Toure Terancam Terdepak

| dilihat 1300

AKARPADINEWS.COM | HUBUNGAN Yaya Toure dan Josep ‘Pep’ Guardiola memiliki pengalaman yang tidak begitu baik. Kala masih bergabung bersama di Barcelona, Pep selalu mencadangkan pemain asal Pantai Gading tersebut. Dia lebih senang memilih Sergio Busquets. Lantaran itu, Toure pun memilih hengkang dan berlabuh di Manchester City pada tahun 2010.

Pilihan Toure itu ternyata berbuah manis. Sebab, bersama Manchester Biru, Toure berhasil meraih berbagai gelar juara, seperti juara Liga Premier Inggris musim 2011-2012 dan 2013-2014, FA Cup musim 2010-2011, Football League Cup musim 2013-2014 dan 2015-2016, dan FA Community Shields tahun 2012. Toure disebut-sebut sebagai pahlawan klub tersebut.

Tetapi, kedatangan Guardiola ke Etihad Stadium, mulai mengancam keberadaannya. Kejadian kala keduanya masih di Barca pun kembali terulang. Toure kembali tidak menjadi pemain favorit Pep. Dia hanya akan menghangatkan bangku cadangan. Pada babak play off Liga Champions Eropa 2016-2017, Toure tidak dimainkan oleh Pep.

Hal itu membuat agen Toure, Dimitri Seluk, gusar. Dia pun mengkritik Guardiola dan manajemen City lantaran tidak memasukkan Toure ke dalam tim yang berlaga di Liga Champions Eropa. Seluk merasa, pemain sekelas Toure tidak sepantasnya ditinggalkan, dan tidak berlaga di kompetisi sekelas Liga Champions Eropa.

Komentar-komentar miring Seluk itu pun ramai dibicarakan media. Guardiola pun geram. Dia pun mengatakan, ketidaksertaan Toure pada laga play off Liga Champions Eropa itu karena ada banyaknya pemain tengah berusia muda yang harus diberikan kesempatan bermain, seperti Fernandinho.

Guardiola pun meminta Seluk untuk meminta maaf kepada manajemen City, para pemain, dan fans atas perkataannya yang membuatnya marah tersebut. Bila tidak, Guardiola mengancam, tidak akan menurunkan Toure bermain sampai Seluk meminta maaf.

“(Toure) tidak akan saya mainkan sebelum dia (Seluk) meminta maaf secara terbuka, baik melalui wawancara media maupun membuat konferensi pers. Pertama, dia harus meminta maaf kepada (manajemen City), kedua kepada para pemain City, dan ketiga kepada fans. Setelah itu dilakukannya maka Yaya bisa kembali ke dalam tim,” tegas Guardiola.

Sebagai mantan pemain, Guardiola mengerti perasaan Seluk dan Toure. Hanya saja, tindakan yang diambil Seluk, dengan langsung mengumbar kekesalan kepada media, menurut Guardiola, adalah kesalahan.

“Saya mengerti benar bagaimana Seluk sangat menyayangi Yaya dan ingin dia bermain. Akan tetapi, tindakanya salah. Jika dia benar-benar sayang kepada Yaya, maka dia harus meminta maaf,” ujar pelatih berkepala plontos tersebut.

Menurut mantan pelatih Bayern Munich tersebut, bila Seluk merasa ada masalah dengan keputusan dirinya dan klub, seharusnya dia menelepon atau mendatanginya, bukan berbicara ke media.

Keputusan Guardiola itu kiranya akan berdampak pada performa tim dalam tiap laga, khususnya Liga Champions Eropa. Sebab, Toure merupakan pemain tengah yang cukup bisa diandalkan untuk menyambung alur penyerangan dari belakang ke depan.

Selama bersama The Citizen, Toure telah bermain sebanyak 265 laga pada seluruh kompetisi yang diikuti City. Dari sekian banyaknya laga itu, pemain berusia 33 tahun itu telah membubuhkan torehan 72 gol dan 42 umpan berbuah gol.

Statistik tersebut menunjukkan, Toure merupakan pemain tengah yang mampu menyerang dan mengumpan, meski bukan seorang playmaker. Toure dikenal juga sebagai pemain yang memiliki talenta dalam menggiring bola.

Sebagai penggiring bola yang handal, pemain bernomor punggung 42 itu bukanlah tipe pemain yang sering berakrobat bola. Kehandalannya mengolah bola justru ada pada keseimbangan dan tenaga yang dimilikinya sehingga kadang menyulitkan pemain lawan.

Toure pun memiliki visi bermain yang amat baik. Dia tahu kapan harus melesakkan tendangan bertenaganya untuk mencetak angka. Meski begitu, akurasi tendangannya tidak sebaik visi bermainnya. Ada kalanya, dia baru bisa menjebol gawang lawan setelah beberapa kali melakukan tendangan.

Stamina Toure pun tak perlu dipertanyakan. Di usianya yang tak lagi muda, Toure masih sanggup bermain penuh tanpa menunjukkan penurunan kualitas permainan kala berlaga.

Meski begitu, Toure mempunyai kelemahan pada cara menghentikan lawannya. Tackle-tackle yang dilancarkan Toure kerap berbahaya dan berpotensi membuahkan kartu. Hal ini kerap dimanfaatkan lawan-lawannya untuk dapat menyingkirkannya dari lapangan dengan jebakan diving agar Toure terkena ganjaran kartu merah atau kuning. Dengan kualitas yang cukup mumpuni, City akan sangat kesulitan menghadapi lawannya tanpa Toure.

