelly, merupakan salah satu negara dengan intensitas polusi udara terendah dibandingkan negara lain.

“Swedia merupakan salah satu negara berpolusi udara rendah. Ini (penelitian Oudin dan koleganya) menunjukkan negara dan kota lain memiliki tantangan lebih besar terkait masalah itu (pengaruh kepada kesehatan mental anak),” ungkapnya.

Untuk itu, Kelly menyarankan, penanganan polusi udara harus lebih serius sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang udaranya bersih. Hal yang paling berbahaya bagi anak-anak ialah unsur nitrogen dioksida (No2) yang terkandung dalam berbagai jenis asap pembuangan. Mulai dari asap pabrik hingga pada kendaraan bermotor, khususnya kendaraan berbahan bakar diesel. No2 berbahaya, menurut Oudin, karena zat tersebut dapat masuk ke dalam tubuh manusia dengan sangat mudah, melalui saluran pernafasan dan kulit.

Bahan Bakar Energi Listrik

Pengaruh negatif asap kendaraan yang menggunakan basis bahan bakar fosil itu harus menjadi perhatian pabrikan otomotif untuk beralih kepada bahan bakar alternatif. Ada dua pilihan sumber bahan bakar alternatif untuk kendaraan dewasa ini, yakni listrik dan hidrogen.

Mobil berbahan bakar listrik dipercayai tidak mengandung polusi udara. Karena, pada sistem pengolahan daya energinya tidak menggunakan proses pembakaran zat, laiknya kendaraan berbahan bakar fosil. Selain itu, mobil listrik tidak memiliki kebutuhan menggunakan zat lain, seperti oli, untuk perawatan mesinnya. Perawatan mobil listrik lebih kepada peremajaan komponen listrik yang rumit dalam turbin mesinnya.

Selain itu, perawatan utama yang harus diperhatikan pada mobil listrik ialah pada keadaan baterainya. Bila baterai sudah mulai mengalami gangguan maka harus diganti dengan baterai baru. Hal itu menjadi satu kelebihan sekaligus kekurangan mobil listrik.

Di satu sisi, penggantian itu memang ringkas, tanpa menyebabkan kerusakan tambahan pada bagian mesin penggeraknya. Namun, di sisi lain, penggantian itu akan menyebabkan baterai lama menjadi tidak terpakai. Baterai itu akan menjadi limbah baru di tempat pembuangan sampah yang sulit untuk didaur ulang ataupun dimusnahkan.

Untuk industri otomotif listrik, boleh jadi Tesla kini yang tengah menjadi rajanya. Pasalnya, pabrikan mobil dari California, Amerika Serikat (AS) itu telah berhasil mengemas mobil listrik mentereng, melebihi ekspektasi khalayak. Mobil besutan Tesla secara sekilas tak ada bedanya dengan mobil bahan bakar fosil biasa.

Perbedaan fisiknya hanya terlihat dari tidak adanya knalpot pada mobil-mobil besutan Tesla. Keberhasilan Tesla itu dikarenakan keberaniannya mengemas mobil listrik dengan tampilan laiknya mobil sport mahal seperti mobil berbahan bakar bensin. Selain itu, Tesla berani tampil dengan teknologi paling canggih yang belum mampu dilakukan oleh pabrikan otomotif lainnya, yakni teknologi autopilot atau sistem berkendara otomatis.

Meski begitu, penggunaan baterai lithium ion pada mobil listrik Tesla masih memiliki beberapa masalah. Pertama, baterai itu dapat dengan mudah terbakar ketika mengalami benturan atau kerusakan. Hal itu dapat menyebabkan mobil sangat rentan terbakar bila terjadi kebarakan.

Kedua, baterai lithium ion masih memiliki kemungkinan memberikan polusi udara melalui radiasi saat penggunaan dan pengisian energinya. Radiasi itu dapat merusak organ tubuh manusia bila berdekatan dengan lithium ion dalam waktu yang lama. Selain itu, radiasi itu dapat menyebabkan mutasi genetika pada organisme organik di sekitarnya.

Untuk mengembangkan mobil listrik lebih ramah lingkungan, membutuhkan waktu yang lama. Diperlukan pengetahuan akan bahan materil pembungkus baterai sehingga radiasi tidak tersebar bebas ke luar mobil.

