Berebut Posisi Bos FIFA

| dilihat 1865

AKARPADINEWS.COM | FEDERASI Sepak Bola Dunia (FIFA) sudah mengumumkan lima kandidat calon untuk menduduki puncak pimpinan organisasi sepakbola tersebut. Kelima kandidat itu ialah Pangeran Ali bin al-Hussein dari Yordania, Jerome Champagne dari Perancis, Gianni Infantino dari Italia, Tokyo Sexwale dari Afrika Selatan, dan Syekh Salman bin Ebrahim al-Khalifa dari Bahrain.

Kelima kandidat itu harus berlomba untuk menarik simpatik agar dapat memenangi perolehan suara yang akan dilakukan pada 26 Febuari 2016. Pemilihan presiden FIFA ini dilaksanakan karena Presiden FIFA sebelumnya, Sepp Blater, mengundurkan diri setelah tersandung dugaan korupsi di tubuh FIFA. Dari kelima kandidat itu, hanya Sexwale yang belum berkecimpung langsung di dunia sepakbola. Sementara kandidat yang lain, pernah menduduki jabatan struktural di FIFA dan berprofesi sebagai konsultan sepakbola.

Syekh Salman dan Infantino disebut-sebut sebagai kandidat terkuat. Syekh Salman saat ini menjabat sebagai Presiden Asosiasi Sepakbola Asia (AFC) dan Wakil Presiden FIFA. Sebelumnya, pria berusia 50 tahun ini juga pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Sepakbola Bahrain. Salman dianggap memiliki pengalaman mumpuni untuk menjalankan roda organisasi FIFA ke depannya.

Terlebih, dirinya sudah mendapat dukungan penuh dari negara-negara di Asia dan sebagian negara di kawasan Afrika. Untuk memuluskan langkahnya menjadi orang nomor satu di FIFA, Salman berjanji, bila terpilih, dirinya akan menarik mantan pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson, sebagai salah satu bagian dari dewan penasehat FIFA.

Selain itu, Salman mengumbar janji akan menarik Richard Scudamore, Executive Chairman Liga Premier Inggris, sebagai sekertaris jenderal dalam kabinetnya kelak. Baginya, Scudammore sudah melakukan kerja yang bagus atas perkembangan Liga Premier Inggris.

“Dia sudah melakukan hal yang terbaik di Liga Premier Inggris. Dan kelak (setelah terpilih) saya akan memilih orang-orang mumpuni (seperti Scudamore) untuk memegang tanggung jawab,” ujarnya dilansir dari The Guardian, Senin (25/1).

Ferguson dan Scudamore, menurut Salman, merupakan sosok berpengalaman dan memiliki kepribadian yang baik. “Mereka berpengalaman dan berkepribadian yang baik. Semua orang menyukai dan menghormati apa yang telah mereka perbuat (di dunia sepakbola),” ungkap Syekh Salman. Selain kedua orang itu, Salman akan mengajak sosok-sosok profesional yang ada di seluruh dunia untuk bekerja sama memajukan FIFA ke depannya.

Janji Salman tak berhenti sampai di situ. Kelak bila terpilih, Salman pun berjanji untuk memisah “bisnis” dan “sepakbola” saat menjalankan FIFA. Menurutnya, Presiden FIFA tidak akan seperti mengatur organisasi sendirian melainkan pembagian tugas secara merata dan tidak menyebabkan tumpang tindih tugas.

Meski demikian, pencalonan Salman menuai kritik pedas dari aktivis hak asasi manusia (HAM) di Bahrain karena dirinya diduga terlibat kasus penangkapan dan penyiksaan beberapa atlet Bahrain saat demonstrasi pro demokrasi pada tahun 2011. Salman diduga memberikan bocoran nama-nama atlet yang ikut dalam demonstrasi tersebut kepada Pemerintahan Bahrain.

Kandidat terkuat yang digadang-gadang dapat menjadi batu sandungan Salman ialah Infantino. Pria berusia 45 tahun itu masih menjabat sebagai Sekertaris Jenderal Federasi Sepakbola Eropa (UEFA). Dia menduduki jabatan ini sudah sejak tahun 2009.

Pencalonan dirinya mendapat dukungan penuh dari UEFA sebagai upaya untuk membersihkan nama FIFA dari stigma organisasi korup yang kini melekat. Infantino mendapat gelontoran dana 500 ribu Euro dari UEFA sebagai modal awalnya untuk bertarung menjadi Presiden FIFA dan bukti keseriusan eropa mendukungnya.

Salah satu pendukung utama Infantino ialah Federasi Sepakbola Jerman (DFB) untuk menduduki kursi Presiden FIFA. Reinhard Rauball, Co-PresidenDFB, mengatakan, Infantino merupakan calon kandidat dari Eropa yang memiliki kualitas paling baik untuk memimpin FIFA.

“Melalui pekerjaannya sebagai Sekertaris Jenderal UEFA, dia memahami persoalan sepakbola dari segala aspek. Selain itu, dia koneksi internasional yang luar biasa dan menguasai enam bahasa asing. Dengan segala kualitas dan pengalaman yang dimilikinya, dia memiliki kapabilitas untuk melakukan perubahan dan menjawab tantangan yang akan dihadapi (FIFA) nantinya,” ujar Rauball. Dukungan DFB dipercaya mampu menarik suara untuk Infantino karena organisasi tersebut merupakan salah satu federasi sepakbola raksasa yang berpengaruh di dunia.

Selain mendapat dukungan dari DFB, Infantino juga mendapat dukungan dari federasi sepakbola Amerika Tengah (Uncaf). Infantino, yang juga memiliki kewarganegaraan Swiss, mendapat dukungan penuh dari federasi sepakbola Kosta Rika, El Salvador, Honduras, Panama, Guatemala, Belize, dan Nikaragua, termasuk juga Presiden Uncaf, Rafael Tinocco.