Terkait ancaman Guardiola itu, Seluk tidak merespons. Bahkan, agen Toure sejak remaja itu justru menantang Guardiola melalui komentar-komentar negatifnya. “Jika Pep Guardiola inginkan perang, maka itu yang akan dia dapatkan. Pep tak terima dengan komentar saya? Apa sebenarnya yang dia inginkan dari saya setelah dia memperlakukan Yaya seperti ini?” cetusnya.

Seluk menilai, Toure adalah pemain yang berhasil menorehkan sejarah di Etihad Stadium dengan deretan trofi yang dipersembahkannya. Menurutnya, apa yang dilakukannya adalah hal wajar karena dia peduli dengan nasib Toure.

Seluk berpendapat, Guardiola hanya menginginkan pemain yang menuruti kemauannya saja, bukan pemain yang memiliki karakter. “Pep tidak menginginkan pemain berkarakter dan berpengaruh terhadap timnya. Hal itu terlihat jelas sejak dia pertama menginjakkan kaki ke Manchester City. Dia menyingkirkan dua pemain besar City, yaitu Joe Hart dan Yaya,” ungkapnya.

Dua pemain yang disebutkannya itu tidak layak mendapat perlakuan seperti yang Guardiola lakukan. “Hart adalah kiper utama inggris dan Toure pernah mendapatkan predikat Pemain Afrika Terbaik tahun 2011. Keduanya punya karakter dan memiliki pengaruh atas teman-teman satu timnya. Sepantasnya, ketika kamu masuk ke rumah orang lain hal yang harus dilakukan ialah menghormati penghuni lamanya. Bukan mengusirnya,” cetus Seluk.

Apa yang dilakukan Guardiola terhadap Hart dan Toure saat ini, menurut Seluk, sama seperti yang dilakukannya kala di Barcelona, yakni mengusir Samuel Eto’o dan Zlatan Ibrahimovic. Guardiola, menurutnya, memaksa keduanya untuk pergi agar perhatian tim hanya tertuju padanya.

Perihal permintaan maaf, Seluk mengatakan, tak menutup kemungkinan akan hal itu. Hanya saja, dia ingin Guardiola melakukan hal yang sama pada Manuel Pellegrini dan Hart. Sebab, baginya, apa yang dilakukannya pada Pellegrini sungguh kurang ajar.

“Dia (Guardiola) harusnya meminta maaf kepada Pellegrini. Dia mengambil pekerjaannya pada saat Pellegrini tengah berusaha keras untuk memperjuangkan gelar juara. Seharusnya, sesama kolega seprofesi, (Guardiola) harus menghormati posisi pelatih lainnya. Apalagi ini di Inggris, negara yang dikenal menjunjung tinggi sikap gentleman,” ujarnya.

Bagi Seluk, Guardiola bukan pelatih hebat. Sebab, dia hanya ingin melatih tim-tim yang sudah mapan. Ketika di Barcelona, tim yang didapatkannya sudah sangat matang dan itu hasil kerja keras Frank Rijkaard. Ditambah, lahirnya pemain bertalenta Lionel Messi di sana membuat Barca lebih garang.

Hal yang sama kala membesut Bayern Munich. Seluk berpendapat, Munich merupakan tim solid dengan sistem yang sudah sangat apik. “Dia tidak mungkin gagal di sana (Munich) karena mereka sudah memiliki sistem permainan yang cukup bagus. Bila kakek saya diminta melatih di sana, sudah barang tentu akan meraih juara liga,” kata Seluk.

Seluk menantang balik, bila Guardiola merasa dirinya pelatih hebat, hendaknya memilih tim kecil atau menengah dan menjadikannya juara. Bagi Seluk, Guardiola tidak bisa seperti Claudio Ranieri yang mampu membawa Leicester City menjadi juara atau Mauricio Pochettino yang berhasil membuat Tottenham Hotspur menjadi tim hebat seperti saat ini.

Perseteruan antara Guardiola dengan Seluk nampaknya belum akan selesai dalam waktu dekat. Sebab, keduanya sudah sulit duduk bersama guna menyelesaikan masalah. Tentu, semakin panjang masalah, semakin berdampak pada Toure. Dia kemungkinan jarang bermain di musim ini.

Bila Toure tidak memiliki jam bermain yang cukup di musim ini, bukan tidak mungkin kualitas permainannya bisa menurun. Apalagi, usianya yang sudah kepala tiga, sangat butuh turun gelanggang untuk dapat menjaga kondisi dan kualitas permainannya.

Sebagai salah satu pemain berpengaruh di City, tidak bermainnya Toure akan mempengaruhi mentalitas tim utama. Hal itu akan merugikan City yang ingin mengincar gelar juara Liga Premier Inggris dan Liga Champions Eropa musim ini.

Bila keadaan ini terus bertahan, bisa jadi Toure akan hengkang dari Etihad Stadium. Tetapi, pria kelahiran 13 Mei 1983 itu tidak ingin keluar dari Liga Premier Inggris. Baginya, atmosfer kompetisi di liga tersebut cukup kompetitif dan mampu membuatnya terus mempertahankan kualitas permainannya. | Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : The Guardian/Daily Mail/Who Scored/Quora/Goal/Statbungker
 
Lingkungan
27 Sep 21, 12:15 WIB | Dilihat : 309
Selamatkan Kebun Raya Bogor
10 Sep 21, 14:55 WIB | Dilihat : 165
Ida Mengamuk Sejumlah Kota Amerika Serikat Berantakan
01 Agt 21, 09:31 WIB | Dilihat : 163
Membaca Sinyal Presiden Joe Biden tentang Jakarta
Selanjutnya
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 115
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 243
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 205
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 566
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya