Pemindai Identitas dari Suara Tengkorak Manusia

| dilihat 1986

AKARPADINEWS.COM | Kehadiran internet memberikan banyak perubahan pada kehidupan manusia. Kini, mayoritas orang memiliki berbagai macam akun di internet, mulai email hingga media sosial. Keseluruhan akun tersebut menjadi kepemilikian pribadi yang ada kalanya menyimpan data personal si empunya.

Untuk melindungi data pribadi yang ada di dalamnya, seseorang pasti akan membuat kata sandi (password) untuk mengaksesnya. Namun, keberadaan kata sandi itu seringkali menyulitkan si empunya akun lantaran lupa.

Sebagian orang berhasil mengakalinya dengan kata sandi yang amat mudah diingatnya. Tetapi, kata sandi yang terlalu sederhana rawan diretas orang lain. Untuk menyempurnakan kemampuan keamanan kata sandi, ilmuwan telah melakukan beberapa terobosan. Mulai dengan menggunakan tubuh manusia itu sendiri sebagai kata sandi untuk membuka akun pribadi yang dikenal dengan sistem keamanan biometrik.

Teknologi ini memungkinkan tubuh manusia menjadi kata sandi tanpa harus merangkai kode-kode, dari bahasa dan angka. Sistem keamanan kata sandi biometrik sudah lumrah digunakan saat ini. Salah satu jenis sistem keamanan ini terdapat pada varian ponsel pintar Iphone. Sistem kemanan Biometrik yang digunakan ialah pemindai sidik jari.

Teknologi itu menjadikan ponsel pintar Iphone menjadi sulit untuk diretas karena menggunakan sidik jari pemiliknya. Dengan begitu akan lebih aman. Ada lagi beberapa teknologi yang menggunakan pemindai sensor mata.

Kini, peneliti dari Jerman telah membuat terobosan baru perihal teknologi kata sandi, dengan menggunakan suara yang dihasilkan oleh tengkorak manusia. Tim peneliti tersebut berasal dari Universitas Stuttgart, Universitas Saarland, dan Institut Informatika Max Planck. Teknologi ini bernama SkullConduct.

Alat ini berbentuk menyerupai Google Glass, yakni kacamata dengan prosesor komputer di dalamnya. Pada alat ini terdapat mikrofon untuk merekam suara dan bluetooth yang menyambungkannya ke komputer. Selain itu, di dalamnya, SkullConduct memiliki pemancar sinyal ultrasonik.

Untuk memindai suara dari tengkorak manusia, teknologi ini menggunakan alat yang memancarkan sinyal ultrasonik ke kepala manusia. Sinyal itu akan menghasilkan suara dari tengkorak manusia dengan frekuensi tertentu sehingga tidak dapat terdengar oleh telinga manusia. Suara itu kemudian direkam oleh mikrofon yang terdapat pada SkullConduct.

Hasil uji coba yang dilakukan kepada 10 orang partisipan, menunjukkan, suara yang dihasilkan oleh tengkorak manusia berbeda satu dengan lainnya. Suara itu menunjukkan karakteristik yang menjadi identitas seseorang. Karakteristik itu yang kemudian diaplikasikan menjadi kata sandi atas akun pribadi. Dengan begitu, dapat mencegah seseorang meretas kata sandinya.

Suara tengkorak yang ditangkap SkullConduct akan melalui proses indentifikasi. Proses itu akan dilakukan dua kali sehingga akurasi suara yang ditangkap tidak dapat dipalsukan. Berdasarkan hasil ujicoba, SkullConduct cukup memuaskan. Alat tersebut dapat menangkap suara tengkorak manusia dengan persentasi hingga 97 persen.

Terobosan penggunaan suara dari tengkorakmanusia sebagai kata sandi merupakan temuan yang masih belum sempurna secara keseluruhan. Pasalnya, para peneliti masih belum memaksimalkan teknologi ini untuk berjalan pada lingkungan yang dipenuhi kebisingan. Saat uji coba, para peneliti menggunakan ruangan kedap suara untuk membuktikan bahwa teknologi ini bekerja.

Kelemahan kedua ialah untuk mengaplikasikan teknologi ini, diperlukan alat tambahan, seperti kacamata. Alat tambahan ini belum dapat dibuat dalam bentuk yang ringan dan ringkas. Sehingga, bila harus diaplikasikan pada ponsel pintar, seperti pemindai sidik jari, teknologi ini belum menjadi pilihan utama.

Lalu, para peneliti belum memastikan seberapa besar dampak radiasi dari sinyal ultrasonik yang keluarkan oleh SkullConduct kepada tubuh manusia. Tentunya, dampak radiasi ini harus dapat dihitung dan diantisipasi. Karena, alat ini langsung berinteraksi dengan tengkorak manusia yang di dalamnya terdapat otak. Bila terjadi radiasi yang dapat merusak atau mengganggu fungsi otak, kiranya teknologi ini dapat dipastikan tidak dapat digunakan oleh manusia.

Untuk itu, para peneliti tengah menyempurnakan teknologi SkullConduct sehingga dapat diproduksi secara massal dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Fokus utama yang dilakukan para peneliti ialah pada keringkasan dan dampak radiasi yang dihasilkannya.

Bila teknologi ini berhasil disempurnakan, mungkin tiap akun pribadi seseorang tidak perlu lagi menggunakan kata sandi berbentuk kata maupun angka. Hanya dengan mendekatkan ponsel pintar atau kacamata pintar, seseorang akan dengan mudah mengakses akun pribadinya tanpa harus repot mengingat kombinasi kode dan mengetiknya.

Selain itu, teknologi SkullConduct memiliki potensi akan menggantikan seluruh teknologi pemindai sidik jari yang kini marak digunakan diberbagai lini kehidupan sehari-hari, seperti absensi kantor. Dengan begitu, dapat dikatakan, SkullConduct akan menjadi alat pemindai identitas berdasarkan suara dari tengkorak manusia.

Muhammad Khairil

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : Science Alert/Gizmodo/New Scientist/Parent Herald/ The Verge/The Tech News/
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 284
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 232
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 175
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 249
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 190
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 677
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1601
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya