Pacman vs Mayweather

Duel Mega Bintang yang Membosankan

| dilihat 2496

AKARPADINEWS.COM | MATA dunia baru saja mengarah pada pertandingan tinju spektakuler abad ini. Floyd The Money Mayweather Jr, berhasil mengalahkan petinju hebat berdarah Filipina, Manny Pacquaio, Minggu (2/5). Meski Mayweather menang, namun gelaran adu jotos termahal sepanjang sejarah tinju dunia itu, berakhir antiklimaks.

Awalnya, banyak ekspektasi, sensasi, hingga kontroversi yang menjadikan pertandingan ini diperkirakan bakal bergairah. Mulai perang urat syaraf kedua petinju di sosial media, harga tiket yang fantastis, beberapa kali insiden penundaan pertandingan, sampai peran bandar judi dan beragam kicau artis Hollywood membuat gelaran ini makin memanas.

Apalagi, jika dilihat dari prestasi, lingkup tinju dunia saat ini hanya menyisakan nama mereka saja. Mereka berdua telah mengalahkan nama-nama besar lain seperti Oscar De La Hoya, Shane Mosley, Marco Antonio Barrera, Juan Manuel Marquez, Erik Morales, Ricky Hatton, dan Miguel Cotto.

Pertandingan ini berakhir dengan 12 ronde. Tiga juri memberi kemenangan kepada Mayweather, yakni 118-110, 116-112, dan 116-112. Hasil ini membuat Mayweather mampu mempertahankan gelar tak terkalahkan miliknya. Dialah raja tinju dunia yang masih berdiri di kasta tertinggi kelas welter WBA, WBC, dan WBO.

Namun, gemerlap pertandingan kedua petinju hebat ini menjadi meredup. Karena pertandingan berlangsung membosankan. Tak ada darah yang mengucur dari pelipis atau hidung kedua petinju. Minimnya jual beli pukulan diperagakan oleh kedua petinju yang berlaga di MGM Grand Garden Arena, Las Vegas. Dua ronde awal berjalan dengan tempo lambat. Masing-masing petinju sama-sama tampil penuh hati-hati. Tak ada pukulan berarti yang berhasil dilancarkan.

Baru setelah ronde keempat Pacquiao mengambil insiatif serangan. Seperti karakter permainannya yang agresif, Pacquaio mulai melepaskan beberapa pukulan jab yang mengarah ke wajah lawannya. Namun, Mayweather tetap menjaga jarak. Ia pun berkelit dengan cepat saat menerima pukulan lawan. Setiap kali Pacquiao membawa Mayweater ke sudut ring, penonton bersorak-sorai, berharap ada jual beli pukulan.

Ronde selanjutnya, pertandingan didominasi banyaknya inisiatif serangan Pacquaio ketimbang serangan dari Mayweather. The Money, sangat lihai berkelit dan kerap menunjukkan double cover andalannya. Bahkan, mayoritas penonton di arena cenderung mendukung Pacquaio. Tak lain karena permainan attack Pacquaio lebih seru ketimbang permainan defensif Mayweather. Dampaknya, gemuruh penonton di MGM Arena dihiasi pekik “Manny, Manny, Manny!”

Meskipun ronde kelima Mayweather sempat mendaratkan straight tepat di wajah Pacquiao, tetap saja, ronde berikutnya Mayweather masih bermain secara defensif. Inilah yang menyebabkan pertandingan berjuluk Fight of The Century menjadi anti-klimaks. Tidak ada jual beli pukulan yang menegangkan. Pacquaio seperti frustasi dengan pertahanan super Mayweather, dan The Money berhasil memanfaatkan hal itu dengan counter attack yang cukup efektif.

Hingga ronde terakhir, kedua petinju tetap menyuguhkan ritme pertandingan yang sama. Bahkan, harapan penonton akan adanya pukulan-pukulan hebat dari kedua petinju menjadi sirna. Karena hingga pertandingan berakhir, sama sekali tidak ada jual beli pukulan di antara kedua petinju ini. Singkatnya, pertandingan tidak memberi ketegangan dan keseruan apapun kepada penonton.