Syekh Salman dan Infantino memang dijagokan untuk menjadi pimpinan FIFA. Namun, kandidat lainnya tidak ikut dalam perlombaan untuk kalah sebelum berperang. Pangeran Ali juga memiliki kans untuk menyodok kedua kandidat itu. Karena, Pangeran Ali, mantan wakil Presiden FIFA, telah melakukan beberapa perubahan pada tubuh FIFA. Dia tercatat sebagai otak dibalik diizinkannya penggunaan hijab pada pertandingan sepakbola perempuan resmi internasional FIFA.

Selain itu, Pangeran Ali merupakan pendiri federasi sepakbola Asia Barat (WAFF) pada tahun 2001 dan juga didapuk sebagai presidennya. Pada pemilihan Presiden FIFA tahun lalu, Pangeran Ali merupakan satu-satunya lawan bagi Sepp Blatter untuk menduduki tahta Presiden FIFA, meski dirinya akhirnya mengundurkan diri pada pemungutan suara putaran kedua.

Pada surat yang dikirimkannya kepada 209 sekertaris jenderal federasi sepakbola anggota FIFA, Pangeran Ali menuliskan, dirinya amat mengerti kondisi yang dialami FIFA pasca terkuaknya kasus korupsi di dalamnya. Dia mengutarakan, krisis yang terjadi pada tubuh FIFA merupakan krisis kepemimpinan yang seharusnya tidak mengorbankan semangat para pecinta sepakbola dunia.

Dirinya yakin, apa yang menimpa FIFA hanya disebabkan segelintir oknum dan bukan salah organisasi. “Saya percaya dengan organisasi ini dan saya yakin kita dapat mengembalikan organisasi ini kembali berjaya bersama-sama,” tulisnya.

Kandidat Champagne juga menunjukkan perjuangannya untuk menjadi Presiden FIFA. Dalam surat yang dia tulis untuk federasi sepakbola anggota FIFA, pria asal Perancis itu menilai, perlu perubahan besar untuk menyelamatkan FIFA sebagai sebuah organisasi sepakbola dunia. “Kita harus mengembalikan kredibilitas FIFA dan mempersiapkannya untuk menghadapi tantangan di dunia yang terus berevolusi,” ungkapnya dalam surat.

Pria berusia 57 tahun itu pun mengemukakan beberapa program-program unggulan dalam suratnya. Program-program itu di antaranya mengedepankan transparansi pada penyelenggaraan organisasi dan mendorong perkembangan negara-negara berkembang di bawah FIFA. Selain itu, Champagne ingin meningkatkan kualitas sepakbola perempuan agar memiliki level dan prestise sama seperti sepakbola pria.

Untuk maju sebagai kandidat, Champagne bermodalkan pengalamannya sebagai konsultan sepakbola dunia dan Direktur Hubungan Internasional FIFA (2007-2010). Selain itu, dia mengantongi dukungan penuh dari legenda hidup sepakbola Brazil, Pele. Dalam suratnya, tercatat pula, dirinya mengantongi dukungan dari federasi sepakbola Palestina yang kiranya akan digunakannya untuk menarik simpatik negara-negara Islam yang menjadi anggota FIFA.

Kandidat terakhir yang tidak dapat diremehkan ialah Sexwale. Mantan aktivis penentang politik apartheid di Afrika Selatan ini pernah memainkan peran penting terkait agenda FIFA. Pria berusia 62 tahun tersebut merupakan salah satu inisiator jalinan komunikasi antara federasi sepakbola Israel dengan Palestina.

Dia juga pernah bertanggung jawab untuk mengentaskan isu rasial yang kerap dialami oleh para pesepakbola di berbagai liga dunia. Perannya yang tak kalah penting ialah Sexwale pernah menjadi salah satu komite pelaksanaan Piala Dunia di Afrika Selatan pada tahun 2010.

Modal Sexwale maju dalam seleksi Presiden FIFA ialah dukungan penuh dari federasi sepakbola Afrika Selatan dan beberapa negara besar di benua Afrika. Total, dirinya sudah mengantongi 54 dukungan dari negara-negara Afrika. Citranya sebagai aktivis penentang diskriminasi ras memukau negara-negara pendukungnya untuk mengentaskan persoalan rasis di dunia sepakbola.

Meski demikian, upayanya maju sebagai Presiden FIFA tidak disambut hangat oleh beberapa kalangan. Dirinya dianggap belum cukup mumpuni untuk menjadi salah satu kandidat Presiden FIFA. Terlebih, dirinya merupakan salah satu orang yang kerap membela Sepp Blatter kala mantan Presiden FIFA itu diterpa isu korupsi.

Kelima kandidat Presiden FIFA tersebut memang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Siapapun yang terpilih akan menjadi Presiden FIFA baru sejak 1998 Blatter menduduki tahta tersebut dan mendapat pekerjaan rumah yang begitu banyak, khususnya pengembalian kepercayaan publik akan transparansi pendanaan dan penyelenggaraan FIFA.

Tak hanya itu, di era modern ini, dunia sepakbola memiliki berbagai macam tantangan terkait peraturan-peraturan pertandingan yang harus bersinergis dengan teknologi. Selain itu, Presiden FIFA yang baru harus mampu meningkatkan dan mendorong kualitas sepakbola di berbagai negara berkembang dalam asuhannya. Tugas-tugas itu akan menanti Presiden FIFA baru. Publik sepakbola dunia pun berharap, terjadi perubahan besar di tubuh organisasi tersebut.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : BBC/The Guardian