Bahan Bakar Hidrogen

Berbeda dengan Tesla, mayoritas pabrikan otomotif asal Jepang lebih fokus pada pengembangan kendaraan berbahan bakar hidrogen. Meski belum sampai pada tahap penjualan secara masif, berbagai pabrikan otomotif Jepang, seperti Nissan, Toyota, dan Honda, percaya bahwa kendaraan berbahan bakar hidrogen lebih ramah lingkungan daripada kendaraan listrik karena hidrogen terdapat dalam air dan udara. Bahan bakar hidrogen pun akan sangat didapatkan.

Walaupun unsur hidrogen terdapat dalam air dan udara, bukan berarti pengisian bahan bakarnya hanya memasukkan air ke dalam mesin. Sebab, hidrogen yang menjadi bahan bakar tersebut telah melalui proses ekstraksi zat yang cukup rumit.

Prosesnya melalui cara memisahkan unsur hidrogen dan oksigen dalam air. Untuk dapat memisahkan dua zat tersebut, air perlu dipanaskan melalui proses electrolysis. Hasil dari proses itulah hidrogen dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar kendaraan.

Namun, kendala utama para proses itu ialah teknologi yang ada saat ini belum dapat memproduksi hidrogen sebagai bahan bakar dalam jumlah yang masif. Karenanya, produksi mobil hidrogen belum mampu dilakukan dalam skala besar.

Pengabungan Energi Listrik-Hidrogen

Baik mobil listrik dan hidrogen, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk memaksimalkan kelebihan keduanya, pabrikan Mercedez-Benz mencoba inovasi baru, yakni menggabungkan dua teknologi itu menjadi satu. Hasilnya ialah Mercedez-Benz GLC F-Cell.

Mobil ini memadukan sistem bahan bakar listrik dengan hidrogen. GLC F-Cell dilengkapi dua tempat penyimpanan energi di dalamnya, baterai litihum ion, dan tangki penampungan hidrogen seberat 4 kilogram.

Untuk mengisi bahan bakar hidrogen dapat dilakukan melalui tempat pengisian yang terletak di bagian belakang sebelah kiri. Sedangkan untuk mengisi daya listrik dapat dilakukan pada soket listrik yang terletak pada bagian belakang sebelah kanan.

Meski dikatakan sebagai mobil inovasi penggabungan dua energi, untuk dapat bergerak, mobil ini masih menggunakan mekanisme sistem gerak laiknya mobil listrik. Dengan kata lain, bahan bakar hidrogen itu digunakan untuk memacu turbin elektrik yang menghasilkan daya kinetik pada kendaraan. Dengan daya penuh dari hidrogen dan daya listriknya, mobil ini dapat menjangkau 500 kilometer hingga pengisian bahan bakar selanjutnya.

Perpaduan energi listrik dan hidrogen pada kendaraan ini menjadikannya sebagai kendaraan terbersih yang ada saat ini. Karena, dengan hadirnya kemampuan untuk mengakomodir energi hidrogen, baterai lithium ion tidak akan terlalu terbebani. Sebab, terjadi pembagian konsentrasi tenaga dorong pada mesin sehingga menjadikan usia baterai itu jauh lebih lama dan lebih tahan benturan.

Kehadiran beragam kendaraan ramah lingkungan itu menunjukkan keseriusan pabrikan otomotif dunia untuk mengurangi polusi udara. Selain untuk mengurangi polusi udara, berbagai inovasi kendaraan itu merupakan jawaban pabrikan otomotif dunia akan kekhawatiran kehabisan sumber daya alam berbasis fosil yang tiap tahun semakin menipis.

Bila telah sempurna pengembangannya, berbagai kendaraan bebas polusi itu akan menjadi pilihan utama sebagai kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Dengan begitu, kadar polusi yang berbahaya bagi manusia, khususnya anak-anak, akan semakin berkurang.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : The Guardian/BMJ Open/Popular Science/Digital Trends/Technology Review
 
Seni & Hiburan
03 Mar 21, 06:38 WIB | Dilihat : 58
Industri Game Naik Saat Pandemi
01 Mar 21, 15:51 WIB | Dilihat : 83
Ode Buat Artidjo Alkotsar
09 Feb 21, 15:26 WIB | Dilihat : 182
Puisi Gus Nas Ihwal Pers sampai Bencana
Selanjutnya
Energi & Tambang