Dedy Irianto

Ikhtiar Mendidik Pegolf Junior

| dilihat 3958

AKARPADINEWS.COM | KECINTAAN Dedy Irianto pada olahraga golf tumbuh saat kali pertama menginjak kaki di lapangan golf tahun 1993. Kala itu, sebagian khalayak menganggap golf adalah olahraga kalangan elit. Padahal, tidak seperti yang dibayangkan. 

Dedy mengenal olahraga itu dari kawan-kawan di kampusnya, ketika masih menempuh pendidikan master dalam bidang keuangan di Oklahoma, Amerika Serikat (AS). Dedy pun makin serius menekuni golf sejak tahun 2001. Dia sering bermain golf bersama rekan kerjanya di Bank Indonesia (BI) yang saat ini memiliki komunitas golf internal. “Saya merasa golf itu penting” ungkap Assistant Director, Media Relation and Opinion Maker Division Communication Department Bank Indonesia (BI) ketika diwawancarai Akarpadinews di Bellagio Mall, Kuningan, Jakarta berapa waktu lalu. 

Baginya, bermain golf serupa dengan filosofi hidup (game of life philosophy). Golf tidak hanya sekedar olahraga di ruang terbuka hijau yang indah dan hanya mengandalkan kemampuan fisik maupun skill yang tinggi. Namun, golf juga memiliki dimensi filosofis yakni tentang pandangan hidup, visi dan misi, hingga metode yang digunakan.

Contohnya, golf mengajarkan tentang strategi permainan, sekaligus mengajarkan seorang pegolf dapat menaklukan diri sendiri dengan kesabaran, kontrol, perhitungan, kecerdasan hingga insting yang kuat saat bermain.

Bermain golf melatih kesabaran seperti melewati 18 hole (lubang). Pegolf juga harus fokus ketika memukul bola, dengan harapan bola mengelinding, hingga akhirnya masuk ke lubang. Golf mengajarkan cara-cara meniti kesuksesan, dengan ketekunan kesabaran, dan pantang menyerah. Golf juga menekankan pentingnya aturan main yang harus ditaati.

 “Ketika bermain, golf dapat melatih kejujuran dan pengendalian diri, bahkan membaca kejujuran teman bermain,” tuturnya. Golf merefleksikan, jika sebenarnya tak ada lawan yang terkuat, kecuali menaklukan diri sendiri dengan kesebaran, ketekunan, dan pantang menyerah.

Selama ini, sebagian khalayak tidak memahami betul filosofi golf itu. Bahkan, yang muncul malah persepsi negatif tentang golf. Selain masih dianggap sebagai olahraga yang menguras isi kantong, golf juga dianggap sebagai ajang transaksi bisnis, berjudi, hingga hal-hal yang dikabarkan negatif terkait caddy atau caddie, perempuan cantik dan seksi.

Padahal, keberadaan caddy adalah untuk membantu pegolf, membawa tas berisi peralatan golf, memberi saran tentang permainan, hingga dukungan moral kepada pegolf yang dilayaninya “Mindset itu harus diubah,” tegas Dedy.

Memang, munculnya anggapan jika golf sebagai olahraga bagi kalangan berduit tidak terlepas dari realitas penggemarnya yang sebagian besar merupakan kaum elit seperti pengusaha atau pejabat. Golf pun golf dianggap sebagai bagian dari gaya hidup.

Bagi Dedy, golf tidak sekedar olahraga, hobi atau prestise semata. Namun, dia merasa penting untuk memajukan golf dengan filosofi dan nilai positifnya. Caranya, diawali dengan menanamkan kecintaan pada permainan golf dari keluarga.

Ayah dari tiga anak ini mulai memperkenalkan golf pada puteranya, Naufal, yang sudah diajaknya turun ke lapangan golf sejak usia 4,5 tahun. Hingga akhirnya, sang putera yang saat ini menginjak usia 19 tahun, menuai prestasi yang membanggakan dalam kejuraan golf.

Naufal berhasil memenangkan tiga kejuaraan yang mewakili kampusnya, Universitas Indonesia (UI) saat Liga Antar Mahasiswa se-Indonesia yang digelar tahun 2015 lalu. Naufal dinilai pegolf yang memiliki jarak memukul paling jauh. Dia juga meraih penghargaan UI sebagai Juara Kedua antar liga mahasiswa.

Tidak hanya sukses menurunkan kecintaan golf di keluarga, Dedy pun aktif berkecimpung di organisasi golf dan pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Humas Pengurus Besar Persatuan Golf Indonesia (PGI) dengan mengirim pengolf junior untuk mengikuti turnamen internasional pada tahun 2004.

Dedy pun turut mendirikan Indonesian Junior Golf Community (IJGC) di tahun 2001. Sayang, IJGC vakum setelah empat tahun berdiri karena kurangnya dukungan dari berbagai stakeholder. Hal itu sangat disayangkan, karena di negara-negara maju, golf sudah berkembang menjadi industri.

Menurut Dedy, IJGC yang didirikannya bersama orang tua pengolf junior senior, tak lain untuk mencari bibit-bibit unggul yang bisa mewakili Indonesia di ajang kompetisi golf domestik maupun internasional. Pegolf junior merupakan anak-anak dari orang tua yang bermain golf dan anak dari para pegawai golf yang rasa percaya dirinya kurang karena kondisi keluarganya yang tidak mampu secara ekonomi.

Dedy berkeinginan merangkul mereka agar tidak hanya piawai di lapangan, namun juga di bidang pendidikan. Karenanya, dibutuhkan dukungan dan perhatian dari pemerintah, pengusaha, dan masyarakat umumnya.

Bagi anak-anak dan remaja, golf sangat penting untuk melatih kepribadian, mendidik mereka agar melakukan sesuatu yang sifatnya positif sesuai dengan filosofi golf. Termasuk, mengajarkan anak-anak dan remaja agar mampu berbahasa Inggris karena istilah golf menggunakan bahasa Inggris.

“Golf sangat penting untuk melatih kemampuan berbahasa, bergaul, hingga kepercayaan diri. Golf dapat meningkatkan kapabilitas dalam berbagai hal,” ucapnya. Dengan mengajarkan berbagai hal yang positif, Dedy percaya, anak-anak dan remaja yang menekuni golf, akan sukses dalam meraih masa depan.

ICGC yang vakum, tak menyurutkan Dedy untuk terus mengembangkan golf. Saat ini, dia mengelola situs www.agolf.co.id yang dibuatnya pada 29 Februari 2016. Tujuannya, agar menjadi media informasi kepada khalayak tentang olahraga golf baik di lingkup nasional maupun internasional.

Dedy berharap, media tersebut akan kembali menjembatani golf dengan anak-anak muda. Media itu diharapkan dapat men-support anak-anak dan remaja agar menjadi pegolf profesional. “Mimpi saya, melahirkan anak-anak muda yang dapat kami didik dari sekolah, hingga atlet yang menjuarai (turnamen) golf," harap Dedy.   

Ratu Selvi Agnesia

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 284
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 232
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 175
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 249
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Humaniora
13 Okt 21, 09:25 WIB | Dilihat : 203
Pendekar Mabuk di Tengah Coronastrope
05 Okt 21, 16:00 WIB | Dilihat : 323
Penista Nabi Muhammad Mati Dilahap Truk
03 Sep 21, 12:31 WIB | Dilihat : 213
Membaca Tantangan Abad 21 dan Hegemoni Pendidikan Global
20 Agt 21, 09:28 WIB | Dilihat : 581
Politik Kematian Simbol Kediktatoran
Selanjutnya