Jadi, bagaimana menikmati pertandingan spektakuler ketika Anda dihadapkan pada permainan yang monoton? Bagi petinju sekelas mereka, sepertinya tidak layak jika pertandingan ini dilabeli sebagai Fight of The Century. Alasannya satu, sangat susah menemukan keseruan akibat minimnya jual beli serangan. Apalagi, salah satu petinju hanya tampil berkelit dan bertahan.

Mayweather adalah petinju glamor dan kaya raya. Ia dikelilingi promotor dan sponsor yang berebut untuk menginvestasikan uang di setiap pertandingannya. Ia menjadi atlet terkaya dunia 2014 versi Forbes dengan penghasilan 105 juta dolar per tahunnya atau setara Rp1,2 triliun. Namun, hal fantastis itu terjungkal oleh kesan “penakut” dirinya di pertandingan ini.

Bahkan, Pacquaio merasa dia layak memenangkan pertandingan. “Ini pertarungan yang bagus. Saya merasa menang. Dia tidak melakukan apapun. Dia cuma berkelit,” ujarnya dengan tenang saat berbicara di atas ring usai pertandingan.

Pacquaio menambahkan, “Saya bisa mengatasi kekuatan dia. Ternyata dia tidak sekuat lawan-lawanku yang lain. Ini bukan soal ukuran. Saya sering menghadapi petinju yang lebih besar dibandingkan dia, dan itu bukanlah masalah."

Sebelum pertandingan ini dihelat, permainan monoton Mayweather sebenarnya sudah bisa diprediksi. Seperti anggapan Oscar De La Hoya, petinju legendaris asal Mexico ini menyebut The Money sanggup menjungkalkan Pacquaio dengan kecerdikannya di atas ring. Ia menyebut The Money sebagai boxer bukan fighter.

Ia bukan seorang yang ganas, bukan senang menghabisi lawannya hingga tak bersisa. Namun, ia lebih pintar dan lebih pandai menghitung tinggi dan jangkauan lawan,” ujarnya kepada The Guardian.

Anggapan De La Hoya soal kecerdikan Mayweather di atas jelas terlihat pada pertandingan ini. Mayweather sangat cerdik memanfaatkan ciri permainan agresif, postur, dan jangkauan Pacquiao dengan permainan defensif dan counter attack miliknya.

Alhasil, Mayweather dengan cerdiknya berkelit, menutup celah, bahkan setengah berlari untuk menghindari perlawanan agresif Paqcuaio. Saat Pacman (julukan Pacquaio) tiba pada kondisi frustasi, barulah Mayweather melakukan counter attack berupa jab-jab yang diarahkan ke wajah Pacquaio.

Selain De La Hoya, mantan petinju kelas berat Lennox Lewis juga mengamati jalannya petandingan melalui akun twitter pribadinya. Bahkan, menjelang ronde-ronde terakhir, ia menyebut Pacman sulit memenangkan pertandingan karena gagal meruntuhkan tembok pertahanan Mayweather. "Jika kamu tidak mampu 'menangkapnya,' maka kamu tidak akan bisa memukulnya," tulis petinju asal Inggris ini.

Fight of The Century dan Gemerlap Uang

Dilihat dari hasil adu jotos Maywather versus Pacquiao ini, tentu pertandingan itu telah melahirkan kekecewaan bagi masyarakat tinju dunia. Karena tidak ada ketegangan akibat tidak adanya kualitas jual beli pukulan di atas ring. Namun, bagi petinju dan dunia hiburan yang berdiri di belakangnya, pertandingan ini adalah bisnis paling menggiurkan.

Dari pertandingan ini, Mayweather akan mengantongi sekitar £90 juta atau setara dengan Rp1,8 triyun, dan Pacquiao membawa pulang £60 juta atau Rp1,2 triliun. Pertandingan ini juga menghasilkan banyak sekali uang. Karena para penggemar tinju harus membayar sekitar US$100 atau setara Rp1,3 juta untuk menyaksikannya. Diperkirakan, Mayweather-Pacquiao juga akan memecahkan rekor siaran TV sekali tonton (pay-per-view).

Saat ini, rekor kontrak pembelian pay-per-view dipegang oleh pertandingan Mayweather versus De la Hoya pada tahun 2007 lalu sebesar US$2,5 juta. Sedangkan rekor keuntungan pay-per-view ada pada pertandingan Mayweather versus Saúl Alvarez pada 2013 lalu sebesar US$ 152 juta. Sebuah nilai fantastis.

Selain keuntungan yang diraih melalui pay-per-view, tentu gedung MGM Arena juga mendapat kucuran uang. Pengelola gedung bisa meraih pendapatan sekitar US$74, tiga kali lipat dari rekor pendapatan yang pernah diraih sebelumnya. Bahkan, hegemoni ini melebihi pertandingan final American Football atau Super Bowl yang ditonton sekitar 70.000 orang.

Berdasarkan analisa BBC, transaksi tiket di pasar sekunder bisa mencapai enam digit, dan sebagian uang penjualan tiket kemungkinan juga mengalir ke kantong para petinju. Dengan uang hasil dari siaran TV asing, sponsor, dan cendera mata, mungkin bisa ditemukan angka dua kali lipat GDP dari sebuah negara Kiribati di Pasifik.

Lalu, dari semua nilai komersial fantastis di atas, siapakah yang paling pantas mendapatkannya? Mayweather bisa dikatakan tidak terlalu pantas untuk itu semua. Karena, merujuk pada data Forbes, saat ini ia kekayaannya telah mencapai US$295 juta, setara Rp3,8 triliun. Dan, ia akan mendapat US$105 juta atau Rp1,35 triliun lagi pada tahun ini.

Dibandingkan dengan Mayweather, kekayaan Pacquiao relatif lebih rendah dengan US$110 juta, setara dengan Rp1,4 triliun. Selama 19 tahun bertinju, Mayweather memiliki kekayaan lebih dari US$400 juta atau Rp5,1 triliun. Sementara, karir Pacquiao dalam dua dekade terakhir hanya mendatangkan uang sebatas US$263 juta atau setara Rp3,4 triliun.

Selain itu, Mayweather memiliki sebuah mansion atau istana di Las Vegas, dan ia juga punya satu rumah di Miami. Selain rumah, ia juga memiliki dua koleksi mobil mewah Bugatti. Masing-masing Bugatti itu berharga lebih dari satu juta dolar atau sekitar Rp13 miliar. Dan, ia juga punya satu pesawat jet pribadi.

Mayweather merupakan petinju flamboyan Amerika Serikat abad ini. Ia menggambarkan seseorang yang mempunyai kehebatan, kemapanan, kemewahan, dan kesombongan. Sementara Pacquiao, ia datang dari timur jauh, sebuah negara bernama Filipina. Ia menggambarkan kesederhanaan, rendah hati, kerja keras, dan perjuangan.

Jadi, pertandingan ini bagai sebuah cerita dongeng. Seorang Mayweather seperti raksasa yang telah lama berkuasa. Ia melawan liliput seperti Pacquaio yang merangkak dari dunia bawah tanah. Namun, seperti yang dilihat jutaan mata penggemar olahraga tinju dunia, tetap saja, sang raksasa melumat liliput dengan cara yang membosankan.

Adhimas Faisal

Editor : M. Yamin Panca Setia
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 516
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2338
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Lingkungan
27 Okt 22, 16:32 WIB | Dilihat : 159
Bukan Cuma Jual Kavling.. Men
30 Sep 22, 14:44 WIB | Dilihat : 248
Banten Al Muktabar
09 Jun 22, 11:39 WIB | Dilihat : 261
Bincang Keseimbangan Semesta di Tepian Tasik Putrajaya
Selanjutnya